Showing posts with label Tenun Toraja. Show all posts
Showing posts with label Tenun Toraja. Show all posts

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata [Bag.II]


Londa; Wisata Makam dan Tulang Belulang

Hari baru dimulai saat saya mengunjungi kompleks makam Londa. Obyek andalan Toraja ini hanya didatangi lima turis, sudah termasuk saya dan fotografer. Saya melewati sejumlah keranda dan tabela berukir yang dipenuhi tulang-belulang, lalu memasuki gua alami di rahim tebing batu. Penjaga makam menyulut petromaks dan mengantarkan saya memasuki lorong yang penuh liku. Panoramanya mencekam. Sisa-sisa jasad bertaburan...

Londa bagaikan sebuah sarkofagus gigantik. Saya mesti berhati-hati saat melangkah atau berpegangan pada dinding, seraya berharap petromaks tidak tiba-tiba padam kehabisan minyak. Langit-langit kemudian merendah hingga saya mesti merangkak. “Bagaikan beruang yang berpura-pura menjadi laba-laba,” tulis Lawrence Blair dulu saat memasuki makam di Toraja.

Dalam sebuah brosur kapal pesiar, Londa dipromosikan sebagai tempat yang menawarkan sensasi petualangan Indiana Jones. Di dalam gua, atmosfernya memang menegangkan. Tapi di luar, Londa adalah sebuah obyek yang dikemas rapi.

Di sekitar mulut gua, ada jalan setapak berbahan semen, toilet umum, beberapa tempat duduk. Sejauh mana kita boleh memodifikasi petilasan tua atas nama kenyamanan? Pertanyaan saya mungkin berlebihan. Keluar dari gua, lagu If Tomorrow Never Comes berkumandang dari toko suvenir dan memantul-mantul di dinding kapur.

Di atas mulut gua, tau-tau berbaris rapi seperti para bangsawan di balkon istana. Berbeda dari tau-tau yang dijual di Eropa, wujud mereka lebih modern. Dulu, totem ini lebih simpel: bertubuh gelap, memiliki iris kecil, berbalut kain polos. Dulu juga, tangan kanannya menengadah sebagai simbol kesejahteraan bagi keluarga yang ditinggalkan, sementara telapak kirinya menghadap ke sisi dalam sebagai tanda perlindungan. Setelah zaman jauh bergulir dan selera berubah, tau-tau dipahat lebih riil, lebih mirip manusia, sampai-sampai wajahnya tertangkap face detector kamera. Mereka tak ubahnya patung lilin di Madame Tussauds. Filosofi lama yang kaya makna, tergeser. Betapa Toraja telah berubah.
Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Gua-gua alami yang banyak tersebar di Toraja. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Rantepao; Salib Raksasa, Jalanan Rusak dan Kopi

Saya kembali mengarungi jalan. Di Rantepao, salib raksasa menjulang di atas bukit, seolah hendak membaptis kota ini dalam sinar Tuhan. Kota tetangga, Makale, sedang membangun patung Yesus. Jauh di kaki monumen-monumen suci itu, jalan-jalan rusak dan sampah berserakan.

Di Hotel Pison, saya berhenti untuk menyeruput kopi. Berbeda dari kopi Gayo yang menyetrum mata, kopi Toraja menyulut suasana melankolis, seolah merayu kita untuk mencomot buku dan merebahkan tubuh. “Lebih enak jika dibiarkan sejenak di cangkir. Mirip kain luntur yang dicelupkan ke ember, biarkan sampai lunturnya hilang,” jelas Eli, perintis Kaana Toraya, merek dengan status kultus di kalangan penggemar kopi. Dia memakai kata “Toraya,” istilah lawas yang hanya digunakan oleh sesama orang lokal.

Biji-biji kopi terbaik dipetik dari Perbukitan Awan dan Sapan. Dua perusahaan asing sudah lama mengeruk uang di sana. Di luar kopi, Toraja praktis tak punya mesin ekonomi yang mumpuni. “Tidak ada industri di Toraja. Hanya ada kopi,” ujar Aras Parura, seorang pemilik kafe di Rantepao. Fakta itulah yang menurutnya memicu gelombang eksodus warga, terutama di kalangan kaum terdidik yang menikmati berkah program Repelita Orde Baru.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Kalung tradisional yang terbuat dari taring babi atau hewan lain. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Perantau Toraja; Golongan Kaya Baru, Godaan Senikmat Kopi

Kopi menghangatkan malam-malam dingin, tapi kopi tak cukup memuaskan para sarjana muda yang penuh mimpi. Di saat yang bersamaan, investasi asing merambah Kalimantan, Papua, dan Jawa. Lapangan kerja terbuka lebar. 

Suku Toraja, kaum yang percaya leluhur mereka diturunkan dari bintang-bintang di angkasa, mendadak menemukan sumur uang baru untuk hidup mereka di dunia. 

“Penduduk Toraja paling 500 ribu,” kata Aras lagi, “tapi yang tinggal di luar lebih dari satu juta jiwa.” Tradisi merantau melahirkan golongan kaya baru. Di kampung halaman, kisah-kisah mereka menyebar secepat gosip artis. Godaan migrasi menular dari mulut ke mulut. 

Rumput tetangga terlihat semakin hijau. Anak-anak pun menghampiri bapaknya. Tetangga menyusul tetangga. Bagi mereka yang berada di kasta budak, merantau punya insentif yang lebih sukar ditampik: solusi untuk membuka lembaran baru di negeri seberang sebagai “orang merdeka.”

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Kristen adalah agama mayoritas di Toraja meski mereka memiliki agama tradisional Aluk Todolo. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Perantau Toraja; Masuknya Injil, Pergeseran Nilai Budaya & Negosiasi Status Sosial

Dampak merantau juga menyentuh domain ritual. Lagi-lagi, kita bisa melihatnya pada Rambu Solo. Ritual suci ini kerap berubah menjadi ajang unjuk kekayaan. Golongan kaya baru berusaha mendaki tangga mobilitas sosial dengan royal membeli kerbau, membangun Tongkonan, bahkan kasta. Status bangsawan yang tadinya diwariskan lewat jalur darah, kini hendak didapuk lewat lembaran rupiah. Tapi Rambu Solo semacam itu jauh dari ekspektasi turis. Mereka datang untuk menonton upacara yang digelar masyarakat tribal keturunan langit, bukan seremoni mewah yang didanai oleh kaum diaspora yang datang mengendarai Rubicon dan menggenggam iPhone. Betapa Toraja telah berubah. Toraja “dataran tinggi yang sakral,” tulis sebuah semboyan wisata.

“Salah satu penyebab utama perubahan adalah masuknya Injil,” kata Eric Crystal Lantang. “Aturan Aluk To Dolo dan dogma Injil kerap berbenturan.” Eric, seorang penganut Kristen, adalah keturunan dari raja besar Puang Sangalla. Dia menilai masuknya Injil lebih dari 100 tahun silam telah menggeser sendi-sendi budaya lokal. Dalam banyak catatan, konflik memang pecah antara gereja dan keyakinan pagan. “Pada 1985, sebuah gereja Protestan menyatakan tau-tau adalah sebuah isu besar yang merongrong gereja,” tulis Toby Volkman lagi dalam esainya, Toraja Culture and the Tourist Gaze. Gereja menolak hidup manunggal dengan keyakinan purba. Aluk To Dolo juga kian terjepit setelah pemerintah Orde Baru melakukan “perampingan” religi dengan mengakui hanya lima agama resmi.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Kostum penari tradisional Toraja. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Aluk To Dolo memang akhirnya selamat dari cap sesat usai dikategorikan sebagai “cabang” dari Hindu Bali, tapi proses desakralisasi sudah terlanjur bergulir dan adat kian tergerus. Eric, yang namanya diambil dari seorang peneliti Amerika, kini berusaha menjadi penengah antara agama samawi dan kepercayaan leluhurnya. Babad monarki sudah lama ditutup, tapi peran sosialnya sebagai bangsawan belum rampung. Melalui mimbar gereja, Eric mengajak warganya menyudahi benturan antara ajaran Kristen dan Aluk To Dolo. Dia percaya, solusi kompromi bisa tercipta di antara kedua kubu. “Dulu, tau-tau dilarang karena dianggap penyembahan terhadap berhala,” ujarnya. “Saya lalu jelaskan, tau-tau tak ubahnya foto, tapi tiga dimensi. Tujuannya untuk mengenang almarhum, bukan untuk disembah.”

Di Toraja, adat bagaikan kumpulan kaidah lawas yang rapuh. Tafsirnya ditentukan oleh generasi sekarang, oleh orang-orang yang menatap dunia dalam kacamata modern. Pertanyaannya, ketika banyak tau-tau lenyap, pastor memimpin ritual adat, budak duduk sederajat dengan bangsawan di bangku sekolah, dan atap Tongkonan diganti seng, masih relevankah Toraja “menjual” eksotisme budaya?

Barangkali saya yang keliru mencerna zaman. Toraja adalah sebuah kebudayaan yang bergerak, sebuah “living villages” tulis Kathleen Adams dalam Cultural Commoditization in Tana Toraja. Tak mungkin bagi kita mengharapkan Toraja membeku dalam waktu layaknya sebuah artefak dari zaman purba. Lagi pula, kebudayaan Toraja sejak awal tak pernah dikemas sebagai atraksi wisata. Rambu Solo adalah acara privat keluarga. Tau-tau juga milik keluarga, begitu pula makam dan Tongkonan. Orang Toraja berhak memutuskan sejauh mana mereka hendak mengubah apa yang mereka punya.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Staf Toraja Heritage Hotel di tepi kolam dengan latar struktur berarsitektur tongkonan yang berisi kamar tamu. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Semangat Baru Pariwisata Toraja

Namun, bukan berarti harapan sudah pupus bagi pariwisata. Asa masih ada. Dalam transisi besar yang membasuh dataran tinggi ini, turis menangkap pesona lain yang selama ini terpinggirkan oleh tema-tema besar “kematian.” Sebuah survei yang didukung LSM Swisscontact pada Agustus 2014 mendapati, turis justru mencantumkan “alam” sebagai daya tarik terbesar Toraja. Prosesi kematian yang selama ini menjadi mantra pemikat, jatuh ke peringkat kedua. Pelancong ternyata lebih menyukai lanskap elok yang terhampar di balik Tongkonan dan tebing-tebing makam.

Swisscontact hadir di Toraja guna mendukung kinerja DMO (Destination Management Organization), semacam tourism council yang beranggotakan para pemangku kepentingan lokal. Luther Barrung, mantan Direktur Pemasaran Kementerian Pariwisata, didaulat sebagai pemimpinnya. Generasi muda seperti Yohan Tangkesalu, General Manager Misiliana Hotel, duduk di struktur pengurus. Bahkan figur bersuara lantang sekaliber Eric Crystal turut terlibat. Setelah sekian lama didikte oleh suku tetangga mereka di selatan, nasib pariwisata Toraja kini berada di tangan warganya sendiri.

Selain survei, DMO merumuskan logo baru pariwisata. Tahun ini, mereka bakal mengikuti bursa pariwisata di Bali, melakukan pemetaan ulang obyek, menciptakan situs wisata, juga mencetak peta dan brosur-brosur baru. “Diversifikasi produk kini sedang digarap. Toraja butuh banyak inovasi baru,” ujar Tri Laksono, Project Officer for Destination Development Swisscontact.

Di bawah panji DMO, Toraja bersiap menulis lembaran baru: menjadi destinasi bagi para petualang alam, bukan cuma peziarah. Kelak, turis melancong ke sini bukan semata untuk menonton Rambu Solo atau menembus gua makam, melainkan untuk menjelajah sawah, trekking ke kebun kopi, atau bermain arung jeram. Awalnya bersandar pada kematian, Toraja kini berharap pada kehidupan —pada padi yang tertiup angin, biji-biji kopi yang ranum, sungai yang tak lelah mengalir.


Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Bus eksklusif yang melayani transportasi dari Makassar ke Toraja. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Bagaimana Menuju Toraja;

—Rute
Toraja bisa dijangkau dari Makassar dengan menaiki bus. Salah satu operatornya, Primadona (Jl. Perintis Kemerdekaan Km.13, Ruko Bukit Khatulistiwa Blok B/8, Makassar; 0811-4497-212), memiliki bus mewah dengan kursi yang menyerupai kelas bisnis pesawat. Ada dua jadwal keberangkatan: pukul 21:00 dan tiba pukul 06:00, atau pukul 09:00 dan tiba pukul 18:00. Pesawat sebenarnya tersedia, tapi jadwalnya kadang direvisi mendadak. Aviastar (aviastar.biz) melayani penerbangan dari Makassar menuju Bandara Pongtiku dua kali per minggu.

—Penginapan
Selain menawarkan 134 kamar yang disebar dalam bangunan berbentuk tongkonan, Toraja Heritage Hotel (Jl. Kete Kesu, Rantepao; 0423/211-92; toraja-heritage.com) memiliki kolam renang yang fotogenik, serta menawarkan akses mudah ke desa-desa adat. Berdiri di atas lahan seluas delapan hektare, Misiliana Hotel (Jl. Pongtiku 27, Rantepao; 0423/212-12; torajamisiliana.com) menaungi dua kolam renang, ballroom, restoran, spa, serta 98 kamar. Hotel ini juga menawarkan pengalaman homestay: menginap di tongkonan tua yang telah disulap menjadi suite.

—Makan & Minum
Restoran terbaik umumnya hanya terdapat di hotel. Salah satu yang berhasil menembus dominasi itu adalah Mambo (Jl. DR. Sam Ratulangi 34, Rantepao; 0423/211-34; mamborestaurant.co), restoran yang menyuguhkan beragam menu, termasuk masakan lokal pa’piong dan pamarrasan. Sarang hangout populer di kalangan turis, Café Aras (Jl. A. Mappanyukki 64, Rantepao; 0823-9627-5688), menawarkan bangunan yang sejuk di tengah kota Rantepao yang bising. Bagi penikmat kopi, dua tempat yang layak didatangi adalah Warung Kopi Toraja (Jl. Poros Makale, Rantepao; 0852-4824-7654) dan Hotel Pison (Jl. Pongtiku 2 No.8, Rantepao; 0423/213-44).

—Aktivitas 
Situs-situs tua masih menjadi obyek andalan di peta wisata. Untuk menyaksikan menhir, pergilah ke Rante Kalimbuang di Bori’. Di Londa, kita bisa memasuki makam gua, sementara di Lemo kita bisa menyaksikan tau-tau dalam desain orisinal. Kampung adat yang paling tersohor, Kete’ Kesu’ lazim dijadikan tempat upacara-upacara besar. Dibandingkan desa adat lain, Buntu Pune’ relatif masih autentik. Kala di sini, carilah Marla, sarjana arkeologi yang lancar bercerita tentang kebudayaan Toraja, termasuk tentang benteng di samping desanya.

Desa-desa tenun terpusat di sisi timur laut, salah satunya Sa’dan To’ Barana. Bawa uang tunai jika ingin berbelanja. Jika ingin menyerap panorama Toraja yang paling karismatik, pergilah ke Batutumonga. Bawalah sepatu trekking, karena Anda pasti tergoda untuk mengarungi sawah dan lembah hijaunya.

—Informasi 
Menyewa pemandu adalah metode terbaik. Tapi jika ingin berwisata secara mandiri, Anda bisa menyewa mobil, kemudian menggali informasi dari pihak DMO (visittoraja.com) atau Swisscontact (Jl. Makula’ Tampo, Sangalla, Makale Utara; 0423/264-43; swisscontact.or.id). Peta wisata baru belum dicetak, tapi versi lamanya masih tersedia di kantor Dinas Pariwisata Toraja Utara (Jl. Ahmad Yani 62A, Rantepao; 0423/212-77). Rambu Solo umumnya digelar di tengah tahun. Upacara kematian ini menampilkan prosesi pengorbanan kerbau dan babi. Tamu sepatutnya memberikan sesuatu kepada keluarga almarhum. Idealnya, berupa seekor babi, tapi kita bisa menggantinya dengan satu slof rokok atau beberapa kilogram gula pasir. Siapkan pakaian hitam jika ingin hadir.


____________________

Oleh: Cristian Rahadiansyah

Foto oleh: Suryo Wibowo




Sumber: DestinAsian

Tenun Toraja, Warisan Leluhur yang Hampir Punah

Tenun Toraja, Warisan Leluhur yang Hampir Punah
Seorang pengrajin meyelesaikan tenunannya, tenun ikat khas Toraja. Foto: Google|Bangun Media

Hitam-Putih Tenun Toraja [1]

Tenun Toraja kini terancam punah karena tidak terjadi regenerasi penenun. Di Kampung Sa’dan, yang menjadi sentra tenun, kini tinggal 70 perajin saja yang berproduksi.

Aneka tenun tradisional Indonesia seolah tidak akan habis ditelusur. Selain dikenakan sebagai busana sehari-hari, di beberapa etnis, tenun juga menjadi busana utama saat berlangsung upacara adat ataupun hari besar keagamaan. Itulah sebabnya banyak ragam tenun di penjuru Nusantara ini. Pada suatu masa, corak kain tenun yang menjadi primadona dapat digunakan sebagai alat tukar jual-beli. Namun, kain-kain buatan masa lampau tersebut tidak bisa lagi kita nikmati saat ini, selain tidak lagi diproduksi, daya tahan seratnya luruh karena suhu dan kelembaban iklim tropis.

Begitu pun tenun asal Toraja. Sudah banyak ragam dan motifnya yang tidak diketahui lagi oleh para penerus zaman. Padahal, tenun Toraja memiliki sejarah ragam tekstil sebagai salah satu perlengkapan upacara adat kematian Toraja.

Ribuan tahun yang lalu, tenun Toraja dibuat dari serat kulit kayu. Kemudian material tersebut berubah lebih maju menjadi serat nanas. Konon, kain tersebut lebih sering digunakan untuk membungkus mayat karena daya serapnya tinggi. Setelah pedagang India dan Gujarat mendarat di Palopo—pantai barat Toraja sekitar 60 kilometer dari Rantepao— dikenallah campuran kapas. Kemudian kain tenun dibuat dari serat nanas yang ditambahkan serat kapas tanpa dipintal sehingga bahannya sedikit lembut. Kain tenun tersebut sudah berfungsi sebagai penutup badan.

Tenun Toraja, Warisan Leluhur yang Hampir Punah
Seorang Nenek sedang memintal benang sebagai bahan baku kain tenun khas Toraja.
Foto: Warisan Indonesia|Hardy Mendrofa

Awal mulanya produksi kain tenun Toraja memang sulit diketahui secara pasti, kapan kegiatan menenun itu dilakukan dengan alat apa mereka menenun dan bagaimana warna serta ragam corak yang dihasilkan. Konon, menenun dimulai setelah masyarakat Toraja membangun rumah tinggal yang representatif dan dapat menjadi tempat kegiatan (Said, 2004: 152). Dalam menciptakan corak dan motif untuk menghias tenun, beberapa tokoh Toraja berkeyakinan bahwa ragam tersebut diperoleh dari meniru motif ukiran yang terdapat di tongkonan—rumah adat. Namun, jika melihat perkembangan zaman dan peradaban, motif garislah yang lebih dulu ada dibandingkan tongkonan. 

Tenun Toraja yang Melegenda [2]

Sehari-hari, banyak orang yang memakai tenun Toraja sebagai pakaian, tas, dompet, selendang, maupun perlengkapan lainnya. Yang pasti, dalam setiap upacara adat Toraja, kain tenun Toraja wajib dikenakan.

Desa Sa’dan Malimbong adalah salah satu desa di Tana Toraja, Sulawesi Selatan yang terkenal dengan tradisi tenunnya. Di sini, pembuatan tenun Toraja masih menjadi kegiatan turun temurun. Anak-anak pun sudah mulai belajar menenun. Awalnya, mereka belajar menenun dengan motif-motif sederhana, seperti garis warna-warni. Setelah lebih mahir, barulah bentuk-bentuk lain diperkenalkan, seperti tedong (kerbau) dan tongkonan (rumah adat Toraja).

Di Desa Sa’dan Malimbong, proses penenunan masih menggunakan alat tenun tradisional. Tak heran, para penenun membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan sehelai kain tenun. Semakin rumit motifnya, semakin lama waktu pengerjaannya. Tentu saja, semakin mahal harganya. Bahan dan pewarna kain tenun ini pun menggunakan bahan alam. Biasanya, serat kain ada dua macam, yaitu serat kapas dan serat daun nanas. Namun, sekarang serat daun nanas mulai sulit didapat.

Tenun Toraja, Warisan Leluhur yang Hampir Punah
Salah satu motif tenun khas Toraja. Foto: Kidnesia

Untuk pewarna alami, para penenun menggunakan kulit, pelepah, biji, dan daun dari tumbuhan tertentu. Kain dengan pewarna alami tentu bernilai lebih tinggi. Harganya mencapai jutaan rupiah. Namun, kini, para penenun juga memakai pewarna buatan. Memang tak sebagus pewarna alam, namun harganya lebih murah. Ada banyak warna dalam tenun Toraja. Yang paling sering digunakan, terutama dalam upacara adat, adalah merah dan hitam.

Dulu, kain tenun Toraja menjadi lambang kemakmuran dan status sosial pemiliknya. Ada kain yang hanya boleh dipakai para bangsawan, ada yang untuk rakyat jelata. Kain-kain tertentu juga hanya digunakan untuk upacara adat tertentu. Misalnya, kain sarung hitam yang khusus digunakan untuk upacara kematian atau Rambu Solo’.  

Kini, siapa pun boleh memakai berbagai jenis kain Toraja. Meskipun masih tetap ada aturan tak tertulis tentang kain-kain yang bisa dipakai untuk upacara adat tertentu. Kalau kamu ingin berburu kain tenun Toraja, Sa’dan Malimbong bisa jadi pilihan tempat jalan-jalanmu.

Tenun Toraja, Warisan Leluhur yang Hampir Punah
Pengrajin menenun kain di tokonya dengan latar belakang Tongkonan (rumah adat Toraja) di Desa Barana, Kecamatan Saddan, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (24/8). Foto: LTWI

Tenun, Yang Makin Populer dan Makin Punah [3]

Tenun pernah dianggap buah tangan terindah bagi pelancong yang datang ke sebuah daerah di Indonesia. Bagi beberapa suku, kain tenun bahkan dipandang begitu berharga hingga hanya bangsawan yang boleh memakainya.

Kain tenun sekarang mulai menggeser popularitas batik. Pada pria muda berkemeja tenun lengan pendek sekarang jamak dilihat di kawasan perkantoran. Sementara mengenakan atasan atau jaket tenun pun dianggap modis oleh kaum Hawa.

Kepopuleran tenun namun belum dibarengi perbaikan nasib penenun. Beberapa tenun bahkan terancam punah, seiring makin sedikitnya orang yang bisa menenun motif tertentu.

Sjamsidar Isa dari Cita Tenun Indonesia mengatakan beberapa tenun sudah sulit dicari. Contohnya, tenun dari Kabupaten Sambas di Kalimantan Barat. Banyak penenun Sambas yang justru angkat kaki ke Brunei Darussalam serta Malaysia untuk bekerja sebagai TKW. Pilihan itu terpaksa diambil meski upahnya sangat rendah, karena karya tenun mereka lebih tidak menghasilkan uang lagi.

Tenun Toraja, Warisan Leluhur yang Hampir Punah
Pengrajin menenun kain di Desa Barana, Kecamatan Saddan, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (24/8). Foto: LTWI

"Motif-motif tua akhirnya mulai punah," sambung Dinny Jusuf, pengusaha UKM yang membuat kerajinan dari tenun toraja bermerek Toraja Melo.

Kata Dinny, ada beberapa motif yang sekarang hanya bisa ditenun oleh beberapa perajin. Umumnya mereka sudah lansia dan tidak tertarik membagi ilmu menenunnya ke kalangan muda.

Sementara kaum muda Toraja memilih bekerja sebagai TKW ke Malaysia daripada menjadi perajin tenun. "Menenun di Toraja juga merupakan pekerjaan sambilan," sambung Dinny, menceritakan kendala mengembangkan tenun toraja.

Para nenek mencicil tenunan sambil mengurus cucu yang ditinggal ibunya bekerja ke Malaysia. Listrik yang belum sepenuhnya masuk ke pelosok Toraja membuat penenun juga memilih menenun warna-warna terang karena bisa dikerjakan di dalam rumah.

Kain tenun berwarna gelap lalu harus dikerjakan di teras rumah dengan bantuan cahaya matahari. Dinny mengatakan, tenun Toraja sulit untuk maju bila proses pekerjaannya masih sangat sederhana.

Irna Mutiara, perancang busana Muslim yang pernah bekerja dengan bahan tenun asal NTB mengatakan belum semua tenun sudah terekspos. "Sulaman NTB juga makin ke sini makin hilang," ujarnya. Ketertarikan Irna pada sulaman dari Lombok dan Sumbawa membawanya merancang busana Muslim dengan aksen sulam.

Kain tenun yang diolahnya diambil dari Dusun Pringgasela, Dusun Gumise, Dusun Bun Mudrak, Dusun Sukarara, dan Kota Mataram. Irma mengambil tenun dalam warna lembut dan motif tradisional geometrik, kotak-kotak, dan garis-garis.

Namun, kendala dihadapi Irna ketika bekerja dengan tenun tersebut. "Benangnya terlalu tebal," ujarnya. Padahal, Irna ingin menggarap busana siap pakai yang ringan. Untuk menyiasatinya, Irna membawa sendiri benang dan diberinya ke perajin demi mendapat tekstur kain yang lebih halus.

Perancang busana Sonny Muchlison menilai, seorang desainer harus mengerti cara melestarikan budaya. Menurutnya, perancang busana memegang peranan penting dalam mengenalkan budaya bangsa. Lihat saja batik. Berkat tangan ulet para desainer, batik membawa nama Indonesia ke luar negeri.

Tenun Toraja, Warisan Leluhur yang Hampir Punah
Seorang pengrajin kain tenun Toraja menunggu pembeli di tokonya di Desa Barana, Kecamatan Saddan, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (24/8). Foto: LTWI


Semoga saja tangan ulet para desainer Indonesia mampu mengangkat pamor tenun. Sekaligus melestarikannya.

Baca juga artikel sebelumnya tentang tenun Toraja:







Sumber:

The Almost Extinct Toraja Tenun

The Almost Extinct Toraja Tenun
A woman weaves Toraja tenun as seen behind orange thread (illustration). | republika.co.id
The heritage of Indonesian culture is no doubt very rich. The deeper we dig, the more we find the treasure. When batik is already famous, do not forget to mention hand woven textile or tenun. One of the beautiful Tenun is originated from Toraja, South Sulawesi.

Sadly, it is now hard to find Toraja tenun as it is difficult to find tenun weaver. And there are only a few who can make unique pattern. 

“The old pattern is almost extinct,” Dinny Jusuf, a small medium enterprise (SME) entrepreneur, who make Toraja tenun craft named Toraja Melo.

There are only several motives that can be made by a handful of weavers. Usually, the weavers are old and reluctant to inherit their skills to the younger generation. Meanwhile, the Toraja youth prefers to work as migrant workers in Malaysia. “In Toraja, weaving tenun is only part-time job,” Jusuf said.
The elders do weaving while they are taking care of their grandchild. 

The electricity have not yet fully distributed to Toraja. It makes the weavers prefer to make bright colored tenun. The dark one should be done outside the house with the help from sunshine.
According to Jusuf, Toraja tenun product is hardly to expand if they still depend only on traditional process. Jusuf is now trying to introduce Toraja tenun by open an exhibition in Textile Museum, Jakarta. At least 50 Toraja tenun cloths are needed for the exhibition.

And, finding 50 pieces of are not that easy. Jusuf asked her friends and colleagues to help her collecting Toraja tenun. Like other traditional cloths, Toraja tenun can be converted into contemporary and functional pieces, such as bags, shoes, and ipad cases. “The challenge is the basic material supply,” Jusuf said.




Source: Republika Online

Tenun Toraja, Kain Tanda Cinta Kasih di "Rambu Solo"

Aris Palayukan di depan jenazah saudarinya, Ruth Bamba, pada upacara rambu solo (kematian)**
**Aris Palayukan di depan jenazah saudarinya, Ruth Bamba, pada upacara rambu solo (kematian) keluarga besar Tongkonan Pindah Puteh Mantunu, di Bukit Singki, Toraja, Sulawesi Selatan, Selasa (29/4/2014). Kain tenun masih digunakan sebagai sarung dengan warna putih yang melambangkan derajat bangsawan. Namun, kain tenun itu sudah tidak digunakan lagi untuk menutup jenazah ataupun keranda. Foto: KOMPAS/LASTI KURNIA 

Tenun Toraja menjadi tanda kasih bagi sanak saudara yang telah tiada. Kain tanda kasih itu berperan penting dalam ritual pemakaman keluarga Toraja yang tersebar di dataran tinggi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Itulah ungkapan pertalian kasih yang menghubungkan sanak saudara.

Tetua adat Kampung Pangrante di Kecamatan Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Andariasamba Pongarrang, sibuk memimpin upacara rambu solo bagi Ruth Bamba yang meninggal pada usia 60-an. Memakai sarung tenun warna putih yang menunjukkan status kebangsawanannya, Andariasamba duduk di samping peti jenazah, lalu mengambil pengeras suara.

Pada hari kedua dari tiga hari rangkaian upacara kematian, Andariasamba bertugas menghitung jumlah kerbau dan babi yang akan disembelih. Satu per satu hewan ternak itu dibawa ke lapangan untuk dihitung di depan rumah adat tongkonan yang terletak di pucuk Bukit Singki’ itu. Menjelang siang, terkumpul enam kerbau yang kemudian disembelih dengan sekali tebasan di leher.

Bagi keluarga, butuh dua bulan untuk mengumpulkan dana penguburan, terutama dana pembelian kerbau yang mencapai Rp 20 juta per ekor. Selama dua bulan pula, jenazah Ruth Bamba diawetkan dan disimpan di ruang paling belakang dari rumah panggung tongkonan. Meski tergolong bangsawan yang, antara lain, ditandai dengan hadirnya pohon cendana di halaman rumah, Ruth Bamba belum layak menjalani ritual pembalutan jenazah dengan kain tenun.

Tenun Di Ritual Kematian. Foto: KOMPAS/LASTI KURNIA
Menurut Andariasamba, Aluk Todolo atau agama tua yang masih dikukuhi suku Toraja memang mensyaratkan pembalutan jenazah dengan kain tenun bagi bangsawan dengan minimal 12 kerbau yang dipotong saat rambu solo.

Tomantawa atau pemuka adat di Lembang Sangkaropi, Sa’dan, Toraja Utara, Tetty Rantelabi (46), yang akrab disapa Mama Sabbi, malah menyebut angka lebih besar bagi jumlah minimal kerbau, yaitu 24 kerbau. Di ruang paling belakang tongkonan milik keluarganya yang terletak di lokasi sentra petenun di Sa’dan To’barana, Mama Sabbi menunjukkan peti jenazah Gulung Matandung (70).

Meninggal pada Oktober tahun lalu, jenazah Gulung Matandung disimpan dengan dibungkus puluhan lembar kain tenun bermotif paramba yang dulunya pernah dipakai almarhumah. Keluarga Gulung Matandung sudah menyiapkan minimal 24 kerbau yang menurut rencana akan dipotong pada rambu solo yang digelar pada Juli mendatang.

Makin langka

Bagi warga Mamasa Toraja yang tinggal di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, tenun juga menjadi syarat utama dalam ritual rambu solo. Warga di wilayah Tandalangan, Kecamatan Nosu, Mamasa, mengenal ritual mangaro, yaitu mengeluarkan kembali jenazah (batang rabuk) dari dalam kubur (alang-alang). Jasad itu kemudian dibungkus atau dibalut dengan kain tenun. Ritual ini dilakukan berulang setiap empat-lima tahun sekali bagi jenazah yang tergolong bangsawan.

Meski masih digunakan pada ritual adat, pemakaian tenun di Toraja semakin hari cenderung semakin langka. Andariasamba, misalnya, hanya mempertahankan pemakaian sarung tenun yang dibelinya seharga Rp 1 juta ketika memimpin adat rambu solo. Demi penghematan pula, ia memilih memadukan sarung tenun dengan atasan kain pabrikan bergambar motif Toraja buatan Solo, Jawa Tengah.

Demi penghematan, kain panjang warna merah, hiasan tongkonan yang melambangkan semangat di upacara rambu solo bagi Ruth Bamba, juga tak lagi menggunakan tenun Toraja. Bahkan, tak satu pun dari ratusan pelayat yang menghadiri rambu solo yang masih memakai pakaian dari tenun. Mayoritas pelayat justru menggunakan kainkain bermotif Toraja yang didatangkan dari Jawa.

Tenun Ikat Sekomandi. Foto KOMPASLASTI KURNIA 
Salah seorang pelayat, Atik (48), yang memakai baju motif Toraja buatan DI Yogyakarta, hanya memiliki selembar tenun Toraja bermotif paruki yang dibeli seharga Rp 1,8 juta. Tenun itu sengaja ia simpan dan hanya dipakai pada acara yang benar-benar spesial. ”Saya cuma punya satu tenun warna hitam, terlalu mahal, jadi sayang. Jarang dipakai,” kata Atik.

Tak hanya kain bermotif Toraja, tenun buatan Troso dan Klaten, Jawa Tengah, juga membanjiri pasar tradisional di Rantepao. Kios tenun yang banyak didatangi wisatawan di Pasar Rantepao disesaki oleh tenun dari Jawa. Pemilik kios Tulen Arts, pasangan Yudhie dan Tulen, bahkan juga mendatangkan produk jadi berbahan tenun dari Jawa, seperti tempat tisu dan tas.

Tenun yang didatangkan dari Jawa laris manis di Toraja karena harganya lebih murah. Pemilik kios tenun lain di Pasar Rantepao, Kana, menjual tenun asli Toraja dengan harga mulai Rp 300.000 hingga Rp 5 juta, sedangkan tenun dari Jawa bisa dijual mulai harga Rp 100.000.

Berbeda dengan tenun polos asli Toraja yang dibuat dengan alat tenun tangan, tenun polos dari Jawa dihasilkan dari alat tenun bukan mesin (ATBM) yang lebih modern dan bisa memproduksi dalam jumlah lebih banyak.

Karena bisa menjual tenun yang mirip dengan tenun Toraja dengan harga lebih murah, pesanan pun mengalir mulai dari instansi pemerintah di Toraja hingga gerai oleh-oleh di Bandar Udara Sultan Hasanuddin, Makassar. Meski tenun Jawa laris manis, Tulen Arts tetap menyediakan tenun asli buatan tangan perajin Toraja.

Penggunaan kain tenun di upacara kematian alm. Ruth Bamba di keluarga besar Tongkonan Pindah Puteh Mantunu di Toraja, Sulawesi Selatan, Selasa (29/4/2014). Masih digunakan pada sepu (tas wanita). Foto: KOMPAS/LASTI KURNIA

Ludes terjual

Tenun asli Toraja sebenarnya mudah dikenali. Dengan sekali sentuh, bakal terasa bahwa tenun Toraja lebih kasar daripada tenun ATBM. Meski sama-sama berbahan baku benang poliester dengan motif serupa berupa aksen permainan garis, tenun Toraja lebih tebal dan berat. Karena dibuat langsung dengan tangan, lebar tenun Toraja tak akan melebihi 70 sentimeter. Bandingkan dengan tenun ATBM yang bisa mencapai lebar lebih dari 100 sentimeter.

Serbuan tenun dari luar Toraja ini bahkan menelusup hingga ke satu-satunya sentra tenun Tana Toraja, yaitu di Sa’dan To’barana. Sembilan kios yang ada di Sa’dan To’barana juga disesaki tenun-tenun dari Jawa dan Sumba. Produksi tenun dari para perajin yang menenun di kios-kios ini tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan wisatawan sehingga mereka memilih mendatangkan tenun dari luar Toraja.

Kain tenun dijual di sebuah toko souvenir di Toraja, Sulawesi Selatan, Selasa (29/4/2014). Pedagang di Toraja secara terbuka akan menunjukkan kain tenun asli buatan Toraja dan mana yang buatan dari Jawa. Foto: KOMPAS/LASTI KURNIA
Tingginya minat wisatawan terhadap tenun Toraja belum diimbangi dengan regenerasi petenun. Kini, perajin juga sibuk memenuhi permintaan tenun dari warga lokal Toraja setelah adanya kebijakan wajib memakai tenun bagi pegawai negeri setiap satu pekan sekali. Akibatnya, produksi tenun khas Toraja ludes terjual dari tangan perajin. Pembeli bahkan harus antre hingga berbulan-bulan.

Tokoh masyarakat Toraja yang menerima anugerah kebudayaan tahun 2004 dari pemerintah pusat, Tinting Sarungallo (63), menilai lunturnya pemanfaatan tenun dalam tradisi dan keseharian masyarakat Toraja tak lepas dari perubahan zaman. Menurut dia, masyarakat Toraja mulai menjauh dari tenun untuk ritual sejak meninggalkan ajaran agama tua dan beralih ke agama Kristen yang kini dianut mayoritas warga Toraja.

Proses membungkus mayat dengan tenun, menurut Tinting, perlahan mulai ditinggalkan sejak 1990-an. ”Ada perubahan enggak harus dibungkus tenun. Kepercayaan leluhur sudah kurang. Keluarganya merasa terikat jika dibalut tenun,” ungkap Tinting.

Kini, perlahan tetapi pasti, masyarakat Toraja mulai kembali melirik tenun. Upacara keagamaan, seperti perayaan 100 tahun Injil masuk Toraja atau ibadat hari Minggu, mewajibkan jemaatnya memakai tenun. Kecintaan terhadap tenun dari tanah tinggi Toraja ini menempatkannya pada tempat tertinggi di hati dan tradisi masyarakat Toraja.