Showing posts with label Kopi Toraja. Show all posts
Showing posts with label Kopi Toraja. Show all posts

Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan

Selamat berjumpa kembali Sangsiuluran Toraja...

Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan
Gambara' Tedong mentombang. Kerbau sedang berkubang. Foto: brommel.net

kita kembali ke topik "Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan"

Seandainya boleh memilih dari sekian arti dan asal kata 'Toraja', saya lebih memilih kata Toraya yang berasal dari dua kata yakni To (Tau) dan Raya (Maraya) yang bisa diartikan sebagai orang-orang 'besar' atau bangsawan. Bukannya keinginan untuk menyebut diri bangsawan, tetapi lebih kepada 'orang besar' tadi. Sebagai seorang anak manusia yang harus siap menghadapi tuntutan jaman untuk tetap berjiwa besar dan menjadi tuan atas dirinya sendiri. Lain dari itu adalah sebuah ketertarikan terhadap sejarah dan legenda yang turun temurun diwariskan melalui budaya tutur tentang keagungan budaya di tanah leluhur. Hmmm cerita panjang yang patut ditelusuri.

Selama ini, Toraja dikenal sebagai salah satu destinasi pariwisata Indonesia dan juga dikenal di dunia bahkan diusulkan untuk masuk sebagai salah satu situs warisan dunia (kebanggan tersendiri sebagai orang Toraja). 

Selain Bali, Toraja juga dikenal sebagai destinasi wisata budaya, adalah ritual-ritual budaya nan unik berbalut nuansa mistik yang tidak dipungkiri sudah menjadi salah satu daya tarik pariwisata Toraja. Selain itu, situs-situs bersejarah seperti pekuburan di tebing batu, rumah adat berusia ratusan tahun, peninggalan megalitik seperti batu simbuang yang sampai hari ini semua itu masih terjaga dan dipertahankan dalam tradisi masyarakat Toraja. Sebuah penghargaan anak cucu terhadap karya keagungan peradaban leluhur.

Nah berikut ini adalah beberapa hal yang membuat Toraja tak terlupakan menurut versi Toraja Paradise;

Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan
Ma'Badong, salah satu ritual dalam upacara Rambu Solo' di Toraja. Foto: Wego 
1) Ritual Budaya Rambu Solo'

Ritual budaya yang satu ini memang berbeda dengan yang lain, Rambu Solo' selalu meninggalkan banyak 'kenangan' baik itu asam _seperti katapi_ atau manis _susi golla-golla_. Seluruh keluarga (kecuali yang berhalang hadir), sanak famili, kerabat dekat maupun jauh, berkumpul bersama untuk mengadakan ritual pemakaman paling meriah ini. 

Masih utuh dalam ingatan, saat malam di lantang menyaksikan to ma'badong atau sekedar mendengarkan cerita orang-orang tua dulu, mulai dari rentetan silsilah, sejarah perang (kisah to balanda dan dai nippon cukup menarik), hasil panen, cerita rakyat, kisah legenda (biasanya dipermanis dengan bingkai mistik) sampai panggung politik tak luput jadi bahan obrolan. Tuak dan kopi Toraja juga tak mau ketinggalan ditambah cemilan tradisional cukup mampu membentengi tubuh dari serbuan hawa dingin khas pegunungan Toraja, dan jangan lupakan peran Sambu' Lotong... 

Ritual Rambu Solo' di Toraja, menjadi salah satu magnet terbesar turis mancanegara maupun turis domestik. Disebut juga Aluk Rampe Matampu, Rambu Solo' merupakan ritual pemakaman orang Toraja yang identik dengan mengorbankan hewan ternak seperti babi atau kerbau (biasanya dalam jumlah besar) kepada arwah leluhur atau orang yang meninggal dunia. 

Ritual adat tersebut biasanya berlangsung meriah dan menguras materi. Pihak keluarga akan berusaha keras mengumpulkan semua 'keperluan' agar mereka bisa menyelenggarakan ritual Rambu Solo', sebab Rambu Solo' adalah salah satu bagian utama dari siklus hidup masyarakat Toraja. Rambu Solo' juga dianggap sebagai bentuk tanggung jawab keluarga terhadap orang yang sudah meninggal. 

yaah, meski sering menimbulkan banyak pro dan kontra terutama budaya Pantunu/Mantunu (menyembelih hewan ternak dalam jumlah besar, biasanya saat ritual Rambu Solo'). Namun itulah Toraja, tetap menjaga tradisi yang sudah mengakar selama ratusan tahun. Kematian adalah sesuatu yang mewah di Toraja (baca disini)

Berlandaskan kearifan nenek moyang dan diwariskan dari generasi ke generasi, tentunya budaya Toraja tidak akan luntur hanya karena persepsi segelintir orang. Segelintir orang yang pastinya termasuk beberapa generasi muda Toraja, dengan pendidikan yang lebih baik serta pemahaman peradaban modern menganggap ritual budaya di Toraja sebagai pemborosan, kekerasan terhadap hewan, termasuk juga mengkafirkan Aluk Todolo (kepercayaan leluhur Toraja) atau 'dipaksa' masuk sebagai salah satu aliran kepercayaan Hindu Bali, serta banyak pernyataan lain tentang 'buruknya' budaya Toraja yang terus menggerus eksistensi jatidiri orang Toraja.

Budaya Toraja bukanlah budaya yang baru dilahirkan dan akan mati muda. Sebagai bukti, aturan adat Toraja (meski sebagian besar hanya diwariskan melalui budaya tutur) sudah jauh ada sebelum budaya modern dan agama-agama impor berkembang di Toraja. Tetapi aturan adat itu tetap hidup dalam keseharian masyarakat Toraja, terus beradaptasi dan tidak kehilangan jatidirinya ditengah gempuran peradaban modern. 

Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan
Deretan Tongkonan Karuaya, salah satu kompleks Tongkonan di Toraja. Foto: Iqbal Kautsar
2) Rumah adat Tongkonan

Tidak jarang kita mendengar bila sesama orang Toraja bertanya dari Tongkonan mana? yaa Tongkonan merupakan akar silsilah rumpun keluarga orang Toraja. Jadinya miris bila generasi muda Toraja melupakan atau pura-pura lupa asal usul leluhur keluarganya.

Seni arsitektur yang masih tradisional ini menurut tradisi lisan masyarakat Toraja meyakini bahwa bentuk itu dilatarbelakangi awal datangnya leluhur orang Toraja dengan menggunakan perahu. Bentuk perahu itulah ilham pembuatan rumah Tongkonan, sehingga bentuk atapnya menjulang ke depan dan ke belakang. Rumah adat berbentuk perahu ini biasa juga disebut Lembang (masih ingat lirik lagu Toraja; "garagan ki' Lembang Sura', lopi di maya-maya")

Rumah adat khas Toraja ini, selain berfungsi sebagai tempat tinggal, juga mempunyai fungsi dan peranan serta arti yang sangat penting dan bernilai tinggi dalam kehidupan masyarakat Toraja. Tongkonan, bangunan dengan atap berbentuk perahu ini dianggap sebagai pusaka warisan dan hak milik turun temurun dari orang yang pertama kali membangun Tongkonan tersebut. 

Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan rumah adat ini sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja. Kata Tongkonan berasal dari kata “Tongkon” (duduk_berkumpul) mengandung arti bahwa rumah Tongkonan itu ditempati untuk duduk mendengarkan serta tempat untuk membicarakan dan menyelesaikan segala permasalahan penting dari anggota masyarakat dan keturunannya.


Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan
Kubur batu Lemo, salah satu kompleks pemakaman di tebing batu Toraja. Foto: Mezak Yapin
3) Kubur di Toraja

Di Toraja, areal pekuburan punya daya tariknya tersendiri. Kubur-kubur unik orang Toraja menawarkan citarasa wisata yang berbeda dengan destinasi wisata lain di Indonesia, diantaranya liang kuburan di tebing-tebing batu, kuburan bayi di batang pohon, dan model-model pekuburan yang lain. Mungkin bagi sebagian orang kuburan itu menyeramkan, tapi di Toraja kuburan malah ramai dikunjungi setiap tahunnya. 

Bahkan di saat-saat tertentu, keluarga dari yang dikuburkan membuka kubur tersebut baik untuk sekedar menjenguk maupun membersihkan dan mengganti pakaian anggota keluarga yang dikuburkan. Ritual mengganti pakaian leluhur yang sudah dikuburkan ini disebut Ma'nene'.

Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan
Harmoni alam dan budaya. Museum Ne' Gandeng, Toraja Utara. Foto: Mezak Yapin
4) Harmoni Alam Pedesaan, Budaya dan Masyarakatnya

Hal-hal menarik dan tak terlupakan di Toraja bukan hanya ritual pemakaman dan wisata kuburan. Bentang alam Toraja juga mampu menyuguhkan panorama nan eksotik yang memanjakan mata, tak perlu banyak bersolek untuk memikat wisatawan. 

Di Toraja, terutama di pedesaan, petak-petak areal persawahan hijau membentang ada pula yang behimpit meramping di punggung perbukitan dialiri sungai kecil seperti sebuah simpul yang menambatkan hati saya agar selalu mengingat betapa besar anugerah sang pencipta. 

Budaya siangkaran sipakaboro' telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tradisional Toraja. Akar budaya yang mewariskan senyum keramahan kepada semua yang hidup, bentuk ketulusan yang jauh dari sekat-sekat gengsi kemapanan ala komunitas perkotaan. 

Juga slogan Sipamisa', Sang Torayan, Solata, dll, menjadi ikatan pemersatu etnis Toraja, baik di kampung halaman maupun di tanah rantau. 

Singkatnya Toraja adalah perpaduan yang harmonis antara keindahan alam dan masyarakat yang berbudaya. Sebuah pelukan hangat yang membekas dan tidak terlupa.

Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan
Pa'piong, Tollo' Lendong dan lada Katokkon. Foto: ist
5) Kuliner Khas Toraja

Setiap orang punya selera masing-masing untuk urusan kuliner. Bagi saya sendiri Pa'piong Bulunangko dan Tollo' Lendong dengan bumbu Pamarrasan menempati peringkat utama dan tiada duanya (ya iyalah, adanya cuma di Toraja). Kedua masakan ini bisa dipadukan dengan nasi jagung (bassang dalle). hmmm jadi lapar, manasu mo raka Indo'...?

Untuk selera makanan ringan, deppa tori' dan la'pa' dua' kayu memberi rasa manis di lidah dan ingatan saya. 

Tapi ada salah satu bumbu dalam campuran kuliner Toraja yang membuat saya sulit melupakan kampung halaman, lada katokkon itu pedisnya bikin trauma...! 

Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan
Contoh produk kopi Toraja dalam kemasan.
6) Kopi Toraja

Berawal dari tangan para petani di pegunungan Toraja, hingga tersebar di seluruh dunia, kopi Toraja telah meninggalkan jejak-jejak aroma kebanggan bagi negeri ini. Menikmati kopi Toraja di tempat asalnya usai menjelajah alam Toraja yang indah permai tentunya menjadi keinginan para penikmat kopi. 

Bayangkan minum kopi Toraja di pelataran Tongkonan pada sore hari, sambil memandangi barisan perbukitan nan hijau serta hamparan persawahan yang mulai menguning, anak-anak kecil yang masih asik bermain, petani yang kembali pulang, kerbau dan babi yang mulai berisik di kandang, nyanyian burung-burung berpadu senandung rumpun bambu, aah... biarkan imajinasi lepas tanpa batas menuju negeri dongeng. Atau lebih tepatnya kepingan surga di jantung Sulawesi.  

Kopi Toraja merupakan kopi jenis Arabica yang punya karakteristik sendiri, coba menikmatinya tanpa menggunakan gula atau pemanis, kita akan merasakan rasa gurih yang jarang ditemukan dalam kopi-kopi lokal di daerah lain. Rasa gurih ini merupakan salah satu ciri khas utama kopi Toraja yang membuat orang ketagihan menikmati kopi ini. 

Kopi Toraja merupakan komoditas yang patut diperhitungkan, Jepang dan Amerika merupakan negara utama pengimpor kopi ini. Bahkan di Jepang, merek dagang kopi Toraja sudah dipatenkan oleh Key Coffee. Di beberapa kafe-kafe di dunia punya kelasnya sendiri dengan harga jual yang tentunya tidak murah. Sayangnya harga yang berkelas itu tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan petani kopi di tempat asalnya.  


Gambaran di atas hanya secuil kisah tentang Toraja. Akan lebih indah bila anda menyaksikan dan mengabadikannya sendiri.

Bonus: 
Foto: @sanggar_tari_dilangi

Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan
sekian dan terimakasih

Bila ada diantara pembaca yang budiman memiliki pendapat berbeda atau sekedar ingin menambahkan silahkan dititipkan pada kolom komentar yang tersedia dibawah postingan ini. 


Semoga bermanfaat, Salam.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata [Bag.II]


Londa; Wisata Makam dan Tulang Belulang

Hari baru dimulai saat saya mengunjungi kompleks makam Londa. Obyek andalan Toraja ini hanya didatangi lima turis, sudah termasuk saya dan fotografer. Saya melewati sejumlah keranda dan tabela berukir yang dipenuhi tulang-belulang, lalu memasuki gua alami di rahim tebing batu. Penjaga makam menyulut petromaks dan mengantarkan saya memasuki lorong yang penuh liku. Panoramanya mencekam. Sisa-sisa jasad bertaburan...

Londa bagaikan sebuah sarkofagus gigantik. Saya mesti berhati-hati saat melangkah atau berpegangan pada dinding, seraya berharap petromaks tidak tiba-tiba padam kehabisan minyak. Langit-langit kemudian merendah hingga saya mesti merangkak. “Bagaikan beruang yang berpura-pura menjadi laba-laba,” tulis Lawrence Blair dulu saat memasuki makam di Toraja.

Dalam sebuah brosur kapal pesiar, Londa dipromosikan sebagai tempat yang menawarkan sensasi petualangan Indiana Jones. Di dalam gua, atmosfernya memang menegangkan. Tapi di luar, Londa adalah sebuah obyek yang dikemas rapi.

Di sekitar mulut gua, ada jalan setapak berbahan semen, toilet umum, beberapa tempat duduk. Sejauh mana kita boleh memodifikasi petilasan tua atas nama kenyamanan? Pertanyaan saya mungkin berlebihan. Keluar dari gua, lagu If Tomorrow Never Comes berkumandang dari toko suvenir dan memantul-mantul di dinding kapur.

Di atas mulut gua, tau-tau berbaris rapi seperti para bangsawan di balkon istana. Berbeda dari tau-tau yang dijual di Eropa, wujud mereka lebih modern. Dulu, totem ini lebih simpel: bertubuh gelap, memiliki iris kecil, berbalut kain polos. Dulu juga, tangan kanannya menengadah sebagai simbol kesejahteraan bagi keluarga yang ditinggalkan, sementara telapak kirinya menghadap ke sisi dalam sebagai tanda perlindungan. Setelah zaman jauh bergulir dan selera berubah, tau-tau dipahat lebih riil, lebih mirip manusia, sampai-sampai wajahnya tertangkap face detector kamera. Mereka tak ubahnya patung lilin di Madame Tussauds. Filosofi lama yang kaya makna, tergeser. Betapa Toraja telah berubah.
Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Gua-gua alami yang banyak tersebar di Toraja. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Rantepao; Salib Raksasa, Jalanan Rusak dan Kopi

Saya kembali mengarungi jalan. Di Rantepao, salib raksasa menjulang di atas bukit, seolah hendak membaptis kota ini dalam sinar Tuhan. Kota tetangga, Makale, sedang membangun patung Yesus. Jauh di kaki monumen-monumen suci itu, jalan-jalan rusak dan sampah berserakan.

Di Hotel Pison, saya berhenti untuk menyeruput kopi. Berbeda dari kopi Gayo yang menyetrum mata, kopi Toraja menyulut suasana melankolis, seolah merayu kita untuk mencomot buku dan merebahkan tubuh. “Lebih enak jika dibiarkan sejenak di cangkir. Mirip kain luntur yang dicelupkan ke ember, biarkan sampai lunturnya hilang,” jelas Eli, perintis Kaana Toraya, merek dengan status kultus di kalangan penggemar kopi. Dia memakai kata “Toraya,” istilah lawas yang hanya digunakan oleh sesama orang lokal.

Biji-biji kopi terbaik dipetik dari Perbukitan Awan dan Sapan. Dua perusahaan asing sudah lama mengeruk uang di sana. Di luar kopi, Toraja praktis tak punya mesin ekonomi yang mumpuni. “Tidak ada industri di Toraja. Hanya ada kopi,” ujar Aras Parura, seorang pemilik kafe di Rantepao. Fakta itulah yang menurutnya memicu gelombang eksodus warga, terutama di kalangan kaum terdidik yang menikmati berkah program Repelita Orde Baru.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Kalung tradisional yang terbuat dari taring babi atau hewan lain. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Perantau Toraja; Golongan Kaya Baru, Godaan Senikmat Kopi

Kopi menghangatkan malam-malam dingin, tapi kopi tak cukup memuaskan para sarjana muda yang penuh mimpi. Di saat yang bersamaan, investasi asing merambah Kalimantan, Papua, dan Jawa. Lapangan kerja terbuka lebar. 

Suku Toraja, kaum yang percaya leluhur mereka diturunkan dari bintang-bintang di angkasa, mendadak menemukan sumur uang baru untuk hidup mereka di dunia. 

“Penduduk Toraja paling 500 ribu,” kata Aras lagi, “tapi yang tinggal di luar lebih dari satu juta jiwa.” Tradisi merantau melahirkan golongan kaya baru. Di kampung halaman, kisah-kisah mereka menyebar secepat gosip artis. Godaan migrasi menular dari mulut ke mulut. 

Rumput tetangga terlihat semakin hijau. Anak-anak pun menghampiri bapaknya. Tetangga menyusul tetangga. Bagi mereka yang berada di kasta budak, merantau punya insentif yang lebih sukar ditampik: solusi untuk membuka lembaran baru di negeri seberang sebagai “orang merdeka.”

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Kristen adalah agama mayoritas di Toraja meski mereka memiliki agama tradisional Aluk Todolo. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Perantau Toraja; Masuknya Injil, Pergeseran Nilai Budaya & Negosiasi Status Sosial

Dampak merantau juga menyentuh domain ritual. Lagi-lagi, kita bisa melihatnya pada Rambu Solo. Ritual suci ini kerap berubah menjadi ajang unjuk kekayaan. Golongan kaya baru berusaha mendaki tangga mobilitas sosial dengan royal membeli kerbau, membangun Tongkonan, bahkan kasta. Status bangsawan yang tadinya diwariskan lewat jalur darah, kini hendak didapuk lewat lembaran rupiah. Tapi Rambu Solo semacam itu jauh dari ekspektasi turis. Mereka datang untuk menonton upacara yang digelar masyarakat tribal keturunan langit, bukan seremoni mewah yang didanai oleh kaum diaspora yang datang mengendarai Rubicon dan menggenggam iPhone. Betapa Toraja telah berubah. Toraja “dataran tinggi yang sakral,” tulis sebuah semboyan wisata.

“Salah satu penyebab utama perubahan adalah masuknya Injil,” kata Eric Crystal Lantang. “Aturan Aluk To Dolo dan dogma Injil kerap berbenturan.” Eric, seorang penganut Kristen, adalah keturunan dari raja besar Puang Sangalla. Dia menilai masuknya Injil lebih dari 100 tahun silam telah menggeser sendi-sendi budaya lokal. Dalam banyak catatan, konflik memang pecah antara gereja dan keyakinan pagan. “Pada 1985, sebuah gereja Protestan menyatakan tau-tau adalah sebuah isu besar yang merongrong gereja,” tulis Toby Volkman lagi dalam esainya, Toraja Culture and the Tourist Gaze. Gereja menolak hidup manunggal dengan keyakinan purba. Aluk To Dolo juga kian terjepit setelah pemerintah Orde Baru melakukan “perampingan” religi dengan mengakui hanya lima agama resmi.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Kostum penari tradisional Toraja. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Aluk To Dolo memang akhirnya selamat dari cap sesat usai dikategorikan sebagai “cabang” dari Hindu Bali, tapi proses desakralisasi sudah terlanjur bergulir dan adat kian tergerus. Eric, yang namanya diambil dari seorang peneliti Amerika, kini berusaha menjadi penengah antara agama samawi dan kepercayaan leluhurnya. Babad monarki sudah lama ditutup, tapi peran sosialnya sebagai bangsawan belum rampung. Melalui mimbar gereja, Eric mengajak warganya menyudahi benturan antara ajaran Kristen dan Aluk To Dolo. Dia percaya, solusi kompromi bisa tercipta di antara kedua kubu. “Dulu, tau-tau dilarang karena dianggap penyembahan terhadap berhala,” ujarnya. “Saya lalu jelaskan, tau-tau tak ubahnya foto, tapi tiga dimensi. Tujuannya untuk mengenang almarhum, bukan untuk disembah.”

Di Toraja, adat bagaikan kumpulan kaidah lawas yang rapuh. Tafsirnya ditentukan oleh generasi sekarang, oleh orang-orang yang menatap dunia dalam kacamata modern. Pertanyaannya, ketika banyak tau-tau lenyap, pastor memimpin ritual adat, budak duduk sederajat dengan bangsawan di bangku sekolah, dan atap Tongkonan diganti seng, masih relevankah Toraja “menjual” eksotisme budaya?

Barangkali saya yang keliru mencerna zaman. Toraja adalah sebuah kebudayaan yang bergerak, sebuah “living villages” tulis Kathleen Adams dalam Cultural Commoditization in Tana Toraja. Tak mungkin bagi kita mengharapkan Toraja membeku dalam waktu layaknya sebuah artefak dari zaman purba. Lagi pula, kebudayaan Toraja sejak awal tak pernah dikemas sebagai atraksi wisata. Rambu Solo adalah acara privat keluarga. Tau-tau juga milik keluarga, begitu pula makam dan Tongkonan. Orang Toraja berhak memutuskan sejauh mana mereka hendak mengubah apa yang mereka punya.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Staf Toraja Heritage Hotel di tepi kolam dengan latar struktur berarsitektur tongkonan yang berisi kamar tamu. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Semangat Baru Pariwisata Toraja

Namun, bukan berarti harapan sudah pupus bagi pariwisata. Asa masih ada. Dalam transisi besar yang membasuh dataran tinggi ini, turis menangkap pesona lain yang selama ini terpinggirkan oleh tema-tema besar “kematian.” Sebuah survei yang didukung LSM Swisscontact pada Agustus 2014 mendapati, turis justru mencantumkan “alam” sebagai daya tarik terbesar Toraja. Prosesi kematian yang selama ini menjadi mantra pemikat, jatuh ke peringkat kedua. Pelancong ternyata lebih menyukai lanskap elok yang terhampar di balik Tongkonan dan tebing-tebing makam.

Swisscontact hadir di Toraja guna mendukung kinerja DMO (Destination Management Organization), semacam tourism council yang beranggotakan para pemangku kepentingan lokal. Luther Barrung, mantan Direktur Pemasaran Kementerian Pariwisata, didaulat sebagai pemimpinnya. Generasi muda seperti Yohan Tangkesalu, General Manager Misiliana Hotel, duduk di struktur pengurus. Bahkan figur bersuara lantang sekaliber Eric Crystal turut terlibat. Setelah sekian lama didikte oleh suku tetangga mereka di selatan, nasib pariwisata Toraja kini berada di tangan warganya sendiri.

Selain survei, DMO merumuskan logo baru pariwisata. Tahun ini, mereka bakal mengikuti bursa pariwisata di Bali, melakukan pemetaan ulang obyek, menciptakan situs wisata, juga mencetak peta dan brosur-brosur baru. “Diversifikasi produk kini sedang digarap. Toraja butuh banyak inovasi baru,” ujar Tri Laksono, Project Officer for Destination Development Swisscontact.

Di bawah panji DMO, Toraja bersiap menulis lembaran baru: menjadi destinasi bagi para petualang alam, bukan cuma peziarah. Kelak, turis melancong ke sini bukan semata untuk menonton Rambu Solo atau menembus gua makam, melainkan untuk menjelajah sawah, trekking ke kebun kopi, atau bermain arung jeram. Awalnya bersandar pada kematian, Toraja kini berharap pada kehidupan —pada padi yang tertiup angin, biji-biji kopi yang ranum, sungai yang tak lelah mengalir.


Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Bus eksklusif yang melayani transportasi dari Makassar ke Toraja. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Bagaimana Menuju Toraja;

—Rute
Toraja bisa dijangkau dari Makassar dengan menaiki bus. Salah satu operatornya, Primadona (Jl. Perintis Kemerdekaan Km.13, Ruko Bukit Khatulistiwa Blok B/8, Makassar; 0811-4497-212), memiliki bus mewah dengan kursi yang menyerupai kelas bisnis pesawat. Ada dua jadwal keberangkatan: pukul 21:00 dan tiba pukul 06:00, atau pukul 09:00 dan tiba pukul 18:00. Pesawat sebenarnya tersedia, tapi jadwalnya kadang direvisi mendadak. Aviastar (aviastar.biz) melayani penerbangan dari Makassar menuju Bandara Pongtiku dua kali per minggu.

—Penginapan
Selain menawarkan 134 kamar yang disebar dalam bangunan berbentuk tongkonan, Toraja Heritage Hotel (Jl. Kete Kesu, Rantepao; 0423/211-92; toraja-heritage.com) memiliki kolam renang yang fotogenik, serta menawarkan akses mudah ke desa-desa adat. Berdiri di atas lahan seluas delapan hektare, Misiliana Hotel (Jl. Pongtiku 27, Rantepao; 0423/212-12; torajamisiliana.com) menaungi dua kolam renang, ballroom, restoran, spa, serta 98 kamar. Hotel ini juga menawarkan pengalaman homestay: menginap di tongkonan tua yang telah disulap menjadi suite.

—Makan & Minum
Restoran terbaik umumnya hanya terdapat di hotel. Salah satu yang berhasil menembus dominasi itu adalah Mambo (Jl. DR. Sam Ratulangi 34, Rantepao; 0423/211-34; mamborestaurant.co), restoran yang menyuguhkan beragam menu, termasuk masakan lokal pa’piong dan pamarrasan. Sarang hangout populer di kalangan turis, Café Aras (Jl. A. Mappanyukki 64, Rantepao; 0823-9627-5688), menawarkan bangunan yang sejuk di tengah kota Rantepao yang bising. Bagi penikmat kopi, dua tempat yang layak didatangi adalah Warung Kopi Toraja (Jl. Poros Makale, Rantepao; 0852-4824-7654) dan Hotel Pison (Jl. Pongtiku 2 No.8, Rantepao; 0423/213-44).

—Aktivitas 
Situs-situs tua masih menjadi obyek andalan di peta wisata. Untuk menyaksikan menhir, pergilah ke Rante Kalimbuang di Bori’. Di Londa, kita bisa memasuki makam gua, sementara di Lemo kita bisa menyaksikan tau-tau dalam desain orisinal. Kampung adat yang paling tersohor, Kete’ Kesu’ lazim dijadikan tempat upacara-upacara besar. Dibandingkan desa adat lain, Buntu Pune’ relatif masih autentik. Kala di sini, carilah Marla, sarjana arkeologi yang lancar bercerita tentang kebudayaan Toraja, termasuk tentang benteng di samping desanya.

Desa-desa tenun terpusat di sisi timur laut, salah satunya Sa’dan To’ Barana. Bawa uang tunai jika ingin berbelanja. Jika ingin menyerap panorama Toraja yang paling karismatik, pergilah ke Batutumonga. Bawalah sepatu trekking, karena Anda pasti tergoda untuk mengarungi sawah dan lembah hijaunya.

—Informasi 
Menyewa pemandu adalah metode terbaik. Tapi jika ingin berwisata secara mandiri, Anda bisa menyewa mobil, kemudian menggali informasi dari pihak DMO (visittoraja.com) atau Swisscontact (Jl. Makula’ Tampo, Sangalla, Makale Utara; 0423/264-43; swisscontact.or.id). Peta wisata baru belum dicetak, tapi versi lamanya masih tersedia di kantor Dinas Pariwisata Toraja Utara (Jl. Ahmad Yani 62A, Rantepao; 0423/212-77). Rambu Solo umumnya digelar di tengah tahun. Upacara kematian ini menampilkan prosesi pengorbanan kerbau dan babi. Tamu sepatutnya memberikan sesuatu kepada keluarga almarhum. Idealnya, berupa seekor babi, tapi kita bisa menggantinya dengan satu slof rokok atau beberapa kilogram gula pasir. Siapkan pakaian hitam jika ingin hadir.


____________________

Oleh: Cristian Rahadiansyah

Foto oleh: Suryo Wibowo




Sumber: DestinAsian

Kopi Toraja, Cita Rasa Kopi Dari Pulau Sulawesi

Kopi Toraja, Cita Rasa Kopi Dari Pulau Sulawesi
Toraja Arabica Coffee. (Ilustrasi Google)
Sebungkus kopi Toraja hadir ketika salah orang sahabat bepergian ke Sulawesi. Karena penasaran dengan cita rasa kopi Toraja akhirnya saya mencoba menyeduhnya. Tidak ada yang istimewa dari kopi Toraja yang bubuk kopinya hanya dibungkus dengan kantong plastik tipis dan dilabeli merk nama seseorang. 

Kurang tahu apakah kopi bubuk Toraja ini merupakan kopi yang terkenal di daerah sana atau hanya kopi Toraja biasa yang dibeli di tepi jalan.

Kopi Toraja (Kalosi) atau ada yang menyebutnya dengan nama Kopi Celebes Kalosi merupakan salah satu kopi dari Pulau Sulawesi yang cukup terkenal di nusantara dan hingga ke penjuru luar negeri.

Kopi Toraja, Cita Rasa Kopi Dari Pulau Sulawesi
Kopi Asli Toraja. Foto: Teamtouring[.]net
Dilihat dari bubuk kopinya berwarna hitam biasa dan bukan hitam pekat. Tekstur bubuk kopi cukup halus dan sepertinya telah melewati proses pengolahan yang modern. Begitu saya menyeduh kopi Toraja dengan air panas, tercium aroma kopi Toraja yang harum dan tidak berbau keras. 

Bau aroma kopi ini cukup menggoda dan sejauh informasi yang saya ketahui begitulah salah satu ciri khas kopi Toraja. Bubuk kopi Toraja yang tercampur dengan air panas langsung larut dan mengendap di dasar cangkir, tidak seperti Kopi Tulungagung yang sebagian mengendap di permukaan.

Ketika mencoba mencicipi pertama kali, rasa yang ditimbulkan cukup khas dan tidak cukup pahit untuk ukuran kopi lokal. Rasa kopi ini cukup ringan, tidak berasa asam karena kandungan asamnya cukup rendah, dan tidak berasa pekat di mulut atau tenggorokan. Saya menduga kopi Toraja merupakan kopi jenis Arabica yang berkarakteristik lebih ringan dibandingkan dengan kopi Robusta yang keras.

Bila kita merasakan kopi Toraja lebih dalam lagi terlebih bila menikmatinya tanpa menggunakan gula atau pemanis, kita akan merasakan rasa gurih yang jarang ditemukan dalam kopi-kopi lokal di daerah lain. Rasa gurih ini merupakan salah satu ciri khas utama kopi Toraja yang membuat orang ketagihan menikmati kopi ini. 

Kopi Toraja, Cita Rasa Kopi Dari Pulau Sulawesi
Secangkir Kopi Asli Toraja. Foto: Teamtouring[.]net
Ada yang bilang kopi Toraja mirip dengan kopi Sumatera, namun kurang jelas nama spesifik daerahnya karena di Sumatera sendiri terdapat beragam jenis kopi yang memiliki karakteristik rasa tersendiri.

Aroma wangi yang unik dan rasa gurih yang khas memang menjadi daya tarik kopi Toraja bagi sebagian penyuka kopi nusantara. Rasa kopi yang tidak cukup pahit dan rendah asam ini menjadi pilihan bagi orang-orang yang perutnya tidak toleransi dengan rasa asam yang tinggi. 

Namun bagi orang-orang yang menyukai kopi yang keras dan kental, menikmati kopi Toraja berasa kurang mantap dan puas. Namun bagi saya, menikmati kopi Toraja merupakan keasyikan tersendiri saat bersantai sambil membaca buku.






Mengangkat Kembali Kopi Toraja Sebagai Primadona

Mengangkat Kembali Kopi Toraja Sebagai Primadona
Produk kopi toraja dalam kemasan. 
RANTEPAO  - Tana Toraja bukan hanya terkenal dengan budaya pemakamannya, melainkan juga kopinya. Kopi arabika asal pegunungan sebelah utara Provinsi Sulawesi Selatan itu, bisa dinikmati di kafé-kafé di seantero dunia. Bagaimana jika para wisatawan mancanegara langsung datang ke Toraja untuk menikmati satu paket wisata nan lengkap: upacara pemakaman yang sarat dengan tradisi, menjelajah alam Toraja yang indah permai, plus menikmati suguhan kopi panas Toraja yang amat terkenal itu? Ini baru ide yang bagus! 

Topik inilah yang sedang hangat-hangatnya dibahas anggota Destination Management Organization (DMO) cluster Toraja, di Rantepao (ibu kota Kabupaten Toraja Utara), pertengahan pekan ini. DMO merupakan struktur tata kelola destinasi pariwisata yang mencakup perencanaan, koordinasi, implementasi, dan pengendalian organisasi destinasi secara inovatif. Tak kurang dari belasan anggota DMO Cluster Toraja, terdiri dari pelaku industri wisata, pemerintah, dan unsur masyarakat, melakukan pertemuan untuk mencapai satu kata sepakat: menggenjot kunjungan wisatawan (mancanegara maupun nusantara) ke destinasi yang jadi primadona nasional sejak 1970-an ini.  

Adalah Luther Barrung, Ketua DMO Cluster Toraja, yang mengusulkan ide "menikmati kopi Toraja langsung di tempatnya" tersebut. Usulan Mantan Direktur Pemasaran pada Direktorat Jenderal Pemasaran dan Kerja Sama Luar Negeri Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata (kini bernama Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kemenparekraf) itu, dilontarkan karena tingginya permintaan kopi Toraja untuk pasar dunia, sementara pasokannya tidak mencukupi. 

Yohan Tangke Salu, pelaku industri wisata, mengisahkan, beberapa tahun lalu ia bersama mendiang ayahnya pernah bertemu pengusaha dari sebuah perusahaan kopi besar di Australia. Permintaannya, impor 300 metrik ton per tiga bulan, atau 100 ton per bulan kopi Toraja. Pemilik "Toraja Misiliana Hotel" itu mengaku tak mampu memenuhi kebutuhan sebesar itu. 

"Itu kan ada musim-musimnya. Pertama, pas musimnya sudah habis (dipesan). Lalu apa lagi yang mau distok?" ujar pengusaha muda itu dikutip GATRAnews

Bahkan, "warung kopi" beken Starbucks dari Amerika Serikat pernah memesan kopi "edisi percobaan" (trial shipment) 20 ton -untuk memenuhi kebutuhan kopi 20 ton per bulan. Namun, katanya, setelah pemesanan pertama itu, bisnis tak berlanjut. Alasannya, kopi yang dipesan dengan yang dikirim tidak sama. Hingga kini, kopi Toraja tak ada dalam daftar menu Starbucks. Namun ada gerai kopi lainnya yang menyediakan kopi Toraja, seperti Jasper Coffee dan Excelso.  

Mengangkat Kembali Kopi Toraja Sebagai Primadona
Tator Coffee Boutique, salah satu cafe dengan design khas Toraja yang menyajikan produk kopi Toraja. Foto: OpenRice

Harga jual tinggi 

Kopi Toraja bukanlah kopi sembarangan. Karena rasanya yang nikmat, permintaan akan si hitam ini pun terus meningkat. Padahal, kopi Toraja sejati, ya cuma ada di Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara. 

Menurut Luther Barrung, kopi Toraja hanya tumbuh di ketinggian 1200 hingga 1800 meter di atas permukaan laut. Dan percaya atau tidak, untuk mendapatkan kopi seenak kopi Toraja, kopinya harus ditanam di Toraja, di kebun yang berketinggian seperti disebutkan di atas. 

"Di tempat lain, tidak sama. Rupanya tanah di sini mempunyai ciri khas tersendiri. Tumbuhnya pun sudah sangat terbatas," kata Luther dikutip GATRAnews

Terbatasnya produksi kopi Toraja, sementara permintaan tinggi, membuat harga jualnya terkatrol naik. Keterbatasan itu pula, membuat para pedagang nakal ada yang memasukkan kopi dari daerah tetangga, Bantaeng, dan diklaim sebagai kopi toraja. 

"Kopi Bantaeng seharga Rp 20 ribu (per kilogram) dibilang kopi Toraja -yang harganya mencapai Rp 100 ribu," ujar Luther. Dan saat ini, di pasaraan kopi Toraja harganya sudah mencapai Rp 140.000 per kilogram. 

Begitulah kopi Toraja, yang lahan perkebunannya sudah ada sejak zaman pemerintah kolonial Belanda. Para putra Toraja meyakini  kopi Toraja akan bangkit kembali di dunia internasional, asal saja prasarana daerah itu dibenahi. Keberadaan bandara yang representatif dan mampu didarati pesawat jet berbadan lebar, semisal Boeing, sangat mereka tunggu-tunggu. 

"Bayangkan saja, pada 1974 Toraja pernah jadi tuan rumah workshop PATA Conference.  Peserta naik bus dari Makassar, dan sukses! Kalau bandara ini jadi, go!" seru Luther. Lelaki berusia lanjut yang semangatnya masih menggebu itu membayangkan bandara baru yang berlokasi di Buntu Kunyi, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, segera terwujud dalam waktu dekat ini. 

"Akan banyak sekali (wisatawan) yang datang," harapnya.  Semoga.


Sumber: GATRAnews

Dibalik Cerita Hitamnya Kopi Arabica Toraja

Toraja Arabica coffee
Toraja Arabica coffee.
Selain terkenal dengan wisata alam dan budayanya yang sungguh mempesona, Tana Toraja juga dikenal dengan aroma kopinya yang memikat selera. Akan terasa belum lengkap jika berkunjung ke kota Tondok Lepongan Bulan ini tanpa mencicipi atau membeli kopi Arabika asli Toraja. Lantaran aroma dan cita rasanya yang sedap, memang sangat pantas bila kopi jenis arabika ini dijuluki dengan istilah "Queen of Coffee".

Kopi Toraja juga lebih dikenal dengan aromanya yang herbal. Apalagi jika segelas kopi Toraja ditambahin sehelai daun mint,,wou.. rasanya pasti lebih berbeda. Berawal dari tangan para petani, hingga tersebar di seluruh dunia, kopi Toraja selalu meninggalkan jejak-jejak aroma kebanggan bagi negeri ini. 

Kopi toraja
Kopi Toraja.
Salah satu jenis kopi Toraja yang merupakan jenis kopi terbaik dan termahal di dunia adalah kopi luwak. Wow, tidak tanggung-tanggung, ternyata jenis kopi ini dihargai dengan kisaran harga US$50 atau sekitar Rp 500 ribu setiap cangkirnya. Jika ingin membelinya dalam bentuk kemasan, kita harus relah merego kocek sebesar US$ 600 per 4,5 Kg nya.

Yang menarik dari jenis kopi ini adalah prosesnya yang sangat unik hingga bisa tersaji dalam secangkir aroma hitam yang sungguh nikmat. Kopi luwak berawal dari biji kopi yang ditemukan pada kotoran luwak. Luwak adalah sejenis hewan tupai yang banyak hidup di pinggir hutan dekat perkebunan kopi. Oleh karena itu kopi ini diberi nama kopi Luwak. Anda tertarik dengan kopi ini..??? pasti lebih bercita rasa tinggi lagi jika dipadukan dengan sebatang rokok Djarum Black.

Kopi Toraja yang juga terkenal adalah kopi yang bermerek kawata. selain merek ini, masih ada kopi-kopi Toraja merek lainnya seperti Kopi Toraja Arabica Kalosi, Toraja Coffee Paperbag dan yang penjualan dan proses produksinya ada di belakang rumah saya di Toraja adalah kopi Toraja yang bermerek dagang Kopi Sangrapuan. 

Toraja Arabica coffee
Kopi arabika Toraja.
Memang proses produksinya sangat sederhana, tapi rasanya...... woow,,, dari aroma asap penggorengannya saja, para pasien yang memeriksakan kesehatannya di dokter yang ada di dekat lokasi terpikat hatinya. Setiap harinya tak jarang juga para wisatawan yang menyisikan waktu untuk mampir berbelanja di tempat itu.

Kopi toraja
Kopi Toraja "Kawata"
Namun dibalik cerita hitamnya kopi Toraja, ada satu masalah yang merugikan Indonesia. Kopi Toraja sudah menjadi merek dagang di Jepang oleh Key Coffee dan Amerika oleh seorang pengusaha. Indonesia tak bisa langsung menjual Kopi Toraja ke Jepang dan AS, kecuali melalui Key Coffee atau pengusaha AS tersebut. Jika mengekspor langsung, pihak Indonesia bisa dituding melanggar merek yang telah didaftarkan di sana. 

Padahal kopi yang di Jepang itu aslinya kopi asal Toraja. Di Jepang, kopi jenis ini termasuk barang mewah. 40 persen kopi yang dikonsumsi di Jepang berasal dari Toraja. Buktinya pada saat Pameran Eco-Product yang dihadiri Prince dan Princess Akishino tahun 2008 kemarin, stand kopi Toraja sangat dilirik pengunjung. Terlihat antrian para pengunjung yang tak sabar mencoba dan mengulangi mencicipi nikmatnya kopi asli Indonesia ini. Selain terkenal di Jepang, kopi Toraja juga sangat dilirik pemerintah Korea.


sumber : torajacybernews[.]blogspot[.]com