Showing posts with label Londa. Show all posts
Showing posts with label Londa. Show all posts

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata [Bag.II]


Londa; Wisata Makam dan Tulang Belulang

Hari baru dimulai saat saya mengunjungi kompleks makam Londa. Obyek andalan Toraja ini hanya didatangi lima turis, sudah termasuk saya dan fotografer. Saya melewati sejumlah keranda dan tabela berukir yang dipenuhi tulang-belulang, lalu memasuki gua alami di rahim tebing batu. Penjaga makam menyulut petromaks dan mengantarkan saya memasuki lorong yang penuh liku. Panoramanya mencekam. Sisa-sisa jasad bertaburan...

Londa bagaikan sebuah sarkofagus gigantik. Saya mesti berhati-hati saat melangkah atau berpegangan pada dinding, seraya berharap petromaks tidak tiba-tiba padam kehabisan minyak. Langit-langit kemudian merendah hingga saya mesti merangkak. “Bagaikan beruang yang berpura-pura menjadi laba-laba,” tulis Lawrence Blair dulu saat memasuki makam di Toraja.

Dalam sebuah brosur kapal pesiar, Londa dipromosikan sebagai tempat yang menawarkan sensasi petualangan Indiana Jones. Di dalam gua, atmosfernya memang menegangkan. Tapi di luar, Londa adalah sebuah obyek yang dikemas rapi.

Di sekitar mulut gua, ada jalan setapak berbahan semen, toilet umum, beberapa tempat duduk. Sejauh mana kita boleh memodifikasi petilasan tua atas nama kenyamanan? Pertanyaan saya mungkin berlebihan. Keluar dari gua, lagu If Tomorrow Never Comes berkumandang dari toko suvenir dan memantul-mantul di dinding kapur.

Di atas mulut gua, tau-tau berbaris rapi seperti para bangsawan di balkon istana. Berbeda dari tau-tau yang dijual di Eropa, wujud mereka lebih modern. Dulu, totem ini lebih simpel: bertubuh gelap, memiliki iris kecil, berbalut kain polos. Dulu juga, tangan kanannya menengadah sebagai simbol kesejahteraan bagi keluarga yang ditinggalkan, sementara telapak kirinya menghadap ke sisi dalam sebagai tanda perlindungan. Setelah zaman jauh bergulir dan selera berubah, tau-tau dipahat lebih riil, lebih mirip manusia, sampai-sampai wajahnya tertangkap face detector kamera. Mereka tak ubahnya patung lilin di Madame Tussauds. Filosofi lama yang kaya makna, tergeser. Betapa Toraja telah berubah.
Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Gua-gua alami yang banyak tersebar di Toraja. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Rantepao; Salib Raksasa, Jalanan Rusak dan Kopi

Saya kembali mengarungi jalan. Di Rantepao, salib raksasa menjulang di atas bukit, seolah hendak membaptis kota ini dalam sinar Tuhan. Kota tetangga, Makale, sedang membangun patung Yesus. Jauh di kaki monumen-monumen suci itu, jalan-jalan rusak dan sampah berserakan.

Di Hotel Pison, saya berhenti untuk menyeruput kopi. Berbeda dari kopi Gayo yang menyetrum mata, kopi Toraja menyulut suasana melankolis, seolah merayu kita untuk mencomot buku dan merebahkan tubuh. “Lebih enak jika dibiarkan sejenak di cangkir. Mirip kain luntur yang dicelupkan ke ember, biarkan sampai lunturnya hilang,” jelas Eli, perintis Kaana Toraya, merek dengan status kultus di kalangan penggemar kopi. Dia memakai kata “Toraya,” istilah lawas yang hanya digunakan oleh sesama orang lokal.

Biji-biji kopi terbaik dipetik dari Perbukitan Awan dan Sapan. Dua perusahaan asing sudah lama mengeruk uang di sana. Di luar kopi, Toraja praktis tak punya mesin ekonomi yang mumpuni. “Tidak ada industri di Toraja. Hanya ada kopi,” ujar Aras Parura, seorang pemilik kafe di Rantepao. Fakta itulah yang menurutnya memicu gelombang eksodus warga, terutama di kalangan kaum terdidik yang menikmati berkah program Repelita Orde Baru.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Kalung tradisional yang terbuat dari taring babi atau hewan lain. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Perantau Toraja; Golongan Kaya Baru, Godaan Senikmat Kopi

Kopi menghangatkan malam-malam dingin, tapi kopi tak cukup memuaskan para sarjana muda yang penuh mimpi. Di saat yang bersamaan, investasi asing merambah Kalimantan, Papua, dan Jawa. Lapangan kerja terbuka lebar. 

Suku Toraja, kaum yang percaya leluhur mereka diturunkan dari bintang-bintang di angkasa, mendadak menemukan sumur uang baru untuk hidup mereka di dunia. 

“Penduduk Toraja paling 500 ribu,” kata Aras lagi, “tapi yang tinggal di luar lebih dari satu juta jiwa.” Tradisi merantau melahirkan golongan kaya baru. Di kampung halaman, kisah-kisah mereka menyebar secepat gosip artis. Godaan migrasi menular dari mulut ke mulut. 

Rumput tetangga terlihat semakin hijau. Anak-anak pun menghampiri bapaknya. Tetangga menyusul tetangga. Bagi mereka yang berada di kasta budak, merantau punya insentif yang lebih sukar ditampik: solusi untuk membuka lembaran baru di negeri seberang sebagai “orang merdeka.”

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Kristen adalah agama mayoritas di Toraja meski mereka memiliki agama tradisional Aluk Todolo. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Perantau Toraja; Masuknya Injil, Pergeseran Nilai Budaya & Negosiasi Status Sosial

Dampak merantau juga menyentuh domain ritual. Lagi-lagi, kita bisa melihatnya pada Rambu Solo. Ritual suci ini kerap berubah menjadi ajang unjuk kekayaan. Golongan kaya baru berusaha mendaki tangga mobilitas sosial dengan royal membeli kerbau, membangun Tongkonan, bahkan kasta. Status bangsawan yang tadinya diwariskan lewat jalur darah, kini hendak didapuk lewat lembaran rupiah. Tapi Rambu Solo semacam itu jauh dari ekspektasi turis. Mereka datang untuk menonton upacara yang digelar masyarakat tribal keturunan langit, bukan seremoni mewah yang didanai oleh kaum diaspora yang datang mengendarai Rubicon dan menggenggam iPhone. Betapa Toraja telah berubah. Toraja “dataran tinggi yang sakral,” tulis sebuah semboyan wisata.

“Salah satu penyebab utama perubahan adalah masuknya Injil,” kata Eric Crystal Lantang. “Aturan Aluk To Dolo dan dogma Injil kerap berbenturan.” Eric, seorang penganut Kristen, adalah keturunan dari raja besar Puang Sangalla. Dia menilai masuknya Injil lebih dari 100 tahun silam telah menggeser sendi-sendi budaya lokal. Dalam banyak catatan, konflik memang pecah antara gereja dan keyakinan pagan. “Pada 1985, sebuah gereja Protestan menyatakan tau-tau adalah sebuah isu besar yang merongrong gereja,” tulis Toby Volkman lagi dalam esainya, Toraja Culture and the Tourist Gaze. Gereja menolak hidup manunggal dengan keyakinan purba. Aluk To Dolo juga kian terjepit setelah pemerintah Orde Baru melakukan “perampingan” religi dengan mengakui hanya lima agama resmi.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Kostum penari tradisional Toraja. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Aluk To Dolo memang akhirnya selamat dari cap sesat usai dikategorikan sebagai “cabang” dari Hindu Bali, tapi proses desakralisasi sudah terlanjur bergulir dan adat kian tergerus. Eric, yang namanya diambil dari seorang peneliti Amerika, kini berusaha menjadi penengah antara agama samawi dan kepercayaan leluhurnya. Babad monarki sudah lama ditutup, tapi peran sosialnya sebagai bangsawan belum rampung. Melalui mimbar gereja, Eric mengajak warganya menyudahi benturan antara ajaran Kristen dan Aluk To Dolo. Dia percaya, solusi kompromi bisa tercipta di antara kedua kubu. “Dulu, tau-tau dilarang karena dianggap penyembahan terhadap berhala,” ujarnya. “Saya lalu jelaskan, tau-tau tak ubahnya foto, tapi tiga dimensi. Tujuannya untuk mengenang almarhum, bukan untuk disembah.”

Di Toraja, adat bagaikan kumpulan kaidah lawas yang rapuh. Tafsirnya ditentukan oleh generasi sekarang, oleh orang-orang yang menatap dunia dalam kacamata modern. Pertanyaannya, ketika banyak tau-tau lenyap, pastor memimpin ritual adat, budak duduk sederajat dengan bangsawan di bangku sekolah, dan atap Tongkonan diganti seng, masih relevankah Toraja “menjual” eksotisme budaya?

Barangkali saya yang keliru mencerna zaman. Toraja adalah sebuah kebudayaan yang bergerak, sebuah “living villages” tulis Kathleen Adams dalam Cultural Commoditization in Tana Toraja. Tak mungkin bagi kita mengharapkan Toraja membeku dalam waktu layaknya sebuah artefak dari zaman purba. Lagi pula, kebudayaan Toraja sejak awal tak pernah dikemas sebagai atraksi wisata. Rambu Solo adalah acara privat keluarga. Tau-tau juga milik keluarga, begitu pula makam dan Tongkonan. Orang Toraja berhak memutuskan sejauh mana mereka hendak mengubah apa yang mereka punya.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Staf Toraja Heritage Hotel di tepi kolam dengan latar struktur berarsitektur tongkonan yang berisi kamar tamu. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Semangat Baru Pariwisata Toraja

Namun, bukan berarti harapan sudah pupus bagi pariwisata. Asa masih ada. Dalam transisi besar yang membasuh dataran tinggi ini, turis menangkap pesona lain yang selama ini terpinggirkan oleh tema-tema besar “kematian.” Sebuah survei yang didukung LSM Swisscontact pada Agustus 2014 mendapati, turis justru mencantumkan “alam” sebagai daya tarik terbesar Toraja. Prosesi kematian yang selama ini menjadi mantra pemikat, jatuh ke peringkat kedua. Pelancong ternyata lebih menyukai lanskap elok yang terhampar di balik Tongkonan dan tebing-tebing makam.

Swisscontact hadir di Toraja guna mendukung kinerja DMO (Destination Management Organization), semacam tourism council yang beranggotakan para pemangku kepentingan lokal. Luther Barrung, mantan Direktur Pemasaran Kementerian Pariwisata, didaulat sebagai pemimpinnya. Generasi muda seperti Yohan Tangkesalu, General Manager Misiliana Hotel, duduk di struktur pengurus. Bahkan figur bersuara lantang sekaliber Eric Crystal turut terlibat. Setelah sekian lama didikte oleh suku tetangga mereka di selatan, nasib pariwisata Toraja kini berada di tangan warganya sendiri.

Selain survei, DMO merumuskan logo baru pariwisata. Tahun ini, mereka bakal mengikuti bursa pariwisata di Bali, melakukan pemetaan ulang obyek, menciptakan situs wisata, juga mencetak peta dan brosur-brosur baru. “Diversifikasi produk kini sedang digarap. Toraja butuh banyak inovasi baru,” ujar Tri Laksono, Project Officer for Destination Development Swisscontact.

Di bawah panji DMO, Toraja bersiap menulis lembaran baru: menjadi destinasi bagi para petualang alam, bukan cuma peziarah. Kelak, turis melancong ke sini bukan semata untuk menonton Rambu Solo atau menembus gua makam, melainkan untuk menjelajah sawah, trekking ke kebun kopi, atau bermain arung jeram. Awalnya bersandar pada kematian, Toraja kini berharap pada kehidupan —pada padi yang tertiup angin, biji-biji kopi yang ranum, sungai yang tak lelah mengalir.


Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Bus eksklusif yang melayani transportasi dari Makassar ke Toraja. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Bagaimana Menuju Toraja;

—Rute
Toraja bisa dijangkau dari Makassar dengan menaiki bus. Salah satu operatornya, Primadona (Jl. Perintis Kemerdekaan Km.13, Ruko Bukit Khatulistiwa Blok B/8, Makassar; 0811-4497-212), memiliki bus mewah dengan kursi yang menyerupai kelas bisnis pesawat. Ada dua jadwal keberangkatan: pukul 21:00 dan tiba pukul 06:00, atau pukul 09:00 dan tiba pukul 18:00. Pesawat sebenarnya tersedia, tapi jadwalnya kadang direvisi mendadak. Aviastar (aviastar.biz) melayani penerbangan dari Makassar menuju Bandara Pongtiku dua kali per minggu.

—Penginapan
Selain menawarkan 134 kamar yang disebar dalam bangunan berbentuk tongkonan, Toraja Heritage Hotel (Jl. Kete Kesu, Rantepao; 0423/211-92; toraja-heritage.com) memiliki kolam renang yang fotogenik, serta menawarkan akses mudah ke desa-desa adat. Berdiri di atas lahan seluas delapan hektare, Misiliana Hotel (Jl. Pongtiku 27, Rantepao; 0423/212-12; torajamisiliana.com) menaungi dua kolam renang, ballroom, restoran, spa, serta 98 kamar. Hotel ini juga menawarkan pengalaman homestay: menginap di tongkonan tua yang telah disulap menjadi suite.

—Makan & Minum
Restoran terbaik umumnya hanya terdapat di hotel. Salah satu yang berhasil menembus dominasi itu adalah Mambo (Jl. DR. Sam Ratulangi 34, Rantepao; 0423/211-34; mamborestaurant.co), restoran yang menyuguhkan beragam menu, termasuk masakan lokal pa’piong dan pamarrasan. Sarang hangout populer di kalangan turis, Café Aras (Jl. A. Mappanyukki 64, Rantepao; 0823-9627-5688), menawarkan bangunan yang sejuk di tengah kota Rantepao yang bising. Bagi penikmat kopi, dua tempat yang layak didatangi adalah Warung Kopi Toraja (Jl. Poros Makale, Rantepao; 0852-4824-7654) dan Hotel Pison (Jl. Pongtiku 2 No.8, Rantepao; 0423/213-44).

—Aktivitas 
Situs-situs tua masih menjadi obyek andalan di peta wisata. Untuk menyaksikan menhir, pergilah ke Rante Kalimbuang di Bori’. Di Londa, kita bisa memasuki makam gua, sementara di Lemo kita bisa menyaksikan tau-tau dalam desain orisinal. Kampung adat yang paling tersohor, Kete’ Kesu’ lazim dijadikan tempat upacara-upacara besar. Dibandingkan desa adat lain, Buntu Pune’ relatif masih autentik. Kala di sini, carilah Marla, sarjana arkeologi yang lancar bercerita tentang kebudayaan Toraja, termasuk tentang benteng di samping desanya.

Desa-desa tenun terpusat di sisi timur laut, salah satunya Sa’dan To’ Barana. Bawa uang tunai jika ingin berbelanja. Jika ingin menyerap panorama Toraja yang paling karismatik, pergilah ke Batutumonga. Bawalah sepatu trekking, karena Anda pasti tergoda untuk mengarungi sawah dan lembah hijaunya.

—Informasi 
Menyewa pemandu adalah metode terbaik. Tapi jika ingin berwisata secara mandiri, Anda bisa menyewa mobil, kemudian menggali informasi dari pihak DMO (visittoraja.com) atau Swisscontact (Jl. Makula’ Tampo, Sangalla, Makale Utara; 0423/264-43; swisscontact.or.id). Peta wisata baru belum dicetak, tapi versi lamanya masih tersedia di kantor Dinas Pariwisata Toraja Utara (Jl. Ahmad Yani 62A, Rantepao; 0423/212-77). Rambu Solo umumnya digelar di tengah tahun. Upacara kematian ini menampilkan prosesi pengorbanan kerbau dan babi. Tamu sepatutnya memberikan sesuatu kepada keluarga almarhum. Idealnya, berupa seekor babi, tapi kita bisa menggantinya dengan satu slof rokok atau beberapa kilogram gula pasir. Siapkan pakaian hitam jika ingin hadir.


____________________

Oleh: Cristian Rahadiansyah

Foto oleh: Suryo Wibowo




Sumber: DestinAsian

Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)

Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Suasana kampung Nanggala di malam hari. Foto: Aan
Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
"Di akhir perjalanan, saya tertarik dengan potongan ucapan salah satu anggota keluarga mendiang. Beginilah kehidupan di Toraja, bertahun-tahun mencari uang akhirnya hanya dihabiskan dalam sekali waktu saat Rambu Solo atau pemakaman. Kematian adalah hal yang mewah dengan harapan roh yang meninggal dapat menuju alam baka dengan keceriaan dan ketenangan." _ Alfian Widiantono Suroso (Aan)

Malam hampir berganti hari, mobil akhirnya sampai di tujuan terakhir. Enggan rasanya  pantat ini beranjak dari kursi akibat lelah menggelayut efek dari perjalanan panjang nonstop, 4 jam Jakarta-Makassar via udara, 10 jam Makassar-Rantepao via bis, dan 45 menit Rantepao-Nanggala via mobil jemputan. Satu-satunya penyemangat bagi Kami untuk bangkit adalah nyala lampu dari susunan bangunan yang bentuknya selalu terbayang di pikiran Saya seharian ini. Tak lama beranjak, akhirnya susunan bangunan dengan kedua ujungnya yang lancip tersaji langsung di depan mata, Tongkonan, rumah adat Toraja. Lelah pun berganti dengan semangat dan rasa penasaran dengan apa yang akan Saya hadapi esok hari.
***
Night was about leaving us. Our car finally took us to final stop for that day. It was very hard for me leaving my seat because I was very exhausted due to our long journey. It was a non-stop trip which spent 4 hours air travel from Jakarta to Makassar, 10 hours Makassar-Rantepao journey via bus, then 45 minutes via car from Rantepao to Nanggala.The last spirit left emerged from lights that was shining from the building of which structures has obsessed my mind all day long. Before long, we officially hopped on in the location where I could enjoy the beauty of Tongkonan, traditional house of Toraja, completed with two sharp and pointed ends. Its beauty was totally successful in spoiling my eyes. My tiredness suddenly disappeared and turned into a blow of spirit which led me to get so excited and curious on things I would get on the next day.

Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Lakkian, tempat menaruh jeazah sebelum dikuburkan di liang batu. Foto: Aan
Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Ornamen yang menghiasi sisi Lakkian. Foto: Aan
Bersama dua orang rekan, Fatur dan Yoyo, Kami merasa cukup beruntung bahwa perjalanan kami yang pertama kali ke bumi Sulawesi ini bertepatan dengan berlangsungnya Rambu Solo, upacara pemakaman adat khas Toraja. Saat itu di kampung Nanggala tengah diadakan pemakaman bagi Elisa Siman Pongpalita, yang meninggal tahun 2005 lalu pada usia 80 tahun. Mendiang adalah salah satu tokoh masyarakat sekaligus keturunan ke enam Raja Luwu, salah satu penguasa Toraja jaman dulu. Kami datang agak terlambat sebenarnya. Karena acara prosesi yang memakan waktu hampir satu minggu ini sudah berlangsung 3 hari sebelum kami tiba di Nanggala. Akibatnya kami terlewatkan 3 prosesi, pemindahan jenazah dari rumah Tongkonan ke Alang/Lumbung (tempat menyimpan padi) lalu ke Lakkian (tempat khusus menaruh jenazah sebelum dimakamkan) , penyambutan tamu dan Ma’pasilaga Tedong atau adu kerbau. Namun demikian tetap saja kami beruntung karena bisa mengikuti sisa prosesi secara lebih dalam, karena kami tinggal di Lantang , yaitu bangunan yang dibuat khusus untuk para tamu dan keluarga yang menginap dalam rangka menghadiri Rambu Solo ini. Jadi kami memiliki kesempatan untuk mengenal dan memahami budaya Toraja secara lebih mendalam. Semua ini berkat bantuan dari seorang teman, Theresia Kurniasari Pongpalita, yang tak lain adalah cucu mendiang.
***
Together with Fatur and Yoyo, my companions during this journey, we felt lucky enough since this very first journey to Sulawesi gave us chance to look closer at Rambu Solo, Toraja’s traditional funeral ceremony. At that time, there was a funeral ceremony for Elisa Siman Pongpalita at Nanggala village. Elisa passed away in 2005 at the age of 80. The deceased was not only one of community figures but also was the sixth generation of King Luwu, one of the ruler of Toraja in the past time. To be honest, we were a bit late since the ceremony has run for three days before we arrived at Nanggala. That forced us leave three processions includes moving the dead body from Tongkonan to Alang/Lumbung (a place to store paddy), which was followed by moving it to Lakkian. It was a special place to put the dead body before burying it. The procession continued to guest welcoming, and Ma’pasilaga Tedong or buffalo fight. But still above all, we felt so grateful since we’re living in Lantang, a special building for guests and family. It gave us access to experience the rest of the procession to the full. A friend of us namely Theresia Kurniasari Pongpalita, the grandchild of the deceased, gave us a huge help to know and understand the culture of Toraja deeply.

Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Salah satu kerabat almarhum. Foto: Aan
Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Ma'tinggoro Tedong, tradisi menyembelih kerbau dengan sekali tebas. Foto: Aan
Hari pertama, atau hari keempat rangkaian prosesi, Kami disuguhi dengan prosesi Ma’tinggoro Tedong atau penyembelihan kerbau khas Toraja, yaitu menyembelih dengan parang dan hanya dengan sekali tebas. Sebenarnya bukan hanya kerbau saja yang dikorbankan, tapi ada juga babi. Kerbau dan babi ini adalah persembahan dari keluarga sebagai bentuk persembahan terakhir bagi almarhum. Total ada 17 kerbau dan 3 ekor babi yang dikorbankan, termasuk 1 ekor kerbau belang atau biasa disebut Tedong Bonga. Sekedar diketahui, semakin banyak belangnya, semakin mahal harganya. Kisaran harga kerbau belang bisa mencapi sampai ratusan juta rupiah. Bandingkan dengan kerbau biasa yang berharga sekitar 20 juta. 
***
On my first day, or the fourth day of the series of procession, we watched Ma’tinggoro Tedong procession. It was a procession of buffalo slaughtering. What makes it special is that its way of cutting buffalo’s head. The slaughterer used chopping knife with a single cutting movement. Not only buffalo, pigs are also another animal that could be sacrificed. Buffalo and pig are the form of last tribute for the family for the deceased. There were 3 pigs and 17 buffaloes including one Tedong Bonga, a buffalo with strips over its body. The bigger number of strip existed in the buffalo’s body, the higher price should be paid for it. The price of one Tedong Bonga could be hundreds of millions rupiahs. As a comparison, the price of regular buffalo is about 20 millions rupiahs.

Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Membersihkan bulu babi dengan cara dibakar sebelum dipotong. Foto: Aan
Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Menguliti kerbau yang sudah disembelih. Foto: Aan
Selanjutnya daging dan organ kerbau atau babi ini dimasak untuk disajikan ke keluarga dan dibagi-bagikan atau dilelang ke para tetangga dan orang-orang yang terlibat dalam acara pemakaman. Yang unik adalah tanduk kerbau yang setelah dibersihkan kemudian dipasang di bagian depan Tongkonan sebagai penanda jumlah kerbau yang dikorbankan oleh keluarga. Semakin banyak tanduk yang dipasang, artinya semakin makmur juga keluarga yang bersangkutan.
***
After being cut to pieces, the organ and meat of these buffaloes or pigs was cooked before it was served to the family. Then, it was given or sold by auction to the neighbours or any other people who were involved in the ceremony. There is a unique thing from this series of procession, related to the use of buffalo’s horn which was placed in the front part of Tongkonan. For sure, the horn was cleaned initially. The point of this part of custom is as indicator to show the number of buffaloes which have been sacrificed by the family. More horns show higher level of family’s wealth.

Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Anggota keluarga almarhum sedang meratap. Foto: Aan
Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Foto bersama keluarga almarhum. Foto: Aan
Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Ludia Ramma, istri kedua almarhum. Foto: Aan
Hari kedua, atau hari kelima rangkaian upacara sekaligus hari terakhir, berlangsung prosesi penurunan peti jenazah dari Lakkian ke lapangan yang biasanya berada di depan Tongkonan. Peti jenazah ini kemudian dirangkai dengan Lettoan/Duba-Duba, yaitu keranda khas Toraja yang bentuknya mirip atap Tongkonan. Di tengah prosesi perangkaian ini, beberapa anggota keluarga tampak menangis. Dua orang diantaranya bahkan histeris meratap di samping keranda. Ada kejadian langka sebelum prosesi ini berlangsung. Saat itu para keluarga dan orang-orang yang terlibat dalam proses berkumpul di pinggir lapangan dan beberapa orang yang kami yakini tokoh masyarakat setempat bergantian berorasi dalam bahasa Toraja. Kami tidak tahu persis apa maknanya, tapi dari teman kami Sari, kami tahu bahwa mereka tengah menyuarakan kegelisahan dan penolakan mereka terhadap pemerintah daerah dan gereja setempat yang melarang adanya prosesi adu kerbau dan adu ayam yang berlangsung selama prosesi Rambu Solo karena dianggap kental berbau judi. Padahal ritual tersebut memang sudah menjadi bagian tradisi Rambu Solo sejak dulu kala.
***
On the second day, which was also the last day in the ceremony, the procession of coffin lowering from Lakkian to the field was held. Most of the time, the field is located in front of Tongkonan. In the middle of the procession, I saw some members of the family were in tears. Two of them even cried hysterically while staring at the coffin. There was a rare moment happened on the procession. At that time, the family and people who were involved in the ceremony gathered at the edge of the field. Some people who we believed as local figures deliver an oration in turn by using local language. It made us have no idea on what they talked about. From Sari, we know that they talked about their worry and rejection to local government and church that prohibit the implementation of chicken or buffalo fight during the procession of Rambu Solo as it indicates gambling activity. This situation is in contrast with their belief which considers it merely as a ritual in parts of Rambu Solo’s tradition.

Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Proses menurunkan peti jenazah dari Lakkian. Foto: Aan
Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Prosesi saling menarik Lettoan/duba-duba dengan arah berlawanan. Foto: Aan
Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Mengarak Lettoan/duba-duba. Foto: Aan
Peti telah dipasang pada Lettoan/Duba-Duba. Ada satu prosesi unik, yaitu secara beramai-ramai peti jenazah diangkat sementara orang-orang pembawa peti berjingkrak-jingkrak sambil meneriakkan semacam mantra. Sebenarnya rencana awal mendiang akan dimakamkan ke kubur batu. Namun karena kondisi lubang di tebing yang akan dijadikan makam masih kurang memadai, maka peti disemayamkan dulu di Patane, yaitu rumah khusus untuk menaruh peti jenazah. Nanti setelah lubang kubur batu diperbaiki, barulah peti dipindahkan lagi. Peti pun dibawa beramai-ramai dengan dikawal pembawa gong dan umbul-umbul. Orang-orang beramai-ramai berteriak dengan sesekali terjadi prosesi unik yaitu para pembawa Duba-Duba yang jumlahnya banyak itu menarik dengan arah yang berbeda, ke depan dan belakang. Sesampainya di Patane, peti jenazah dimasukkan ke dalam, bergabung dengan lima peti lainnya.
***
There is another unique procession which got my full attention. I was amazed seeing people who lifted the coffin pranced while shouting a kind of spell. The initial plan was burying the body in a sarcophagus. However, the condition of the cliff did not support it at that time. There were holes in the cliff which would be used as the grave. Therefore, the coffin was placed in Patane, a special house to put the coffin. After fixing the holes in the cliff, the coffin will be moved. The coffin was brought by many people who were guided by some people bringing gong and umbul-umbul. Gong is part of Gamelan instruments, a traditional musical instrument made of brass, while umbul-umbul is a kind of flag which is usually used to celebrate special events such as country’s Independence Day. Those people yelled during the procession. I wondered on the thing that they did, especially when they pulled the coffin in some different directions, back and forth. Once they got to Patane, the coffin was placed into the house, together with other five coffins.

Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Patane, bangunan tempat menaruh peti jenazah. Foto: Aan
Malam harinya, sambil menikmati suguhan kopi toraja, kami mengobrol dengan beberapa anggota keluarga almarhum. Inilah kesempatan untuk mencari informasi. Kenapa harus ada upacara Rambu Solo ini? Itulah pertanyaan pertama yang terlontar. Tidur atau sakit. Ya itulah jawabannya. Meninggal secara medis, bagi tradisi Toraja baru dianggap sebagai tidur atau sakit, sampai keluarga bersangkutan melaksanakan Rambu Solo. Tidak heran, sebelum Rambu Solo diadakan, almarhum masih diperlakukan layaknya orang hidup seperti ditemani, disediakan makan minum dan rokok. Selain itu menurut ajaran Aluk To Dolo (kepercayaan tradisional Toraja), Rambu Solo adalah bentuk penghormatan terakhir bagi anggota keluarga yang meninggal sebelum menuju alam baka.
***
At night, we chatted with some family members of the deceased while enjoying a cup of coffee, special from Toraja. At this moment, we asked some questions to get deeper understanding on their way of life. The first question was why they should hold Rambu Solo. A very short answer came out at that time. They said, ‘sick or sleep’. It might be short but not so simple to understand. For them, someone is considered as dead person only when Rambu Solo is conducted for him or her. When the family has not conducted this procession, it means that they are considered in a condition of ‘sick or sleep’. This belief makes them treat the deceased as if they are alive. They accompany, give food, drink, and even cigarette to them. Besides, according to the lesson from Aluk To Dolo (traditional belief of Toraja), Rambu Solo is a form of last admiration to the family members who passed away before going to afterlife.

Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Lanskap persawahan di kampung Nanggala. Foto: Aan
Dalam tradisi Toraja sendiri dikenal empat jenis tingkatan Rambu Solo. Dipasang Bongi, upacara yang berlangsung hanya satu malam saja. Dipatallung Bongi, berlangsung tiga malam di rumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan. Dipalimang Bongi, berlangsung lima malam di rumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan. Terakhir, Dipapitung Bongi, berlangsung selama tujuh malam dengan disertai pemotongan hewan setiap malamnya. Semakin tinggi strata sosial si almarhum, semakin lama waktu prosesinya. Dalam hal ini, pemakaman bagi almarhum Elisa Siman Pongpalita termasuk dalam Dipalimang Bongi.
***
In Toraja’s tradition itself, there are four levels of Rambu Solo. The first is Dipasang Bongi. It lasts only for a day. The next is called Dipatallung Bongi. It last for three days. It was located at the house of the deceased together with the implementation animal slaughtering, meanwhile Dipalimang Bongi, which is almost the same as ‘Dipatallung Bongi’ last for five days. The last is called Dipapitung Bongi, it last for seven days with animal slaughtering done every night. The higher social status, the longer time of the procession it will take. In this case, the funeral of Elisa Siman Pongpalita belongs to Dipalimang Bongi.

Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Barisan Alang/Lumbung di depan rumah adat Tongkonan di Kete Kesu. Foto: Aan
Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Kubur di tebing batu Lemo. Foto: Aan
Uang dan waktu. Itulah jawaban untuk pertanyaan Kami berikutnya, kenapa Rambu Solo bagi mendiang baru diadakan tahun 2013, berselang hampir delapan tahun sejak almarhum mulai ‘tidur’. Rambu Solo butuh biaya yang banyak. Meskipun keluarga almarhum tidak menyebut secara detil, tapi kami perkirakan untuk melaksanakan Rambu Solo yang sedang kami ikuti ini menghabiskan lebih dari lima ratus juta, bahkan bisa hampir satu milyar. Untuk membuat bangunan dan ornamennya saja menghabiskan empat ratus juta sendiri. Belum lagi hewan persembahan dan biaya operasional selama upacara berlangsung. Ketika uang sudah terkumpul, yang tak kalah sulitnya adalah menemukan waktu yang tepat untuk mengumpulkan anggota keluarga. Hal ini berkaitan dengan adanya ketentuan bahwa semua anggota keluarga wajib hadir ketika Rambu Solo berlangsung. Almarhum sendiri memiliki dua orang istri. Istri pertama, Yohana Tambing, menghasilkan dua orang putri, Corry Taruk Datu dan Alberthin Siman Taruk. Kemudian dengan istri kedua, Ludia Ramma, menghasilkan dua orang putra, Samuel Barumbun dan Yusuf Kadang Pongtinamba.
***
Then, we asked on the reason why Rambu Solo for Elisa Siman Pongpalita was done in 2013, almost 8 years after she was in the stage of considered as ‘sleeping’. They said it was about money and time. Rambu Solo needs a high budget. Though they did not mention it in detail, we calculated the cost. It could reach five hundred millions rupiahs or even until one billion rupiahs. To make the building and its ornament they spent almost four hundreds millions rupiahs. It did not include the animals and operational cost during the procession happened. Further, when the family has been able to gather the money, it was quite hard to find a perfect time to gather all members of the family. It is related with the requirement which states that all family members have to come when Rambu Solo is held. In this case, the deceased has two wives. The first wife is Yohana Tambing. From her, they have two daughters, Corry Taruk Datu and Alberthin Siman Taruk. Then, from his second wife namely Ludia Ramma, he has two sons. They are Samuel Barumbun and Yusuf Kadang Pongtinamba.

Toraja, Hidup untuk Mewahnya Kematian (Life for a Luxurious Death)
Miniatur Tau-tau. Foto: Aan
Selain budayanya yang khas, Toraja dianugrahi tanah yang subur dengan lanskap dinding bukit yang seolah menjadi benteng alam. Setidaknya itu yang muncul dalam benak Saya ketika di hari terakhir kami mengunjungi lokasi-lokasi makam batu yang sekaligus menjadi obyek wisata di Toraja seperti Kete’kesu, Londa dan Lemo. Di akhir perjalanan, kami tertarik dengan potongan ucapan salah satu anggota keluarga mendiang Elisa yang ikut menemani kami. Beginilah kehidupan Toraja, bertahun-tahun mencari uang akhirnya hanya dihabiskan dalam sekali waktu yaitu saat Rambu Solo atau pemakaman. Kematian adalah hal yang mewah dengan harapan roh yang meninggal dapat menuju alam baka dengan keceriaan dan ketenangan. Dan itulah bentuk penghomatan terakhir dari mereka yang ditinggalkan.
***
Not only owning a special culture, Toraja is blessed with a fertile land with landscape of hill wall which is acted as natural cover. That was my thought on our last day in the land of Toraja when we visited some locations of sarcophagus. These places also become some tourist destinations in Toraja. They are Kete’kesu, Londa and Lemo. At the end of the journey, we were interested in what was said by one of the family members of Elisa who accompanied us. He said, “This is life in Toraja, we spent years to look for money then spent it all at once in Rambu Solo or funeral”. Death is a luxurious with an expectation that the soul of the deceased successfully reach afterlife stage to get happiness and peace. That is the last honor given from the persons who are left behind.


==========

Artikel dan Foto oleh:

Alfian Widiantono Suroso (Aan)
Indonesian-based photographer & volunteer. Sharing the inspirations through images & words. A man who believes, both home and school are everywhere.


Sumber: Artikel ini sebelumnya telah diposting oleh Penulis di blog pribadinya [aansmile.wordpress.com] dengan judul sama TORAJA, HIDUP UNTUK MEWAHNYA KEMATIAN (LIFE FOR A LUXURIOUS DEATH). Guna menyebarkan informasi tentang salah satu khasanah budaya Nusantara yakni budaya Toraja, maka artikel ini kami posting kembali.


Terimakasih kami kepada Penulis. :)

Semoga bermanfaat...

Lemo: Menyambangi Pekuburan di Tebing Batu Khas Toraja

Lemo, Pekuburan di Tebing Batu Khas Toraja. Foto: ist
Nyata! Ditampilkan dengan luar biasa pekuburan melekat di dinding tebing bukit tinggi dan dipahat dengan sabarnya selama berbulan-bulan. Di sinilah Anda dapat merasakan langsung aura kematian dibingkai adat budaya berharmoni dengan alam. Lemo diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16 dan menjadi makam kepala Suku Toraja. Tidak perlu dipertanyakan lagi kewajiban menyambangi tempat ini tentunya!

Lemo telah muncul sejak dahulu menjadi daya tarik yang memukau di Toraja. Sebuah kubur batu menjadi pemandangan luar biasa menyatu bersama hamparan sawah yang menghijau. Anda dapat menyambanginya di Desa Lemo, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. 

Lemo merupakan kuburan yang dibentuk di dinding bukit dan awalnya khusus diperuntukan bagi bangsawan suku Toraja. Ada lebih dari 70 buah lubang batu kuno menempel di dindingnya dan padanya disimpan patung kayu (tao-tao | tau-tau) sebagai representasi dari mereka yang sudah meninggal. Tidak semua orang Toraja bisa dibuatkan tao-tao, hanya kalangan bangsawan saja yang berhak dibuatkan tao-tao dan itu pun setelah memenuhi persyaratan adat. 

Di lubang kuburan berukuran 3 x 5 meter itu nyatanya satu lubang berisikan satu keluarga. Di beberapa tempat nampak peti-peti mati ditumpuk atau diatur sedemikian rupa sesuai garis keturunan atau keluarganya. Bagian depan lubang berfungsi untuk memasukkan jenazah, beberapa ada yang ditutupi pintu kayu berukir atau hanya penutup dari bambu. 

Nama Lemo sendiri berarti jeruk, itu dimaksudkan pada gua batu terbesarnya yang berbentuk bundar menyerupai buah jeruk, lubang-lubang kuburannya seakan membentuk pori-pori buah jeruk. Menurut penuturan masyarakat setempat, kuburan tertua di tempat ini adalah seorang tetua adat bernama Songgi Patalo

Liang atau pintu-pintu makam di Lemo, Pekuburan di Tebing Batu Khas Toraja. Foto: ist
Kegiatan yang bisa anda lakukan

Keberadaaan Lemo telah menjadi daya tarik penting di Toraja. Tempat ini merupakan tujuan wajib yang perlu disambangi para pelancong dan penikmat budaya. Susuri satu persatu lubang-lubang di tebingnya. Beberapa lubang bahkan tidak berpintu dan mempertontonkan tulang-belulang memutih yang dilumuti.

Pastikan Anda ditemani pemandu dari masyarakat setempat atau pramuwisata berpengalaman. Dapatkan cerita menarik yang bukan hanya bisa diperoleh dari internet. Resapi budaya mereka hingga Anda sadar betapa kayanya Indonesia.

Tau-tau di Lemo, Pekuburan di Tebing Batu Khas Toraja. Foto: ist
Perhatikan patung kayu (tao-tao) yang dipahat dengan detail. Ada filosofi di baliknya yaitu tangan kanan menghadap ke atas sedangkan tangan kiri menghadap ke bawah. Hal itu memiliki arti meminta dan memberkati, posisi tangan tersebut mencerminkan posisi antara yang hidup dan yang mati. Manusia yang telah meninggal membutuhkan bantuan keturunannya yang masih hidup untuk mencapai surga (puya) melalui upacara adat, sedangkan yangg hidup mengharapkan berkah dari yang mati untuk tetap menyertai kehidupan anak cucu mereka.

Lihat juga rumah adat Tongkonan di bagian depan loket masuk. Ada beberapa rumah adat yang atapnya sudah ditumbuhi tanaman liar dan lumut hijau. Akan tetapi, itu justru mempercantik tampilannya. Berfotolah di depannya dan peroleh pengalaman serta bukti yang dapat dibanggakan sepulangnya ke rumah.

Saat Anda selesai menyusuri lemo maka akan berjalan melalui pematang sawah serta melihat buah pangi yang ranum kecoklatan. Buah pangi biasa menjadi olahan makanan khas suku Toraja yang disebut pantollo pamarrasan.


Info Akses Transportasi

Litha&Co, salah satu armada bus yang beroperasi
untuk jurusan Makassar Toraja. Foto: ist
Untuk mencapai Lemo jaraknya sekira 11 km di selatan Rantepao dan 7 km di utara Makale. Dari pusat Kota Rantepao dapat ditempuh sekira 15 menit dengan akses jalan desa berupa aspal berbatu hingga berhenti diujung jalan. Tersedia lahan parkir cukup 5 mobil di depan toko penjual cenderamata.

Berikut panduan transportasi ke Tana Toraja:

• Untuk mencapai Tana Toraja dari luar Sulawesi anda harus terbang ke bandara Sultan Hasanuddin di Makassar, ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Sebagai "pintu masuk" untuk Indonesia Timur ada banyak maskapai yang terbang ke dan dari Makassar baik dari Jakarta, Bali, Manado dan kota-kota lainnya.

• Satu-satunya cara untuk mencapai Toraja dari bandara Makassar adalah melalui jalur darat. Untuk saat ini tidak ada penerbangan antara Makassar dan Toraja. 

• Ada bus ke Rantepao yang berangkat dari Makassar setiap harinya. Waktu tempuh perjalanan darat ke Toraja sekitar 8 jam sudah termasuk berhenti di resting area atau warung makan. Tiket bus dapat dibeli di terminal maupun di perwailan jasa angkutan darat, sebaiknya dianjurkan berangkat dari terminal bus DAYA, sekitar 20 menit keluar dari kota dengan angkot pete-pete atau ojek demikian juga dari bandara. Biasanya pemberangkatan bus di pagi hari (7:00), pada siang hari (01:00) dan di malam hari (pukul 7 malam). 

• Beberapa perusahaan jasa transportasi di Rantepao dan Makale mengoperasikan bus jurusan Makassar-Toraja. Jumlah armada bus setiap hari tergantung pada jumlah penumpang. 

• Bila ingin cara terbaik dan termudah silahkan menghubungi agen perjalanan yang berpengalaman untuk mengatur dan mengurus jadwal lengkap Anda untuk berkunjung ke dataran tinggi Toraja.


Kuliner

Lemo, Pekuburan di Tebing Batu Khas Toraja. Foto: ist
Sekitar Kota Makele dan Rantepao ada banyak restoran dan warung makan. Malam hari di dua kota tersebut tersedia banyak warung makan di pinggir jalan. Untuk Anda yang Muslim dapat bertanya terlebih dahulu apakah itu olahan babi atau bukan.

Salah satu tempat makan yang dapat menjadi referensi adalah Aras Cafe di pusat Kota Rantepao. Cafe tersebut cukup nyaman dan terkenal, dikelola Bapak Aras (0811422141) yang juga menjabat ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia untuk wilayah Toraja.

Sebagai panduan menu khas makanan Toraja  yang dapat Anda cicipi adalah pakpiong ayam, sayur  daun ubi yang di tumbuk, sate keong, puding labu, dan olahan makanan lain yang menggunakan media alas daun pisang. Jangan lupa cicipi kopi toraja yang telah terkenal di kalangan pecinta kopi.


Tips 

Cinderamata yang bisa anda jumpai dan beli di sekitar objek wisata Lemo. Foto: ist
Pastikan kehadiran Anda di tempat ini tidak melanggar aturan adat seperti memindahkan tulang belulang apalagi mengambilnya. Apabila ada peti mati yang jatuh dari tebing tempatnya semula diletakkan, maka tulang, tengkorak, ataupun dan yang lainnya tidak boleh dipindahkan tanpa persetujuan adat dan serangkaian upacara adat Toraja. Oleh karena itu, Anda perlu berhati-hati jangan sampai menginjak tulang dan tengkorak tersebut, apalagi memindahkannya.

Waktu terbaik berkunjung ke Toraja adalah saat penyelenggaraan acara Lovely December yang digelar Pemkab Toraja Utara antara November hingga puncak acara pada 26 Desember. Pada masa tersebut biasanya ada diskon penginapan hingga 50 %.

Untuk berkeliling Anda dapat memanfaatkan ojek yang merupakan alat transportasi setempat. Pilihan lain Anda dapat menyewa kendaraan dengan atau tanpa supir untuk untuk menikmati perjalanan berkeliling Toraja. Beberapa tempat yang dapat dituju adalah Kete Kesu, Londa, dan Batutumonga.

Sebelum Anda memasuki komplek pekuburan di Lemo, akan Anda dapati toko cenderamata berjejer. Mereka menjual beragam souvenir khas toraja seperti kain kain tenun, ukiran, baju bertuliskan Toraja, perhiasan, kerajinan tangan, hingga miniatur tau-tau. 

Harga cenderamata yang dijual beragam mulai dari puluhan ribu untuk kerajinan dan perhiasan hingga jutaan untuk sebuah kain tenun. Keluarkan kemampuan tawar-menawar dengan berbincang-bincang bersama penjualnya, mereka pun sangat ramah dan siap membantu Anda mendapatkan informasi berwisata di Toraja.


Akomodasi
Toraja Misiliana Hotel, hotel dengan arsitektur khas Toraja. Foto: ist
Kota Rantepao adalah gerbang wisata di Tana Toraja dan menyediakan beragam penginapan. Akomodasi yang lain dapat ditemui di Kota Makale dan Ge’tengan. 

Lokasi penginapan berupa homestay yang dapat Anda sewa dan lokasi terdekat dengan Lemo adalah lemo Homestay. Lokasinya  ada di Jalan Objek Wisata Lemo, Tana Toraja. Emiliknya adalah Bapak Yonathan Rantepadang, Anda dapat menghubungi beliau di nomor 085711113781.

Berikut adalah daftar hotel yang bisa Anda pilih saat berkunjung ke Toraja.

Toraja Misiliana Hotel (www.torajamisiliana.com)

Deskripsi:
Bagi para wisatawan yang ingin menjelajahi kota Tana Toraja, Toraja Misiliana Hotel adalah pilihan yang sempurna. Terletak hanya 3 KM dari kehebohan pusat kota, hotel bintang 3 ini memiliki lokasi yang bagus dan menyediakan akses ke obyek wisata terbesar di kota ini. Dengan lokasinya yang strategis, hotel ini menawarkan akses mudah ke destinasi yang wajib dikunjungi di kota ini.

Di Toraja Misiliana Hotel, setiap upaya dilakukan untuk membuat tamu merasa nyaman. Dalam hal ini, hotel menyediakan pelayanan dan fasilitas yang terbaik. Ketika menginap di properti yang luar biasa ini, para tamu dapat menikmati check-in/check-out ekspres, penyimpanan bagasi, bar, layanan antar jemput, toko.

Semua akomodasi tamu dilengkapi dengan fasilitas yang telah dirancang dengan baik demi menjaga kenyamanan. Hotel ini menawarkan fasilitas rekreasi yang mengagumkan seperti kolam renang (luar ruangan), taman, lapangan tenis, gym/fasilitas kebugaran, spa untuk menjadikan penginapan Anda tidak terlupakan. Ketika Anda mencari penginapan yang nyaman di Tana Toraja, jadikanlah Toraja Misiliana Hotel rumah Anda ketika Anda berlibur.


Marante Hotel
www.marantetoraja.com

Toraja Prince Hotel
www.torajaprince.com

Toraja Heritage Hotel
Jl. Kete Kesu, P.O.Box 80 Rantepao, Toraja Utara
Telp: +62 423 21192
Fax : +62 423 21666
E-mail: info@torajaheritage.com
Website: www.torajaheritage.com

Luta Resort Rantepao
Jl. Dr Ratulangi No 26 Rantepao, Toraja Utara
Telp: +62 423 21060
Fax: +62 423 21060
E-mail: post@lutaresorttoraja.com
Website: www.torajalutaresort.com

Hotel Marannu 
Jalan Pongtiku 116-118, Makale, Tanah Toraja

Hotel Indra Toraja 
Jalan Landrorundun 63, Rantepao.



Penjelajahan Avanza ke “Negeri Tengkorak”

Tana Toraja
Avanzanation Journey wilayah Timur berpose di desa Kete Kesu, Toraja, Sulawesi Selatan.
Toraja, – Perjalanan melelahkan sejauh 420 km dari Mamuju, Sulawesi Barat, menuju Toraja, Sulawesi Selatan, terbayar lunas. Tepat pukul 00.00 WIT, Jumat (21/2/2014), Avanzanation Journey wilayah Timur berhasil menyentuh kawasan pegunungan bagian Utara di Sulawesi Selatan.

Menuju lokasi, rombongan memutuskan melewati jalur Trans Sulawesi, rute ini sudah lama dikeluhkan masyarakat sebab kondisi buruk infrastuktur dan permukaan jalan yang tidak layak. Perbaikan dan pembangunan masih dalam tahap proses, beberapa kali tim melintasi jembatan yang sedang diperbaiki. 

Tidak hanya menjadi ranah pengujian Avanza pada kondisi sebenarnya, tantangan ini juga menantang kemampuan fisik tim sebagai penumpang. Namun itu semua bisa dilewati dengan baik tanpa halangan, berkat modal ground clearence tinggi dan performa suspensi yang mumpuni.

photo of kete kesu
Our best photo of kete kesu, and the fun with velozity community #AvanzantionJourney
Tana Toraja
Rasa sumringah kembali datang di pagi hari usai melepas lelah. Perjalanan penuh semangat berlanjut, agenda hari ini mengekplorasi budaya Toraja yang sudah tersohor ke seluruh dunia. 

Menurut mitos dan kepercayaan yang berkembang, suku Toraja sekarang merupakan kaum pendatang, sedangkan daerah yang mereka tinggali disebut Tana Toraja.

Destinasi pertama mengunjungi salah satu lokasi primadona wisata Sulsel, patung Lakipadada yang terletak tengah danau Makale. Cerita di balik ikonis Toraja ini memiliki banyak versi. 

Konon, Lakipadada adalah bangsawan Tana Toraja yang merantau mencari mustika hidup abadi setelah berduka ditinggal saudara perempuannya.

Tana Toraja merupakan perpaduan antara agama, adat istiadat, seni dan budaya, yang berjalan selaras. Nama lain yang sering disebutkan adalah “Negeri Tengkorak”, sebab berkunjung ke Toraja mirip melayat ke makam. Masyarakatnya tidak menguburkan jenazah di dalam tanah, tapi di batu.

Kubur Londa Tana Toraja
Saat ini #Timindotimur melakukan wisata ke taman makam LONDA. Tempat ini merupakan pemakaman tokoh/masyarakat sekitar toraja, semakin tinggi derajat tokoh ini, maka di makamkan semakin tinggi. Di dalam goa, juga terdapat tengkorak pasangan yang meninggal krn tdk direstui keluarga. Sering disebut tengkorak Romeo Juliet. #AvanzanationJourney
Taman Makam Londa
Lokasi kedua mendatangi taman makam Londa. Disini bisa terlihat “keharmonisan” masyarakat setempat dengan manusia yang sudah meninggal. Kuburan terletak di dalam dan di luar bebatuan curam, seluruh peti-peti mayat diatur sesuai garis keluarga dan statusnya semasa hidup. 

Menariknya, ada tengkorak yang sengaja diletakan bersebelahan dalam satu liang. Penduduk lokal mengatakan mereka berpasangan namun tidak direstui keluarga.

Objek wisata lain yang tidak kalah memesona, Desa Kete Kesu, yang berada 4 km di bagian Tenggara Rantepao. Di sana bisa ditemukan berbagai peninggalan purbakala berupa kuburan batu, hampir semua diletakan menggantung di tebing atau gua.

Seluruh pembelajaran akan selalu diingat, Indonesia kaya dan punya nilai budaya tinggi. Tidak terasa ekspedisi Sulawesi tiba di penghujung, Makassar akan menjadi kota terakhir sebelum Avanzanation Journey menyebrang ke pulau selanjutnya.

Ini suasana pagi #teamindotimur di Tana Toraja Sob. Indah banget ya #AvanzanationJourney