Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata [Bag.II]


Londa; Wisata Makam dan Tulang Belulang

Hari baru dimulai saat saya mengunjungi kompleks makam Londa. Obyek andalan Toraja ini hanya didatangi lima turis, sudah termasuk saya dan fotografer. Saya melewati sejumlah keranda dan tabela berukir yang dipenuhi tulang-belulang, lalu memasuki gua alami di rahim tebing batu. Penjaga makam menyulut petromaks dan mengantarkan saya memasuki lorong yang penuh liku. Panoramanya mencekam. Sisa-sisa jasad bertaburan...

Londa bagaikan sebuah sarkofagus gigantik. Saya mesti berhati-hati saat melangkah atau berpegangan pada dinding, seraya berharap petromaks tidak tiba-tiba padam kehabisan minyak. Langit-langit kemudian merendah hingga saya mesti merangkak. “Bagaikan beruang yang berpura-pura menjadi laba-laba,” tulis Lawrence Blair dulu saat memasuki makam di Toraja.

Dalam sebuah brosur kapal pesiar, Londa dipromosikan sebagai tempat yang menawarkan sensasi petualangan Indiana Jones. Di dalam gua, atmosfernya memang menegangkan. Tapi di luar, Londa adalah sebuah obyek yang dikemas rapi.

Di sekitar mulut gua, ada jalan setapak berbahan semen, toilet umum, beberapa tempat duduk. Sejauh mana kita boleh memodifikasi petilasan tua atas nama kenyamanan? Pertanyaan saya mungkin berlebihan. Keluar dari gua, lagu If Tomorrow Never Comes berkumandang dari toko suvenir dan memantul-mantul di dinding kapur.

Di atas mulut gua, tau-tau berbaris rapi seperti para bangsawan di balkon istana. Berbeda dari tau-tau yang dijual di Eropa, wujud mereka lebih modern. Dulu, totem ini lebih simpel: bertubuh gelap, memiliki iris kecil, berbalut kain polos. Dulu juga, tangan kanannya menengadah sebagai simbol kesejahteraan bagi keluarga yang ditinggalkan, sementara telapak kirinya menghadap ke sisi dalam sebagai tanda perlindungan. Setelah zaman jauh bergulir dan selera berubah, tau-tau dipahat lebih riil, lebih mirip manusia, sampai-sampai wajahnya tertangkap face detector kamera. Mereka tak ubahnya patung lilin di Madame Tussauds. Filosofi lama yang kaya makna, tergeser. Betapa Toraja telah berubah.
Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Gua-gua alami yang banyak tersebar di Toraja. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Rantepao; Salib Raksasa, Jalanan Rusak dan Kopi

Saya kembali mengarungi jalan. Di Rantepao, salib raksasa menjulang di atas bukit, seolah hendak membaptis kota ini dalam sinar Tuhan. Kota tetangga, Makale, sedang membangun patung Yesus. Jauh di kaki monumen-monumen suci itu, jalan-jalan rusak dan sampah berserakan.

Di Hotel Pison, saya berhenti untuk menyeruput kopi. Berbeda dari kopi Gayo yang menyetrum mata, kopi Toraja menyulut suasana melankolis, seolah merayu kita untuk mencomot buku dan merebahkan tubuh. “Lebih enak jika dibiarkan sejenak di cangkir. Mirip kain luntur yang dicelupkan ke ember, biarkan sampai lunturnya hilang,” jelas Eli, perintis Kaana Toraya, merek dengan status kultus di kalangan penggemar kopi. Dia memakai kata “Toraya,” istilah lawas yang hanya digunakan oleh sesama orang lokal.

Biji-biji kopi terbaik dipetik dari Perbukitan Awan dan Sapan. Dua perusahaan asing sudah lama mengeruk uang di sana. Di luar kopi, Toraja praktis tak punya mesin ekonomi yang mumpuni. “Tidak ada industri di Toraja. Hanya ada kopi,” ujar Aras Parura, seorang pemilik kafe di Rantepao. Fakta itulah yang menurutnya memicu gelombang eksodus warga, terutama di kalangan kaum terdidik yang menikmati berkah program Repelita Orde Baru.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Kalung tradisional yang terbuat dari taring babi atau hewan lain. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Perantau Toraja; Golongan Kaya Baru, Godaan Senikmat Kopi

Kopi menghangatkan malam-malam dingin, tapi kopi tak cukup memuaskan para sarjana muda yang penuh mimpi. Di saat yang bersamaan, investasi asing merambah Kalimantan, Papua, dan Jawa. Lapangan kerja terbuka lebar. 

Suku Toraja, kaum yang percaya leluhur mereka diturunkan dari bintang-bintang di angkasa, mendadak menemukan sumur uang baru untuk hidup mereka di dunia. 

“Penduduk Toraja paling 500 ribu,” kata Aras lagi, “tapi yang tinggal di luar lebih dari satu juta jiwa.” Tradisi merantau melahirkan golongan kaya baru. Di kampung halaman, kisah-kisah mereka menyebar secepat gosip artis. Godaan migrasi menular dari mulut ke mulut. 

Rumput tetangga terlihat semakin hijau. Anak-anak pun menghampiri bapaknya. Tetangga menyusul tetangga. Bagi mereka yang berada di kasta budak, merantau punya insentif yang lebih sukar ditampik: solusi untuk membuka lembaran baru di negeri seberang sebagai “orang merdeka.”

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Kristen adalah agama mayoritas di Toraja meski mereka memiliki agama tradisional Aluk Todolo. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Perantau Toraja; Masuknya Injil, Pergeseran Nilai Budaya & Negosiasi Status Sosial

Dampak merantau juga menyentuh domain ritual. Lagi-lagi, kita bisa melihatnya pada Rambu Solo. Ritual suci ini kerap berubah menjadi ajang unjuk kekayaan. Golongan kaya baru berusaha mendaki tangga mobilitas sosial dengan royal membeli kerbau, membangun Tongkonan, bahkan kasta. Status bangsawan yang tadinya diwariskan lewat jalur darah, kini hendak didapuk lewat lembaran rupiah. Tapi Rambu Solo semacam itu jauh dari ekspektasi turis. Mereka datang untuk menonton upacara yang digelar masyarakat tribal keturunan langit, bukan seremoni mewah yang didanai oleh kaum diaspora yang datang mengendarai Rubicon dan menggenggam iPhone. Betapa Toraja telah berubah. Toraja “dataran tinggi yang sakral,” tulis sebuah semboyan wisata.

“Salah satu penyebab utama perubahan adalah masuknya Injil,” kata Eric Crystal Lantang. “Aturan Aluk To Dolo dan dogma Injil kerap berbenturan.” Eric, seorang penganut Kristen, adalah keturunan dari raja besar Puang Sangalla. Dia menilai masuknya Injil lebih dari 100 tahun silam telah menggeser sendi-sendi budaya lokal. Dalam banyak catatan, konflik memang pecah antara gereja dan keyakinan pagan. “Pada 1985, sebuah gereja Protestan menyatakan tau-tau adalah sebuah isu besar yang merongrong gereja,” tulis Toby Volkman lagi dalam esainya, Toraja Culture and the Tourist Gaze. Gereja menolak hidup manunggal dengan keyakinan purba. Aluk To Dolo juga kian terjepit setelah pemerintah Orde Baru melakukan “perampingan” religi dengan mengakui hanya lima agama resmi.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Kostum penari tradisional Toraja. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Aluk To Dolo memang akhirnya selamat dari cap sesat usai dikategorikan sebagai “cabang” dari Hindu Bali, tapi proses desakralisasi sudah terlanjur bergulir dan adat kian tergerus. Eric, yang namanya diambil dari seorang peneliti Amerika, kini berusaha menjadi penengah antara agama samawi dan kepercayaan leluhurnya. Babad monarki sudah lama ditutup, tapi peran sosialnya sebagai bangsawan belum rampung. Melalui mimbar gereja, Eric mengajak warganya menyudahi benturan antara ajaran Kristen dan Aluk To Dolo. Dia percaya, solusi kompromi bisa tercipta di antara kedua kubu. “Dulu, tau-tau dilarang karena dianggap penyembahan terhadap berhala,” ujarnya. “Saya lalu jelaskan, tau-tau tak ubahnya foto, tapi tiga dimensi. Tujuannya untuk mengenang almarhum, bukan untuk disembah.”

Di Toraja, adat bagaikan kumpulan kaidah lawas yang rapuh. Tafsirnya ditentukan oleh generasi sekarang, oleh orang-orang yang menatap dunia dalam kacamata modern. Pertanyaannya, ketika banyak tau-tau lenyap, pastor memimpin ritual adat, budak duduk sederajat dengan bangsawan di bangku sekolah, dan atap Tongkonan diganti seng, masih relevankah Toraja “menjual” eksotisme budaya?

Barangkali saya yang keliru mencerna zaman. Toraja adalah sebuah kebudayaan yang bergerak, sebuah “living villages” tulis Kathleen Adams dalam Cultural Commoditization in Tana Toraja. Tak mungkin bagi kita mengharapkan Toraja membeku dalam waktu layaknya sebuah artefak dari zaman purba. Lagi pula, kebudayaan Toraja sejak awal tak pernah dikemas sebagai atraksi wisata. Rambu Solo adalah acara privat keluarga. Tau-tau juga milik keluarga, begitu pula makam dan Tongkonan. Orang Toraja berhak memutuskan sejauh mana mereka hendak mengubah apa yang mereka punya.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Staf Toraja Heritage Hotel di tepi kolam dengan latar struktur berarsitektur tongkonan yang berisi kamar tamu. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Semangat Baru Pariwisata Toraja

Namun, bukan berarti harapan sudah pupus bagi pariwisata. Asa masih ada. Dalam transisi besar yang membasuh dataran tinggi ini, turis menangkap pesona lain yang selama ini terpinggirkan oleh tema-tema besar “kematian.” Sebuah survei yang didukung LSM Swisscontact pada Agustus 2014 mendapati, turis justru mencantumkan “alam” sebagai daya tarik terbesar Toraja. Prosesi kematian yang selama ini menjadi mantra pemikat, jatuh ke peringkat kedua. Pelancong ternyata lebih menyukai lanskap elok yang terhampar di balik Tongkonan dan tebing-tebing makam.

Swisscontact hadir di Toraja guna mendukung kinerja DMO (Destination Management Organization), semacam tourism council yang beranggotakan para pemangku kepentingan lokal. Luther Barrung, mantan Direktur Pemasaran Kementerian Pariwisata, didaulat sebagai pemimpinnya. Generasi muda seperti Yohan Tangkesalu, General Manager Misiliana Hotel, duduk di struktur pengurus. Bahkan figur bersuara lantang sekaliber Eric Crystal turut terlibat. Setelah sekian lama didikte oleh suku tetangga mereka di selatan, nasib pariwisata Toraja kini berada di tangan warganya sendiri.

Selain survei, DMO merumuskan logo baru pariwisata. Tahun ini, mereka bakal mengikuti bursa pariwisata di Bali, melakukan pemetaan ulang obyek, menciptakan situs wisata, juga mencetak peta dan brosur-brosur baru. “Diversifikasi produk kini sedang digarap. Toraja butuh banyak inovasi baru,” ujar Tri Laksono, Project Officer for Destination Development Swisscontact.

Di bawah panji DMO, Toraja bersiap menulis lembaran baru: menjadi destinasi bagi para petualang alam, bukan cuma peziarah. Kelak, turis melancong ke sini bukan semata untuk menonton Rambu Solo atau menembus gua makam, melainkan untuk menjelajah sawah, trekking ke kebun kopi, atau bermain arung jeram. Awalnya bersandar pada kematian, Toraja kini berharap pada kehidupan —pada padi yang tertiup angin, biji-biji kopi yang ranum, sungai yang tak lelah mengalir.


Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Bus eksklusif yang melayani transportasi dari Makassar ke Toraja. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Bagaimana Menuju Toraja;

—Rute
Toraja bisa dijangkau dari Makassar dengan menaiki bus. Salah satu operatornya, Primadona (Jl. Perintis Kemerdekaan Km.13, Ruko Bukit Khatulistiwa Blok B/8, Makassar; 0811-4497-212), memiliki bus mewah dengan kursi yang menyerupai kelas bisnis pesawat. Ada dua jadwal keberangkatan: pukul 21:00 dan tiba pukul 06:00, atau pukul 09:00 dan tiba pukul 18:00. Pesawat sebenarnya tersedia, tapi jadwalnya kadang direvisi mendadak. Aviastar (aviastar.biz) melayani penerbangan dari Makassar menuju Bandara Pongtiku dua kali per minggu.

—Penginapan
Selain menawarkan 134 kamar yang disebar dalam bangunan berbentuk tongkonan, Toraja Heritage Hotel (Jl. Kete Kesu, Rantepao; 0423/211-92; toraja-heritage.com) memiliki kolam renang yang fotogenik, serta menawarkan akses mudah ke desa-desa adat. Berdiri di atas lahan seluas delapan hektare, Misiliana Hotel (Jl. Pongtiku 27, Rantepao; 0423/212-12; torajamisiliana.com) menaungi dua kolam renang, ballroom, restoran, spa, serta 98 kamar. Hotel ini juga menawarkan pengalaman homestay: menginap di tongkonan tua yang telah disulap menjadi suite.

—Makan & Minum
Restoran terbaik umumnya hanya terdapat di hotel. Salah satu yang berhasil menembus dominasi itu adalah Mambo (Jl. DR. Sam Ratulangi 34, Rantepao; 0423/211-34; mamborestaurant.co), restoran yang menyuguhkan beragam menu, termasuk masakan lokal pa’piong dan pamarrasan. Sarang hangout populer di kalangan turis, Café Aras (Jl. A. Mappanyukki 64, Rantepao; 0823-9627-5688), menawarkan bangunan yang sejuk di tengah kota Rantepao yang bising. Bagi penikmat kopi, dua tempat yang layak didatangi adalah Warung Kopi Toraja (Jl. Poros Makale, Rantepao; 0852-4824-7654) dan Hotel Pison (Jl. Pongtiku 2 No.8, Rantepao; 0423/213-44).

—Aktivitas 
Situs-situs tua masih menjadi obyek andalan di peta wisata. Untuk menyaksikan menhir, pergilah ke Rante Kalimbuang di Bori’. Di Londa, kita bisa memasuki makam gua, sementara di Lemo kita bisa menyaksikan tau-tau dalam desain orisinal. Kampung adat yang paling tersohor, Kete’ Kesu’ lazim dijadikan tempat upacara-upacara besar. Dibandingkan desa adat lain, Buntu Pune’ relatif masih autentik. Kala di sini, carilah Marla, sarjana arkeologi yang lancar bercerita tentang kebudayaan Toraja, termasuk tentang benteng di samping desanya.

Desa-desa tenun terpusat di sisi timur laut, salah satunya Sa’dan To’ Barana. Bawa uang tunai jika ingin berbelanja. Jika ingin menyerap panorama Toraja yang paling karismatik, pergilah ke Batutumonga. Bawalah sepatu trekking, karena Anda pasti tergoda untuk mengarungi sawah dan lembah hijaunya.

—Informasi 
Menyewa pemandu adalah metode terbaik. Tapi jika ingin berwisata secara mandiri, Anda bisa menyewa mobil, kemudian menggali informasi dari pihak DMO (visittoraja.com) atau Swisscontact (Jl. Makula’ Tampo, Sangalla, Makale Utara; 0423/264-43; swisscontact.or.id). Peta wisata baru belum dicetak, tapi versi lamanya masih tersedia di kantor Dinas Pariwisata Toraja Utara (Jl. Ahmad Yani 62A, Rantepao; 0423/212-77). Rambu Solo umumnya digelar di tengah tahun. Upacara kematian ini menampilkan prosesi pengorbanan kerbau dan babi. Tamu sepatutnya memberikan sesuatu kepada keluarga almarhum. Idealnya, berupa seekor babi, tapi kita bisa menggantinya dengan satu slof rokok atau beberapa kilogram gula pasir. Siapkan pakaian hitam jika ingin hadir.


____________________

Oleh: Cristian Rahadiansyah

Foto oleh: Suryo Wibowo




Sumber: DestinAsian

Foto: Ma'Nene - Baju Baru untuk Mumi Leluhur Suku Toraja

Ritual Ma’nene, Tradisi Unik dari Tana Toraja
Anggota keluarga memegang mumi leluhur mereka sebelum memasangkan pakaian baru dalam ritual Ma'nene di Toraja, Sulawesi Selatan (23/8/12). Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad
Ritual Ma’nene', Tradisi Unik Suku Toraja

Salah satu keunikan tradisi kebudayaan suku Toraja di Sulawesi Selatan adalah ritual membersihkan dan mengganti pakaian jenazah/mumi para leluhurnya. Ritual ini dikenal dengan nama, Ma'nene'. Dalam beberapa postingan di internet ritual unik ini sering ditafsirkan salah, sehingga tidak sedikit yang beranggapan bahwa ritual Ma'Nene' merupakan ritual mayat berjalan. Ritual Ma'Nene' sama sekali bukanlah ritual mayat berjalan yang banyak dibicarakan (dan dipertanyakan) itu. Saat ini sulit untuk menemukan saksi hidup yang benar-benar bisa memastikan 'legenda' mayat berjalan ala Toraja, berbeda halnya dengan ritual Ma'Nene' yang bisa anda saksikan langsung di Baruppu (jika anda beruntung berada di lokasi saat ritual dilangsungkan).

Jenazah-jenazah dalam peti yang telah 'dikubur', diletakkan dalam liang gunung batu ataupun di dalam patane (juga kuburan khas Toraja berbentuk bangunan). Oleh sebagian masyarakat suku Toraja —khususnya di kawasan Baruppu, Toraja Utara— meyakini bahwa jenazah itu menjadi bagian tidak terpisahkan dari kerabat keluarganya yang masih hidup. Itu sebabnya di kawasan ini, sebagian keluarga intens memperhatikan jenazah kerabatnya, setidaknya setiap 3 tahun sekali dibersihkan. Ritual yang disebut Ma'Nene' ini dilakukan dengan cara mengeluarkan jenazah (yang telah dimumikan) dari peti untuk dibersihkan. Pakaian lama yang digunakan sang jenazah, digantikan dengan pakaian yang lebih baru.

Dibilang unik dan khas, mengingat ritual Ma'Nene' dilakukan hanya oleh sebagian kecil masyarakat Toraja di wilayah Pangala' terutama di Baruppu' dan Lempo Poton, daerah pedalaman Toraja Utara. Ritual Ma'Nene' dilakukan setiap 3 tahun sekali dan biasanya dilakukan pada bulan Agustus. Mengapa pada bulan tersebut? Karena upacara Ma'Nene' hanya boleh dilaksanakan setelah musim panen. Musim panen di Toraja biasanya jatuh pada bulan Agustus.

Masyarakat adat Toraja (khususnya di Baruppu') percaya jika ritual Ma'Nene' tidak dilakukan sebelum masa panen, maka sawah-sawah dan ladang mereka akan mengalami kerusakan dengan banyaknya hama yang datang tiba-tiba.

Setiap tiga tahun sekali kuburan leluhur mereka sengaja dibuka dan dikeluarkan dari peti, untuk didandani. Uniknya, jasad ini masih tetap utuh (seperti mumi di beberapa kebudayaan kuno lainnya). Menurut kepercayaan setempat, arwah para leluhur mereka masih 'hidup' dan mengawasi keturunannya dari 'tempat' yang lain.

Sebelum dibuka dan diangkat dari peti, para tetua yang biasa dikenal dengan sebutan Tominaa, membacakan doa-doa dalam bahasa Toraja Kuno. Setelah itu, mayat tersebut diangkat dan mulai dibersihkan dari atas kepala hingga ujung kaki dengan menggunakan kuas atau kain bersih. Setelah itu, barulah mayat tersebut dipakaikan baju yang baru dan kemudian kembali dibaringkan di dalam peti tadi. Dalam ritual tersebut, mayat yang telah dikeluarkan dari peti akan dibersihkan dan didandani layaknya pergi ke sebuah pesta meriah. 

Menurut cerita, ritual ini terinspirasi dari kisah nenek moyang mereka ratusan tahun lampau, Pong Rumasek seorang pemburu binatang, saat tengah berburu di hutan belantara, ia menemukan sesosok mayat tergeletak dan mengenaskan. Pong Rumasek tergugah, ia membawa pulang mayat itu, lalu membersihkan dan memberi pakaian bersih yang digunakannya. Sejak itu, setiap kali berburu, selalu mendapat banyak binatang buruan. Bahkan selalu mendapat buah segar yang berlebihan. Perkebunan dan persawahan milik masyarakat di kampungnya pun selalu menuai hasil panen yang melimpah ruah.

Sejak itulah Pong Rumasek menyadari bahwa merawat orang yang telah meninggal dunia, tidak jauh lebih mulia dari merawat kekerabatan dengan orang yang masih hidup. Paham Pong Rumasek secara turun temurun sekian abad diyakini dan diterapkan masyarakat suku Toraja, khususnya di Baruppu', sebuah kampung yang kini masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Toraja Utara. 

Selain ritual pesta kematian, ritual Ma'Nene' ini, juga menjadi daya tarik pariwisata khas suku Toraja yang jarang ditemukan (atau mungkin satu-satunya di dunia). Itu sebabnya, setiap kali ritual Ma'Nene' dilaksanakan menjadi magnet yang menarik kerumunan wisatawan dalam dan luar negeri, hadir menjadi saksi nyata keunikan sebuah tradisi yang masih terpelihara.

Berikut beberapa foto dokumentasi ritual Ma'Nene di Toraja yang dilansir Tempo Foto:

Ritual Ma’nene, Tradisi Unik dari Tana Toraja
Sesosok mumi dibaringkan di peti jenazah di depan bangunan kuburan (Patane) setelah pihak keluarga memakaikan pakaian baru dalam sebuah upacara adat Toraja yang disebut Ma'nene di Sulawesi Selatan (23/8). Ritual ini biasa dilakukan setiap tiga tahun sekali terhadap leluhur mereka yang telah dimumikan ketika meninggal dunia. Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad
Ritual Ma’nene, Tradisi Unik dari Tana Toraja
Seorang perempuan berdiri di depan kuburan batu yang disebut 'Liang' dalam ritual Ma'nene di Toraja, Sulawesi Selatan (23/8). Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad
Ritual Ma’nene, Tradisi Unik dari Tana Toraja
Seorang anggota keluarga mengeluarkan mumi leluhurnya dari dalam peti jenazah sebelum memakaikan pakaian baru dalam ritual Ma'nene di Toraja, Sulawesi Selatan (23/8). Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad
Ritual Ma’nene, Tradisi Unik dari Tana Toraja
Beberapa peti jenazah berisi mumi di dalam bangunan kuburan yang disebut Patane, ketika berlangsung ritual Ma'nene di Toraja, Sulawesi Selatan (23/8). Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad
Ritual Ma’nene, Tradisi Unik dari Tana Toraja
Sesosok mumi dibaringkan di peti jenazah setelah pihak keluarga memakaikan pakaian baru dalam sebuah upacara adat Toraja yang disebut Ma'nene di Sulawesi Selatan (23/8). Ritual ini merupakan bentuk penghormatan dan cinta warga Toraja kepada leluhur mereka. Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad

Sekilas tentang Suku Toraja dan Rambu Solo

Toraja adalah salah satu suku yang berdiam di daerah pegunungan Quarles bagian utara pegunungan Latimojong, wilayah utara dari Provinsi Sulawesi Selatan. Tepatnya di Kabupaten Tana Toraja, yang kini sebagian wilayahnya dimekarkan menjadi daerah otonom baru, yakni Kabupaten Toraja Utara. 

Suku Toraja yang bermukim di dua kabupaten yang memiliki hawa dingin ini, dominan penganut agama Nasrani, setelah jauh sebelumnya adalah pengikut animisme yang didasarkan pada ajaran dianut nenek moyang mereka ribuan tahun lalu, yang oleh suku Toraja disebut “Aluk Todolo” (kebiasaan, ajaran, paham dan keyakinan orang-orang terdahulu).

Meskipun saat ini sebagian besar masyarakatnya tidak lagi menganut keyakinan yang diwariskan dari nenek moyang mereka, tetapi nilai dan ajaran “Aluk Todolo” tetap dipegang teguh dan dilestarikan dalam kehidupan bermasyarakat. Misal diantaranya, sekalipun masyarakat suku Toraja telah mengikuti ajaran Nasrani, tetapi tradisi “Aluk Todolo” yang mengagungkan kematian kerabat yang meninggal dunia tetap dipertahankan dan dilestarikan hingga kini. Itu sebabnya upacara kematian bagi keluarga yang meninggal dunia, disebut “Rambu Solo”, jauh lebih meriah bila dibandingkan upacara pernikahan sanak keluarga.

Kematian bagi masyakat suku Toraja, adalah inti dan puncak pencapaian kehidupan paling agung menuju keabadian di “Puya” (Surga/Nirwana bagi kepercayaan suku Toraja). Itulah sebabnya, sebelum menuju ke mahligai nirwana di “Puya”, pemakaman jenazah menjadi momentum paling sakral dalam perjalanan hidup di muka bumi ini. Bagi Suku Toraja kematian seolah sebuah pemahaman bahwa “hidup manusia adalah untuk mati” menuju alam keabadian. Guna mencapai ketenteraman di “Puya”, setiap arwah harus melakukan pembersihan diri sebagai penebus dosa. Untuknya, setiap jenazah yang akan dikubur, sedapat mungkin diberi "bekal" sebanyaknya sesuai kemampuan keluarga.

Bekal dimaksud adalah roh sejumlah hewan yang dikurbankan pada saat upacara pemakaman “Rambu Solo” dilaksanakan. Roh sejumlah hewan yang dikurbankan itu diharapkan mampu mengiring-iringi arwah si mati menuju “Puya”. Semakin banyak jumlah hewan dikurbankan semakin sempurnalah perjalanan menuju keabadian. Semakin tinggi derajat kasta jenazah, semakin tinggi pula hewan dikurbankan. Itu sebabnya, upacara kematian suku Toraja, kadang menghabiskan dana milyaran rupiah. Bagi mereka yang belum mampu, jenazah kerabatnya di-“mumi” sementara waktu di rumah, hingga saatnya kerabat mampu mengumpul dana untuk melangsungkan upacara "Rambu Solo".

Upacara kematian “Rambu Solo” yang kadang menghabiskan anggaran Milyaran rupiah — yang kini bergeser diartikan derajat dan gengsi keluarga — berhari-hari berlangsung meriah selama sekian pekan, siang maupun malam. Uacara ini selain disertai nyanyian-nyanyian duka “ma’badong”, do’a-do’a ratapan, juga ditampilkan musik dan ragam tarian tradisional untuk menghibur kerabat keluarga yang sedang berduka, yang tak habis-habisnya berdatangan menyampaikan belangsungkawa, baik mereka yang bermukim di Tana Toraja, maupun yang jauh-jauh datang dari negeri rantau. Entah dari dalam ataupun dari luar negeri.

Penguburan mayat, pada saatnya akan dilakukan sesuai kesepakatan keluarga. Mayat yang dimakam, sebagian besar adalah jenazah yang sekian bulan atau sekian tahun dirawat di rumah, setelah sebelunya di-“mumi” melalui ramuan tradisional khas Toraja, sehingga fisik jenazah tetap utuh seperti sediakala semasa hidup. Diselimuti pakaian baru secara lengkap, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dimasukkan ke dalam peti yang terbuat dari jenis kayu tahan lama. Mayat dalam peti, diusung segenap keluarga menuju pekuburan liang gunung batu yang telah disiapkan. Peti berisi mayat di letakkan di atas gundukan batu dalam liang.

Pekuburan liang di tebing pegunungan batu, tersebar di sepanjang wilayah Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara. Setiap lokasi dapat disaksikan peti-peti berisikan mayat atau tengkorak manusia bergelimpangan. Pekuburan dimaksud itulah yang menjadi salah satu objek wisata (yang mungkin) terunik di dunia yang tak henti-hentinya mendapat kunjungan wisatawan nusantara dan manca negara. Selebihnya karena selain cuaca Tana Toraja yang sejuk-dingin, juga karena pemandangan alam pegunungannya yang indah, serta rumah tradisonalnya yang khas, pula karena kehidupan masyarakatnya kebanyakan masih tradisionil, khas dan unik.


Semoga bermanfaat... 



Travendom: Toraja, Habis Gelap Terbitlah Terang

Travendom: Toraja, Habis Gelap Terbitlah Terang
WELCOME TO TORAJA  |  TAU-TAU
Manusiawi sekali jika ada orang Jakarta yang tak begitu antusias melipir ke Pulau Seribu, atau orang Bali yang belum pernah ke Nusa Penida, atau bahkan orang Papua yang sama sekali tidak tertarik ke Raja Ampat. Saya sendiri pernah berdomisili di Makassar namun tak terbesit keinginan sedikitpun untuk melancong ke Tana Toraja. Tak perlu ditentang, ini masih masuk akal. “Kan saya tinggal disini, nanti saja kapan-kapan.” Begitulah kira-kira kalimat standar yang sanggup menjinakkan hasrat.

Saya pernah bertemu dengan segerombolan turis Belanda yang mati-matian menabung demi bisa membeli tiket pesawat Amsterdam - Makassar via Denpasar. Jangan tanya sejak kapan mereka mulai gemar menyimpan uang di kaleng Khong Guan, saya rasa saat para mantan koloni itu mulai mengetahui jika mayat orang Toraja bisa berjalan sendiri ke kuburan mereka.

Zein without Maher, pemuda lajang asal Jogja ini rela datang dengan berbagai harapan. Saya, Ahlul, dan Ran yang diutus Tuhan sebagai teman jalan si bocah perawan bahagia bukan kepalang. Pertama, Zein ini temannya Ahlul, lalu karena alasan ingin memangkas krisis kantong tipis, saya dan Ran diajak melibatkan diri. Kedua, ini sudah pasti menjadi kunjungan pertama beta, Ran, dan Zein ke Toraja. Sedangkan Ahlul, entah kapan ia terakhir kesana, tapi ia masih mengingat jelas urutan kabupaten yang akan dilewati setelah bertolak dari Makassar. Ketiga, semua mimpi ini takkan pernah jadi nyata jika Ahlul dan Zein tak pernah berteman sebelummnya. Puji Tuhan!

Kami berangkat ke Toraja dengan bus bersuspensi udara yang super worth it. Butuh 8 jam perjalanan, duapuluh juta topik obrolan, satu jam perjuangan menahan mual, 3 bar lampu daya power bank sebagai genset pecinta gadget, dan secercah harapan untuk bisa tiba di kota Rantepao. Sekedar diketahui, Ibukota kabupaten Tana Toraja sendiri berada di Makale, namun pusat perekonomian dan jantung pariwisata lebih kelihatan menggeliat di kota Rantepao.

Pembaca yang terhormat, tahukah kalian jika kami telah bersepakat akan tinggal sehari disana, di hotel alakadarnya, dengan menyewa motor warga yang belum jelas keberadaannya, dan pulang dengan keadaan bahagia tak terkira? Percuma, kami terpaksa menelan mentah-mentah saran ibunda Ahlul yang membungkam kebebasan berekspresi kami. Ya, beliau pernah lama tinggal disana. Kami diyakinkan agar menuntaskan semua destinasi di wish list dalam sehari saja. Setelah itu, pulanglah ke Makassar dan jangan membantah. Baiklah, bukankah suara ibu adalah suara Tuhan?

Travendom: Toraja, Habis Gelap Terbitlah Terang
KE'TE KESU  |  RAMBU SOLO'
Tak ada adegan memicingkan mata saat pertama kali tiba di Toraja. Maklum, jalan spiral trans Sulawesi disepanjang Enrekang masih meyisakkan mual tak terkira. Kami hanya butuh lima menit untuk bersepakat rute pertama segera dimulai dari mana. Masjid! Hanya di tempat ini semua hajat besar dapat dilaksanakan. Malang rupanya, pagar masjid tertutup rapat, madrasah di sampingnya pun sedang libur. Tak ada toilet untuk kalian, wahai pengembara tua bangka!

Rencana merental motor pun kami ganti dengan saweran menyewa satu mobil, termasuk supir, bensin, guide, merangkap kamus Torajapedia. Pak Ela membuat kami kagum akan keramahan beliau, katakanlah dia tahu menempatkan diri sebagai pemandu sekaligus tuan rumah yang baik. Semoga Tuhan berkati bapak.

Saya harus memulai kisah ini dari Kete’ Kesu, semacam kompleks rumah adat yang terdapat Tongkonan lengkap dengan Alang Sura, alias Tongkonan berukuran kecil yang berfungsi sebagai tempat lumbung padi. Dibelakang kompleks ini terdapat makam leluhur orang Toraja, Kubur Gantung. Untuk menuju kesana cukup dengan berjalan kaki melewati beberapa menhir, tau-tau (patung yang dipahat berbentuk manusia), dan tengkorak yang diletakkan di dinding-dinding tebing.

Jujur, saya tak begitu antusias dengan tempat ini, mungkin karena terlalu touristy bagi para pelancong. Saya bahkan lebih terkesan dengan ritual Rambu Solo yang kita jumpai setelah dari Kete’ Kesu. Ini seperti halnya saya lebih takjub berjumpa dengan Ban Ki-moon dibanding Pokemon. Rambu Solo adalah ritual kematian super meriah yang menelan banyak biaya. Hari itu, Pak Ela berinisiatif mengantar kami ke salah satu keluarga yang sedang melangsungkan upacara ini. Beruntung, oleh seorang ibu yang mengaku sebagai keluarga berduka, malah menyambut kami dengan sangat ramah. Ramah sekali.

“Duduk saja disini, ini sebenarnya panggung keluarga inti, tapi tak mengapa, kalian ini tamu, dan tamu selalu membawa berkah. Silakan menikmati, saya pamit tinggal sebentar.”

Lima menit berikutnya wajah sumringah kami menjadi lemas. 30 ekor kerbau persembahan ditebas dengan parang sepanjang lengan. Saya menutup mata, darah segar tempias dari lehernya, ia melompat, kejang-kejang, lalu tumbang. Satu, dua, belasan, hingga kerbau ke berapa puluh itu dipersilakan maju menjemput maut. Ini memang ritual, tapi tak ada salahnya meminjam istilah Ahlul. Ini seperti genosida, teman.

Travendom: Toraja, Habis Gelap Terbitlah Terang
BABY GRAVES KAMBIRA  |  KUBUR GANTUNG KE'TE KESU'
Lepas tu kami nak ke Baby Graves di Kambira, I never knows about this place anyway, make sure riwayat tempat camni pun I takde buat, even tengok kat Wikipedia pun tidak. Nah, nyatanya ini salah satu tempat femes. You pernah dengar about kuburan kat pohon, ke? Inilah! Dahulu, bilamana ada bayi yang lahir dan meninggal sebelum tumbuh gigi, dia akan dimakamkan disini, ditanam di dalam pohon khusus ini. Konon, jika rumah duka menghadap timur, kubur harus menghadap ke barat. Tujuannya supaya bayi tenang diasuh pohon Tarra’ dan tak minta pulang ke rumah dukanya.

Setelahnya, kami diajak masuk ke satu Tongkonan modern yang  dimiliki beberapa keluarga sekaligus. Seperti biasa, diseberang Tongkonan utama selalu menjulang Alang Sura.  For your information, satu Tongkonan mampu menampung empat keluarga besar, untuk hitungan ideal tiap pasang suami-istri memiliki 3 orang anak. Kali ini, saya memutuskan tidak membahas panjang lebar perihal motif ukiran, filosofi, hingga makna tanduk kerbau yang disusun pada tongkonan. Sudah banyak artikel yang membahas tentang ini, semoga kau menemukan pencerahan di tempat lain, nak.

Saya lupa persis nama guide yang menemani kami siang itu, tapi ia menawarkan wisata paling fantastis setelah saya bertanya tentang mumi Toraja. “Ada tante saya yang sudah meninggal setahun lalu tapi sampai hari ini belum dibuatkan upacara pemakaman. Rumah duka tak jauh dari sini, mari saya antar, tapi bersikaplah biasa, karena kami selaku orang Toraja percaya bahwa mayat yang belum dikubur adalah orang sakit yang harus dilayani.” Kami diam seribu bahasa.

Mendengar kata mumi, pikiran pasti melayang ke sosok Fir’aun, si jahat berhati batu yang lebih durhaka dari Malin Kundang si kacang lupa kulit. Bedanya dengan ini, mayat sengaja diawetkan dan dirawat layaknya orang sakit, dengan keterlibatan semua keluarga yang bahu-membahu mencurahkan kasih sayang, karena yang meninggal ternyata ‘masih sakit’, dan tak pernah menentang Tuhan. Siapapun kamu, akan membuang jauh-jauh rasa takut, dan angkat topi untuk tradisi yang paling sakral ini. Saya pribadi, menaruh hormat untuk sang ‘tante’ yang telah berpulang, dan memberi dua jempol untuk keluarga sederhana yang sangat mulia.

Kami melanjutkan perjalanan ke Suaya, menurut Pak Ela, situs ini mirip seperti pemakaman batu yang terletak di Londa, tapi karena kami anti mainstream, ia menawarkan rajanya Londa, Suaya King’s Grave. Sudah pasti tempat dan atraksi wisata di Toraja tak akan jauh-jauh dari mayat, tengkorak, makam, kerbau, darah, dan batu. Bijaklah jika you nak bercuti kat sini with limited times, pilih satu je yang korang nak interest. For example, bilamana korang nak tengok Marcel Chandrawinata, tengok je Mischa, sebab tu sama je.

Ahlul merayu Pak Ela agar beliau mau mengantar kami ke Batutumonga, sebuah destinasi wisata alam yang berada di lereng gunung Sesean, yang juga menurut Ahlul masih terdapat bebatuan purbakala peninggalan nenek moyang Toraja. Malang, Pak Ela menolak dengan halus karena alasan cuaca dan terbatasnya waktu yang kami miliki. Masuk akal, kami harus kembali ke Makassar jam 9 malam, otomatis harus standby elegan di stasiun bus satu jam sebelumnya, dan perjalanan dari Suaya ke Batutumonga memakan paling kurang 4 jam return, sedangkan saat itu sudah pukul 3 siang, jelas kami tak akan ambil risiko.

Travendom: Toraja, Habis Gelap Terbitlah Terang
SUAYA KING'S GRAVE | PERKAMPUNGAN ADAT
Tak kekurangan akal, Pak Ela kembali melakukan terobosan membosankan, kami di ajak ke Lemo, tak lain dan tak bukan adalah ke kuburan batu (lagi). Saya memilih istirahat selama perjalanan, entah apa yang tiga serangkai lakukan di jok belakang, semoga Tuhan memberkati. Melihat kami tak begitu antusias begitu tiba di Lemo, Pak Ela bergegas ke mobil, menginjak pedal dan membawa kami lekas pergi dari objek wisata yang sama persis dengan Suaya King’s Grave dan Londa. Batu.

Kali ini saya tak bisa menemukan jati diri, yang selalu sigap saat trip tak sesuai kehendak, yang sering melahirkan ide aneh ketika sebuah destinasi tak menjual apa-apa. Maaf pemirsa, ini karena kami berempat sudah mempercayakan segala rahasia Ilahi ke pundak Ela Lopez, sebuah nama samaran yang muncul begitu saja dari pojok belakang kepala beta.

Taruna tua menerbangkan segala debu dari jalanan gersang, memberitahu kami jika infrastruktur tidak pernah dinomor satukan. Kondisi seperti ini hampir terjadi di seluruh wilayah di luar kota Rantepao, yang padahal menjadi kantong-kantong penyokong pariwisata. Ah, kekesalan makin beranak-pinak ketika nasi goreng pesanan saya mengandung dua genggam garam dapur produksi Laut Mati Jordania. Asin sekali.

Ela tetap tenang memandang kedepan, kakinya naik-turun mengatur kecepatan, sengaja ia mengundang sejuknya angin memeluk kami yang kelelahan. Mobil dipacu ke sebuah pemukiman adat di perbukitan granit, kami disambut teduhnya sungai Saddang yang kecoklatan. Sawah dengan embun segar dibawah sana, menyambut matahari yang berusaha undur diri. Lihat, pemandangan seperti ini bahkan terasa lebih damai dibanding membaca pesan dari orang yang pura-pura sayang. Ups, beta kecoplosan.

Tak ada atraksi wisata selama di kampung adat ini, tapi kami menemukan wajah lain dari Tana Toraja yang terlanjur dikenal akan ritual kematian. Disini, air mengalir jernih di selokan, bunga dan rumput  berlomba siapa yang lebih tinggi, aroma segar batang pohon memenuhi tiap sudut jalan. Disinilah letaknya kehidupan, harapan, dan alam warisan nenek moyang yang mampu berjalan beriringan dengan hebohnya upacara kematian. Sudah tentu, selain lebih sakral dibanding selamatan kelahiran atau acara kawinan, ini juga merangkap barometer status sosial sejak era Hawa dan Adam. Mungkin.

Kami kembali ke Rantepao ketika langit tak lagi biru, Ela mengucapkan salam perpisahan beserta doa agar kami selamat tiba di tujuan. Masjid, target pertama sejak pertama datang kini telah membuka pintunya lebar-lebar. Usai sholat maghrib, kami harus angkat kaki saat segerombolan ibu-ibu penumpas fakir colokan memberi kode lewat meja arisan yang siap didekorasi. Kami terpaksa mengadu lapar di sebuah kedai ayam goreng lokal yang berusaha berdandan internasional.

Sebelum naik ke bus, saya seperti tak ingin pulang, pergi meninggalkan kota kematian yang sanggup memberi penghidupan. Toraja, kalau bukan karena Tongkonan, jika tak ada kematian, bila bukan karena nenek moyang, kau tak ubahnya pedalaman yang kekurangan perhatian, yang keperawananmu dikendalikan pemerintahan, yang akan mengadu keadilan pada orang-orang seperti kami, para pejalan yang berjanji mengabarkan ke seluruh dunia jika kau kau hidup serba kekurangan.

Toraja, jika bisa menitipkan sepenggal kerinduan, saya ingin tinggal saja di dalam pohon Tarra’, atau menjadi penjaga Pallawa. Kau berhasil menyelipkan putih diantara hati yang menghitam. Karena harus saya akui, hanya disini, habis gelap terbitlah terang!

Travendom: Toraja, Habis Gelap Terbitlah Terang
Penulis dan rekan-rekan. Foto: Travendom

#NB: Artikel ini sebelumnya diposting di situs Travendom (*sumber). Guna memperkenalkan kekayaan khasanah Budaya Toraja kepada khalayak, maka artikel ini kami posting kembali. Salam

Foto dan Naskah berasal dari sumber yang sama.

”Saleko” Kerbau Seharga Satu Miliar Rupiah di Toraja

”Saleko” Kerbau Seharga Satu Miliar Rupiah di Toraja
Kerbau jenis saleko adalah kerbau termahal dalam lingkungan budaya di Toraja. Ciri khasnya adalah tanduk kuning, lingkaran putih di bola mata, serta berkulit hitam dan putih. Tingginya harga bergantung pada kelangkaannya. Harga per ekor bisa mencapai lebih dari Rp 1 miliar. Foto: KOMPAS/ARBAIN RAMBEY
Di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, seekor kerbau bisa berharga lebih dari satu miliar rupiah. Namun, kerbau semahal ini bukanlah kerbau biasa alias kerbau langka. Dan, jenis yang bisa mencapai harga Rp 1 miliar adalah jenis yang disebut ”saleko” dengan ciri fisik tanduk kuning, lingkaran putih di bola mata, serta kulit berwarna hitam dan putih dalam kombinasi-kombinasi tertentu.

Saleko sangat langka. Seekor saleko jantan yang dikawinkan dengan seekor saleko betina belum tentu melahirkan anak saleko, bahkan dalam puluhan kali kelahiran pun. Sebaliknya, saleko bisa muncul dari perkawinan sepasang kerbau biasa.

”Saleko” Kerbau Seharga Satu Miliar Rupiah di Toraja
Bagaimanapun kerbau gemuk lebih mahal daripada yang kurus. Maka, kerbau-kerbau di Toraja dipaksa makan oleh pemiliknya untuk menaikkan beratnya, seperti terlihat di Pasar Bolu, Rantepao, Toraja Utara, Sulsel, ini. Foto: KOMPAS/ARBAIN RAMBEY
Endy Allorante, seorang fotografer dari Kampung Kete Kesu di Toraja Utara, berkisah bahwa seorang rekannya pernah menemukan seekor kerbau saleko di sebuah tempat di Jawa Tengah. Walau kerbau itu masih anak-anak, rekannya itu menawar sampai Rp 40 juta. Dengan ongkos kirim beberapa juta rupiah, sampailah kerbau saleko dari Jawa Tengah itu ke Tana Toraja.

”Dibeli di Jawa Tengah seharga Rp 40 juta plus ongkos kirim tak sampai Rp 10 juta, kerbau itu laku di sini lebih dari Rp 200 juta,” ujar Endy.

”Saleko” Kerbau Seharga Satu Miliar Rupiah di Toraja
Dalam upacara Rambu Solo (penguburan jenazah), pemotongan kerbau adalah sebuah bagian penting. Kerbau-kerbau langka menjadi pilihan penting di sini. Foto: KOMPAS/ARBAIN RAMBEY
Di Toraja, kerbau lain yang juga bisa berharga ratusan juta rupiah adalah yang memiliki kelangkaan-kelangkaan, seperti tanduknya sangat lebar (kerbau balian), tanduknya mengarah ke bawah (kerbau sokko), satu tanduk ke atas satu tanduk ke bawah (kerbau tekken langi’), atau bahkan tidak bertanduk sama sekali.

Kerbau-kerbau langka itu memegang peran penting dalam upacara adat, seperti upacara Rambu Solo (pemakaman). Makin langka kerbau yang dikorbankan, itu menunjukkan makin tingginya strata sosial orang yang dimakamkan.

”Saleko” Kerbau Seharga Satu Miliar Rupiah di Toraja
Kerbau-kerbau tidak langka masih bisa menjadi istimewa kalau menjuarai sebuah acara adu kerbau. Kerbau pemenang akan mengejar kerbau pecundang. Foto: KOMPAS/ARBAIN RAMBEY
Meski demikian, kerbau-kerbau yang tidak langka juga bisa berharga tinggi kalau menjadi jawara dalam acara adu kerbau. Dalam sebuah kawanan kerbau, selalu ada yang agresif. Dan, kerbau-kerbau agresif ini yang biasanya dilatih untuk jadi petarung.

Pertarungan kerbau berakhir manakala salah satu petarung melarikan diri dan dikejar oleh kerbau pemenang. 


#NB: Baca juga posting kami tentang Kerbau di Toraja:





Teks & Foto: Arbain Rambey
Editor: I Made Asdhiana

Jenis dan Nilai Kerbau di Mata Orang Toraja

Jenis dan Nilai Kerbau di Mata Orang Toraja
Kerbau yang dijual di Pasar Bolu, Rantepao, Kab. Toraja Utara. Foto: Kompasiana | Muhammad Idham
Berbicara soal ritual adat Toraja dan kerbau atau dalam bahasa Toraja disebut Tedong, keduanya memiliki hubungan erat. Kerbau merupakan salah satu kebutuhan utama masyarakat Toraja untuk melakukan ritual adat Rambu Solo’ (upacara kedukaan/pemakaman). Maka tak heran jika harga jual/beli kerbau di Toraja begitu fantastis, di Toraja harga seekor kerbau berkisar antara puluhan juta hingga ratusan juta rupiah.

Dengan adanya kerbau pada setiap upacara adat Rambu Solo', bagi sebagian besar masyarakat Toraja sering dikaitkan dengan status sosial seseorang. Selain sebagai elemen utama dalam ritual adat, mungkin alasan inilah yang menjadi pemicu mengapa kerbau Toraja begitu istimewa (baca disini) sehingga harga seekor kerbau bisa melambung semahal itu. 

Pada sebuah acara pemakaman besar yang biasanya dilakukan oleh keluarga bangsawan, jumlah kerbau yang dikorbankan bisa mencapai puluhan sampai ratusan, kerbau-kerbau yang dikorbankan tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat di kampung tempat diadakannya upacara dan kampung disekitarnya. 

Kerbau yang akan dikorbankan juga memiliki tipe/jenis tertentu yang menentukan nilai tingkatan/kasta masing-masing kerbau, hal tersebut dapat kita lihat pada ukuran, bentuk, tanduk serta perpaduan warnanya. 

Dengan demikian dalam setiap pesta adat akan banyak kita jumpai berbagai jenis kerbau yang akan di korbankan, berikut ini beberapa jenis kerbau ”Tedong”  dengan keunikan khusus yang ada di Toraja dan sebagian mungkin tidak kita temukan di daerah lain.

1.Tedong Saleko
Jenis dan Nilai Kerbau di Mata Orang Toraja
Tedong Saleko, jenis kerbau dengan nilai tertinggi di Toraja. Foto: google
Kerbau yang satu ini merupakan jenis kerbau yang paling mahal dari semua jenis kerbau yang ada di Toraja, harga seekornya bisa mencapai 1 miliar rupiah, ciri khusus dari kerbau ini adalah warna kulitnya yakni perpaduan antara warna dasar putih serta belang hitam, dengan tanduk kuning gading serta bola mata berwarna putih.

2.Tedong Bonga
Jenis dan Nilai Kerbau di Mata Orang Toraja
Tedong Bonga adalah salah satu simbol prestise masyarakat Toraja.
Foto: Pewarta Foto PPWI | Anton Vincent Acvara
Tedong Bonga, menduduki peringkat kedua setelah Tedong Saleko, dan memiliki nilai jual yang hampir sama dengan Tedong Saleko pada kisaran ratusan juta rupiah. 

Ciri fisik Tedong Bonga juga tidak jauh berbada dengan Tedong Saleko, perbedaan yang mendasar antara Saleko dan Bonga terletak hanya pada warna dasar kerbau, dimana Tedong Bonga berwarna dasar hitam dengan belang putih

3.Lotong Boko'
Jenis dan Nilai Kerbau di Mata Orang Toraja
Tedong Lotong Boko'. Foto: Kompasiana|Parman Pasanje
Meski jenis kerbau ini terletak di urutan ke tiga namun karena jenis kerbau yang satu ini sangat langka maka untuk urusan harga kadang kala harganya hanya selisih tipis dari Tedong Bonga dan Tedong Saleko, ciri mendasar dari kerbau ini terletak pada corak/belang hitam yang menutupi punggungnya dengan tubuh berwarna dasar putih.
Jenis dan Nilai Kerbau di Mata Orang Toraja
Si Lotong Boko’ meski ditawar 500juta tak dilepas oleh yang punya saking sayangnya.
Foto: obendon.com|Olive Bendon


4.Tedong Ballian
Jenis dan Nilai Kerbau di Mata Orang Toraja
Tedong Ballian dengan tanduk yang rentang panjangnya bisa mencapai 2 meter. Foto: Google
Jika di lihat secara sepintas jenis kerbau yang satu ini adalah yang juara, hal ini di karenakan ciri utama dari kerbau ini terletak pada tanduk yang rentang panjangnya bisa mencapai 2 meter, dengan badan gempal, serta corak warna hitam ke abu-abuan, kebanyakan kerbau ini dikebiri. Kerbau jenis ini sudah langka sehingga kisaran harganya juga mahal, biasanya diatas 100 juta rupiah.

5.Tedong Pudu’ 
Jenis dan Nilai Kerbau di Mata Orang Toraja
Tedong Pudu' jenis kerbau umum yang didominasi warna hitam pekat. Foto: indonesia.travel
Tedong Pudu' adalah jenis kerbau yang umum kita lihat dengan ciri khas bentuk tubuh yang kekar serta kulit yang dominasi warna hitam. Salah satu variannya adalah Pudu' Gara' yakni Tedong Pudu' yang bola matanya berwarna putih. Selain sebagai kerbau sembelihan, karena bentuk tubuhnya yang kekar tersebut jenis kerbau ini biasanya dijadikan sebagai kerbau petarung. 

Seringkali kemampuan bertarung Tedong Pudu' digunakan dalam acara Ma’palisaga Tedong (adu kerbau) yang merupakan salah satu rangkaian upacara Rambu Solo'. Acara Ma’palisaga Tedong dalam Rambu Solo' menjadi heboh dan dipadati warga yang hendak menyaksikan tontonan unik ini. Biasanya kerbau yang menang memiliki prioritas tersendiri yang mendongkrak harga jualnya.

Namun, semahal-mahalnya seekor Tedong Pudu' belum cukup untuk menyaingi harga Tedong Bonga. Harganya berkisar antara puluhan sampai 100 juta, untuk harga kerbau petarung lebih mahal lagi sampai ratusan juta rupiah.

6.Tedong Todi' 
Jenis dan Nilai Kerbau di Mata Orang Toraja
Tedong Todi' memiliki corak/belang putih dikepala _diantara kedua tanduknya.
Foto: ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang
Tedong Todi’ adalah jenis kerbau yang didominasi warna hitam seperti halnya Tedong Pudu' namun memiliki corak/belang putih dikepala atau tepatnya didahi _diantara kedua tanduknya. Tedong Todi' memiliki dua varian yakni Todi' dan Todi' Gara', letak perbedaannya hanya pada bola mata yang berwarna putih di sebut Todi' Gara'. Harga Tedong Todi’ hampir sama Tedong Pudu' berkisar antara puluhan sampai 100 juta rupiah.

7.Tedong Tekken Langi'
Jenis dan Nilai Kerbau di Mata Orang Toraja
Tedong Tekken Langi'. Foto: Detik|Susan Stephanie - d'Traveler
Tedong Tekken Langi' memiliki keunikan tersendiri diantara jenis kerbau lainnya yakni bentuk tanduk yang tidak simetris/sejajar, dengan ciri khusus tanduk sebelah kiri menjulang keatas, sementara tanduk sebelah kanan ke bawah atau sebaliknya. 

Karena keunikannya membuat kerbau ini sangat jarang dijumpai, biasanya hanya ditampilkan dalam upacara Rambu Solo' dengan tingkatan tertentu seperti upacara Sapu Randanan (upacara adat Rambu Solo' yang tertinggi dan lengkap).  Karena kerbau ini merupakan kerbau yang langka maka harganya juga mahal berkisar diatas 100 juta rupiah.

8. Tedong Sokko
Jenis dan Nilai Kerbau di Mata Orang Toraja
Tedong Sokko. Foto: iffocus.wordpress.com|Sharen Adeline
Keunikan lain dari kerbau yang ada di Toraja adalah Tedong Sokko, kerbau jenis ini memiliki tanduk yang arahnya terbalik dengan kerbau umumnya yaitu arah tanduk yang menghadap ke bawah dan hampir bertemu dibawah leher. Bila berpadu dengan corak/belang tertentu contohnya Bonga Sokko (kerbau belang dengan tanduk menghadap kebawah) nilainya menjadi sangat mahal.
Jenis dan Nilai Kerbau di Mata Orang Toraja
Bonga Sokko. Foto: google|portal solata

9.Tedong Bulan
Jenis dan Nilai Kerbau di Mata Orang Toraja
Tedong Bulan, memiliki warna putih cerah agak kemerah-merahan.
Foto: iffocus.wordpress.com|Sharen Adeline
Tedong Bulan, yaitu jenis kerbau yang memiliki warna putih cerah agak kemerah-merahan disekujur tubuhnya. Jangan terkecoh dengan bentuk badan yang besar, tanduk kuning gading dan kulit putih mulus. Akan tetapi jenis kerbau yang satu ini adalah kerbau yang jika diurut berdasarkan tingkatan/kasta, maka Tedong Bulan adalah kerbau dengan kasta terendah dimata masyarakat Toraja.

10. Tedong Sambao'
Jenis dan Nilai Kerbau di Mata Orang Toraja
Tedong Sambao', berwarna abu-abu merupakan jenis kerbau paling murah di Toraja. Foto: Google
Masih berbicara soal kerbau dengan kasta terendah, Tedong Sambao' tidak jauh berbeda dengan bulan yang menempati tingkatan/kasta yang sama. Ciri yang mebedakan antara Tedong Sambao' dan Tedong bulan terletak pada warna Tedong Sambao' yang berwarna berwarna abu-abu atau putih kelabu seperti kebo bule di Solo.

Berbeda halnya dengan Kebo Bule di Solo yang dikeramatkan, di Toraja Tedong Sambao' justru dianggap jenis kerbau paling murah yang harganya hanya sekitar belasan juta rupiah. 


Demikianlah beberapa jenis kerbau/tedong yang ada di Toraja yang dibedakan berdasarkan tipe/jenis tertentu yang menentukan nilai tingkatan/kasta masing-masing kerbau, yang dapat kita lihat pada ukuran, bentuk, tanduk serta perpaduan warnanya. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan mengenai bagaimana serta seperti apa nilai seekor kerbau di mata masyarakat Toraja. 

Salama' kaboro' lako mintu' Sangsiuluran Toraya... :)

Jenis dan Nilai Kerbau di Mata Orang Toraja
Kerbau belang endemik Toraja, Sulawesi Selatan, dengan harga bisa mencapai Rp1 miliar.
Foto: Mongabay|Maliku Pakambanan
Jenis dan Nilai Kerbau di Mata Orang Toraja
Suasana ratusan kerbau yang di jual di Pasar Bolu, Kecamatan Rantepao, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Sabtu 2 Agustus 2014. Foto: TEMPO/Iqbal Lubis



Sumber: 
Artikel seperti ini sebelumnya telah diposting oleh blog Doddyg[.]blogspot[.]com "Wara Wiri Kerbau Toraja" dan blog Portalsolata[.]blogspot[.]com "Jenis Jenis Kerbau 'Tedong' Yang Ada di Toraja" demi menyebarkan informasi tentang Toraja maka artikel tersebut diposting kembali oleh blog Orang Toraja.