Showing posts with label Kuburbatu. Show all posts
Showing posts with label Kuburbatu. Show all posts

Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan

Selamat berjumpa kembali Sangsiuluran Toraja...

Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan
Gambara' Tedong mentombang. Kerbau sedang berkubang. Foto: brommel.net

kita kembali ke topik "Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan"

Seandainya boleh memilih dari sekian arti dan asal kata 'Toraja', saya lebih memilih kata Toraya yang berasal dari dua kata yakni To (Tau) dan Raya (Maraya) yang bisa diartikan sebagai orang-orang 'besar' atau bangsawan. Bukannya keinginan untuk menyebut diri bangsawan, tetapi lebih kepada 'orang besar' tadi. Sebagai seorang anak manusia yang harus siap menghadapi tuntutan jaman untuk tetap berjiwa besar dan menjadi tuan atas dirinya sendiri. Lain dari itu adalah sebuah ketertarikan terhadap sejarah dan legenda yang turun temurun diwariskan melalui budaya tutur tentang keagungan budaya di tanah leluhur. Hmmm cerita panjang yang patut ditelusuri.

Selama ini, Toraja dikenal sebagai salah satu destinasi pariwisata Indonesia dan juga dikenal di dunia bahkan diusulkan untuk masuk sebagai salah satu situs warisan dunia (kebanggan tersendiri sebagai orang Toraja). 

Selain Bali, Toraja juga dikenal sebagai destinasi wisata budaya, adalah ritual-ritual budaya nan unik berbalut nuansa mistik yang tidak dipungkiri sudah menjadi salah satu daya tarik pariwisata Toraja. Selain itu, situs-situs bersejarah seperti pekuburan di tebing batu, rumah adat berusia ratusan tahun, peninggalan megalitik seperti batu simbuang yang sampai hari ini semua itu masih terjaga dan dipertahankan dalam tradisi masyarakat Toraja. Sebuah penghargaan anak cucu terhadap karya keagungan peradaban leluhur.

Nah berikut ini adalah beberapa hal yang membuat Toraja tak terlupakan menurut versi Toraja Paradise;

Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan
Ma'Badong, salah satu ritual dalam upacara Rambu Solo' di Toraja. Foto: Wego 
1) Ritual Budaya Rambu Solo'

Ritual budaya yang satu ini memang berbeda dengan yang lain, Rambu Solo' selalu meninggalkan banyak 'kenangan' baik itu asam _seperti katapi_ atau manis _susi golla-golla_. Seluruh keluarga (kecuali yang berhalang hadir), sanak famili, kerabat dekat maupun jauh, berkumpul bersama untuk mengadakan ritual pemakaman paling meriah ini. 

Masih utuh dalam ingatan, saat malam di lantang menyaksikan to ma'badong atau sekedar mendengarkan cerita orang-orang tua dulu, mulai dari rentetan silsilah, sejarah perang (kisah to balanda dan dai nippon cukup menarik), hasil panen, cerita rakyat, kisah legenda (biasanya dipermanis dengan bingkai mistik) sampai panggung politik tak luput jadi bahan obrolan. Tuak dan kopi Toraja juga tak mau ketinggalan ditambah cemilan tradisional cukup mampu membentengi tubuh dari serbuan hawa dingin khas pegunungan Toraja, dan jangan lupakan peran Sambu' Lotong... 

Ritual Rambu Solo' di Toraja, menjadi salah satu magnet terbesar turis mancanegara maupun turis domestik. Disebut juga Aluk Rampe Matampu, Rambu Solo' merupakan ritual pemakaman orang Toraja yang identik dengan mengorbankan hewan ternak seperti babi atau kerbau (biasanya dalam jumlah besar) kepada arwah leluhur atau orang yang meninggal dunia. 

Ritual adat tersebut biasanya berlangsung meriah dan menguras materi. Pihak keluarga akan berusaha keras mengumpulkan semua 'keperluan' agar mereka bisa menyelenggarakan ritual Rambu Solo', sebab Rambu Solo' adalah salah satu bagian utama dari siklus hidup masyarakat Toraja. Rambu Solo' juga dianggap sebagai bentuk tanggung jawab keluarga terhadap orang yang sudah meninggal. 

yaah, meski sering menimbulkan banyak pro dan kontra terutama budaya Pantunu/Mantunu (menyembelih hewan ternak dalam jumlah besar, biasanya saat ritual Rambu Solo'). Namun itulah Toraja, tetap menjaga tradisi yang sudah mengakar selama ratusan tahun. Kematian adalah sesuatu yang mewah di Toraja (baca disini)

Berlandaskan kearifan nenek moyang dan diwariskan dari generasi ke generasi, tentunya budaya Toraja tidak akan luntur hanya karena persepsi segelintir orang. Segelintir orang yang pastinya termasuk beberapa generasi muda Toraja, dengan pendidikan yang lebih baik serta pemahaman peradaban modern menganggap ritual budaya di Toraja sebagai pemborosan, kekerasan terhadap hewan, termasuk juga mengkafirkan Aluk Todolo (kepercayaan leluhur Toraja) atau 'dipaksa' masuk sebagai salah satu aliran kepercayaan Hindu Bali, serta banyak pernyataan lain tentang 'buruknya' budaya Toraja yang terus menggerus eksistensi jatidiri orang Toraja.

Budaya Toraja bukanlah budaya yang baru dilahirkan dan akan mati muda. Sebagai bukti, aturan adat Toraja (meski sebagian besar hanya diwariskan melalui budaya tutur) sudah jauh ada sebelum budaya modern dan agama-agama impor berkembang di Toraja. Tetapi aturan adat itu tetap hidup dalam keseharian masyarakat Toraja, terus beradaptasi dan tidak kehilangan jatidirinya ditengah gempuran peradaban modern. 

Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan
Deretan Tongkonan Karuaya, salah satu kompleks Tongkonan di Toraja. Foto: Iqbal Kautsar
2) Rumah adat Tongkonan

Tidak jarang kita mendengar bila sesama orang Toraja bertanya dari Tongkonan mana? yaa Tongkonan merupakan akar silsilah rumpun keluarga orang Toraja. Jadinya miris bila generasi muda Toraja melupakan atau pura-pura lupa asal usul leluhur keluarganya.

Seni arsitektur yang masih tradisional ini menurut tradisi lisan masyarakat Toraja meyakini bahwa bentuk itu dilatarbelakangi awal datangnya leluhur orang Toraja dengan menggunakan perahu. Bentuk perahu itulah ilham pembuatan rumah Tongkonan, sehingga bentuk atapnya menjulang ke depan dan ke belakang. Rumah adat berbentuk perahu ini biasa juga disebut Lembang (masih ingat lirik lagu Toraja; "garagan ki' Lembang Sura', lopi di maya-maya")

Rumah adat khas Toraja ini, selain berfungsi sebagai tempat tinggal, juga mempunyai fungsi dan peranan serta arti yang sangat penting dan bernilai tinggi dalam kehidupan masyarakat Toraja. Tongkonan, bangunan dengan atap berbentuk perahu ini dianggap sebagai pusaka warisan dan hak milik turun temurun dari orang yang pertama kali membangun Tongkonan tersebut. 

Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan rumah adat ini sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja. Kata Tongkonan berasal dari kata “Tongkon” (duduk_berkumpul) mengandung arti bahwa rumah Tongkonan itu ditempati untuk duduk mendengarkan serta tempat untuk membicarakan dan menyelesaikan segala permasalahan penting dari anggota masyarakat dan keturunannya.


Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan
Kubur batu Lemo, salah satu kompleks pemakaman di tebing batu Toraja. Foto: Mezak Yapin
3) Kubur di Toraja

Di Toraja, areal pekuburan punya daya tariknya tersendiri. Kubur-kubur unik orang Toraja menawarkan citarasa wisata yang berbeda dengan destinasi wisata lain di Indonesia, diantaranya liang kuburan di tebing-tebing batu, kuburan bayi di batang pohon, dan model-model pekuburan yang lain. Mungkin bagi sebagian orang kuburan itu menyeramkan, tapi di Toraja kuburan malah ramai dikunjungi setiap tahunnya. 

Bahkan di saat-saat tertentu, keluarga dari yang dikuburkan membuka kubur tersebut baik untuk sekedar menjenguk maupun membersihkan dan mengganti pakaian anggota keluarga yang dikuburkan. Ritual mengganti pakaian leluhur yang sudah dikuburkan ini disebut Ma'nene'.

Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan
Harmoni alam dan budaya. Museum Ne' Gandeng, Toraja Utara. Foto: Mezak Yapin
4) Harmoni Alam Pedesaan, Budaya dan Masyarakatnya

Hal-hal menarik dan tak terlupakan di Toraja bukan hanya ritual pemakaman dan wisata kuburan. Bentang alam Toraja juga mampu menyuguhkan panorama nan eksotik yang memanjakan mata, tak perlu banyak bersolek untuk memikat wisatawan. 

Di Toraja, terutama di pedesaan, petak-petak areal persawahan hijau membentang ada pula yang behimpit meramping di punggung perbukitan dialiri sungai kecil seperti sebuah simpul yang menambatkan hati saya agar selalu mengingat betapa besar anugerah sang pencipta. 

Budaya siangkaran sipakaboro' telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tradisional Toraja. Akar budaya yang mewariskan senyum keramahan kepada semua yang hidup, bentuk ketulusan yang jauh dari sekat-sekat gengsi kemapanan ala komunitas perkotaan. 

Juga slogan Sipamisa', Sang Torayan, Solata, dll, menjadi ikatan pemersatu etnis Toraja, baik di kampung halaman maupun di tanah rantau. 

Singkatnya Toraja adalah perpaduan yang harmonis antara keindahan alam dan masyarakat yang berbudaya. Sebuah pelukan hangat yang membekas dan tidak terlupa.

Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan
Pa'piong, Tollo' Lendong dan lada Katokkon. Foto: ist
5) Kuliner Khas Toraja

Setiap orang punya selera masing-masing untuk urusan kuliner. Bagi saya sendiri Pa'piong Bulunangko dan Tollo' Lendong dengan bumbu Pamarrasan menempati peringkat utama dan tiada duanya (ya iyalah, adanya cuma di Toraja). Kedua masakan ini bisa dipadukan dengan nasi jagung (bassang dalle). hmmm jadi lapar, manasu mo raka Indo'...?

Untuk selera makanan ringan, deppa tori' dan la'pa' dua' kayu memberi rasa manis di lidah dan ingatan saya. 

Tapi ada salah satu bumbu dalam campuran kuliner Toraja yang membuat saya sulit melupakan kampung halaman, lada katokkon itu pedisnya bikin trauma...! 

Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan
Contoh produk kopi Toraja dalam kemasan.
6) Kopi Toraja

Berawal dari tangan para petani di pegunungan Toraja, hingga tersebar di seluruh dunia, kopi Toraja telah meninggalkan jejak-jejak aroma kebanggan bagi negeri ini. Menikmati kopi Toraja di tempat asalnya usai menjelajah alam Toraja yang indah permai tentunya menjadi keinginan para penikmat kopi. 

Bayangkan minum kopi Toraja di pelataran Tongkonan pada sore hari, sambil memandangi barisan perbukitan nan hijau serta hamparan persawahan yang mulai menguning, anak-anak kecil yang masih asik bermain, petani yang kembali pulang, kerbau dan babi yang mulai berisik di kandang, nyanyian burung-burung berpadu senandung rumpun bambu, aah... biarkan imajinasi lepas tanpa batas menuju negeri dongeng. Atau lebih tepatnya kepingan surga di jantung Sulawesi.  

Kopi Toraja merupakan kopi jenis Arabica yang punya karakteristik sendiri, coba menikmatinya tanpa menggunakan gula atau pemanis, kita akan merasakan rasa gurih yang jarang ditemukan dalam kopi-kopi lokal di daerah lain. Rasa gurih ini merupakan salah satu ciri khas utama kopi Toraja yang membuat orang ketagihan menikmati kopi ini. 

Kopi Toraja merupakan komoditas yang patut diperhitungkan, Jepang dan Amerika merupakan negara utama pengimpor kopi ini. Bahkan di Jepang, merek dagang kopi Toraja sudah dipatenkan oleh Key Coffee. Di beberapa kafe-kafe di dunia punya kelasnya sendiri dengan harga jual yang tentunya tidak murah. Sayangnya harga yang berkelas itu tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan petani kopi di tempat asalnya.  


Gambaran di atas hanya secuil kisah tentang Toraja. Akan lebih indah bila anda menyaksikan dan mengabadikannya sendiri.

Bonus: 
Foto: @sanggar_tari_dilangi

Hal-hal Tentang Toraja yang Tidak Terlupakan
sekian dan terimakasih

Bila ada diantara pembaca yang budiman memiliki pendapat berbeda atau sekedar ingin menambahkan silahkan dititipkan pada kolom komentar yang tersedia dibawah postingan ini. 


Semoga bermanfaat, Salam.

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik (Bag.II)

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik
Deretan menhir atau simbuang batu di Bori Kalimbuang.


Basho kemudian mengajak saya menaiki setapak. Menembus rerimbunan pohon dan bambu. Suasana sejuk mengiringi perjalanan yang mengantarkan pada kesegaran. Hingga 100 meter kemudian saya tiba pada sebuah batu besar berbentuk oval yang dilubangi sebagai tempat peletakkan jenazah. Itulah Liang Pa’. Sebuah kompleks kuburan batu di Bori’ Kalimbuang.

“Pembuatan lubang ini, unsur adat masih sangat kental.” Jelas Basho. “Misalnya mau membuat siku tiap sudut saja, perlu dikurbankan hewan.” Satu lubang pada Liang Pa’ ini adalah milik satu keluarga besar. Orang yang berhak dikuburkan di situ adalah keluarga besar sang pemilik lubang tersebut.

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik
Liang Pa' di kawasan Bori Kalimbuang. Satu lubang untuk satu keluarga.

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik
Tengkorak berserakan dan bertumpukan di salah satu lubang Liang Pa'. Seram.

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik
Pintu kubur di Liang Pa' yang akan dipersiapkan untuk penguburan jenazah.

Pada salah satu lubang, terdapat banyak tengkorak terpajang. Kesannya terasa mistis. Mereka bertumpuk-tumpukan seperti sedang berebutan memerhatikan perangai saya. Terlebih, di sampingnya ada beberapa pigura foto lengkap dengan sesajinya. Horor. Sepertinya itu adalah tokoh adat di Bori’ yang belum lama disemayamkan pada Liang Pa’. Untung saja kicauan burung liar berhasil menyemarakkan suasana.

Sebenarnya Basho akan mengajak untuk melanjutkan menelusuri setapak. “Ada perkampungan penduduk di sana.” katanya. Namun, sore yang kian menjadi mengubur niatan itu. Kami pun kembali ke tempat parkir. Sesampainya, saya melihat ada bangunan yang tampak diobrak-abrik di seberang pandang. Cukup jauh, tapi tetap bisa kelihatan. Ada apa gerangan?

Seorang lelaki tua setempat bercerita. “Masyarakat menghukum sang pemilik rumah karena melakukan pelanggaran berat atas adat. Rumah dan pekarangannya pun diobrak-abrik.” Sayangnya saya tak mendapatkan rincian adat apa yang dilanggar. Mobil kami pun mulai melaju. Tapi, dari balik kaca, saya tetap saja memandangi rumah yang rusak itu. Sembari pikiran saya berkelana. Ah, berarti masyarakat Toraja sangat disiplin dan tegas menjunjung tradisi adatnya. Kini kami mulai memasuki hutan. Berkelok-kelok.

Tiba-tiba tampak dua orang wisatawan asing berjalan kaki di tepian jalan. Mereka sepertinya kelelahan tetapi begitu menyesap nikmat suasana. “Turis asing suka berjalan-jalan, berpetualang menelusuri alam Toraja. Mereka biasanya berwisata secara mandiri” tutur Basho. 

Lepas dari hutan, sampailah kami di Sesean. Kota kecamatan ini begitu lengang. Sore telah membuat penghuninya sibuk di dalam rumah. Tapi, menara gereja tampak menjulang di antara pemukiman dan Tongkonan. Ini mengingatkan saya pada simbol. Tradisi leluhur dengan agama ‘mainstream’ bisa harmonis berpadu di Toraja.

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik
Suasana yang nyaman dan asri di wilayah Sesean.

Seperempat jam kemudian, mobil berhenti. Di pinggir sebuah pohon beringin besar. Basho keluar. Dia mengajak saya dan menunjukkan sebuah jembatan bambu. Ya, sebuah arsitektur dari bambu yang saling mengikat dalam simpul-simpul yang kuat. Tanpa paku. Berbentuk segitiga meruncing ke atas di tepiannya. Melintas di bawahnya, sebuah sungai mengalir tenang. Yang diapit bebatuan granit yang berkotak-kotak. Bertingkat-tingkat. Eksotis.

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik
Bebatuan eksotis di sungai Masupu Toraja.

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik
Jembatan bambu gantung. Melintas di atas sungai Masupu Toraja.

Seorang ibu pembawa rumput melintas. Menyeberangi jembatan. Senyum ramah menguar darinya tatkala saya berpapasan dengannya. Dia pulang selepas dari ladangnya. 

“Rumput ini untuk makan dua kerbau milik saya.” terangnya.

Saya pun mengiringi perjalanan sang ibu itu. Berinteraksi. Berkomunikasi. Berbagi cerita. Berbagi tertawa. Ramah dan hangat. Hingga kami mesti berpisah. Karena saya harus pulang ke Rantepao dan sang ibu melanjutkan perjalanannya ke rumah. Sepertinya perjalanan dia masih cukup jauh. Berjalan kaki. Tapi, demi menghidupi sang kerbau, dia tulus menjalani aktivitas ini setiap harinya. Sosok ibu pembawa rumput pun menghilang. Tertelan pada jalan kampung menerabas belukar. 

Dan, matahari makin memudar. Tidak saja tertutup awan, tetapi karena senja kian menjelang. Empat kilometer lagi menuju Rantepao. Jejalanan beraspal yang terkelupas selekasnya kami libas. Saya masih harus berburu oleh-oleh khas Toraja dan juga pasti Kopi Toraja di Pasar Rantepao. 

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik
Rante Kalimbuang, pusat aktivitas Rambu Solo' di Bori Kalimbuang. 

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik
Tanaman sulir bisa tumbuh di atas bebatuan menhir.

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik
Penulis berpose di jembatan bambu.


Artikel dan Foto: Iqbal Kautsar | @iqbal_kautsar



Tentang Penulis:
Iqbal Kautsar, seorang; Pemakna khasanah INDONESIA | Pejalan dan pencerita perjalanan | Pecinta kopi, durian dan brotowali | Yogyakarta dan Kebumen |

Anda bisa menghubunginya melalui email: iqbalkautsar@gmail.com

Sumber: artikel ini sebelumnya diposting dalam blog pribadi penulis _DIASPORA IQBAL_ dan atas izin dari penulis, artikel ini kami posting kembali untuk menambah informasi tentang pariwisata di Indonesia khususnya di Toraja.

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik (Bag.I)

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik
Bori' Kalimbuang, Situs Megalitik Toraja.
Batu-batu tegak berdiri pada hamparan hijau tanah rumput. Berbentuk menhir. Tinggi memanjang menyembul dari daratan. Tapi tak seragam. Ada yang kecil, ada yang besar. Ada yang pendek ada yang tinggi. Saya tertarik menyelinap masuk di antara bebatuan ini. Berpindah dari satu batu ke batu lain. Kilat tak menjejakkan suara. Ah, saya sedang iseng bermain sembunyi-sembunyian. Dooorrr! Basho terkejut ketika sibuk mencari saya yang seperti hilang tertelan di Rante Kalimbuang.

“Keseluruhan batu menhir di sini konon berjumlah 102 buah. Terdiri dari 54 menhir kecil, 24 sedang dan 24 batu berukuran besar. “jelas Basho seraya ia menguasai diri dari kekagetannya. Untung saja Basho orangnya ramah. Tak nampak ada marah setelah saya jahili. Dia sangat profesional.

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik
Deretan menhir di Rante Kalimbuang berusia ratusan tahun. Tampak Balakkayan berupa panggung.

Rante Kalimbuang merupakan kawasan utama di Bori’ Kalimbuang, Sesean, Toraja Utara. Rante menjadi tempat upacara pemakaman adat atau Rambu Solo’ yang dilengkapi dengan menhir-menhir yang dikenal dalam bahasa Toraja sebagai simbuang batu. Di Tana Toraja sebenarnya banyak ditemukan situs megalith seperti ini. Di Bori Kalimbuang, menhir didirikan demi menghormati pemuka adat atau keluarga bangsawan yang meninggal. Bebatuan menhir ini ada yang berusia hingga ratusan tahun. 

Namun, sifat masyarakat Toraja yang erat dalam persaudaraan dan kekeluargaan menjadikan prosesi pendirian menhir terasa mudah.

Tidak sembarang untuk membangun menhir. Masyarakat harus mengadakan suatu upacara adat Rambu Solo' (upacara pemakaman) dalam tingkatan tertentu contohnya Rapasan Sapurandanan. Dalam upacara ini, kerbau yang dikurbankan minimal sejumlah 24 ekor. Jumlah yang dikorbankan sesungguhnya tidak berdampak pada ukuran tinggi dan besar menhir. Sama saja nilai adatnya. Tetapi sekarang, banyak orang yang menganggap semakin tinggi dan besar menhir yang didirikan, maka semakin tinggi derajat kebangsawanannya. Barangkali benar juga. Pada menhir-menhir yang tinggi, saya amati batuannya masih tampak baru.

“Bagaimana mendirikan menhir-menhir ini?” tanya saya kepada Basho. Saya penasaran karena tak tampak ada sambungan di batu. Pastilah batu yang dijadikan menhir merupakan satu batu utuh yang berukuran besar. 

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik
Panggung mirip Tongkonan untuk para tamu Rambu Solo, dengan hiasan kerangka gigi kerbau.

Basho menceritakan muasalnya. Batu untuk menhir diambil dari gunung, dari batu-batu besar yang banyak bertebaran di Toraja. Di lokasi asal batu ini, dilakukanlah penggalian dan pemahatan batu. Pemahatan bisa berlangsung berhari-hari bahkan bisa sampai 2 bulan. Sebelumnya, untuk memulai pemahatan dilakukan penyembelihan seekor kerbau. Babi-babi juga dikurbankan.

Setelah batu menhir selesai dipahat, kemudian ditarik oleh beratus-ratus orang dengan cara tradisional. Batu ditarik atau digulirkan menggunakan batang-batang pohon dan tali-temali dari bambu. Proses penarikan ini melibatkan penduduk dan siapapun yang berkenan menyumbangkan tenaganya. Proses penarikan batu dari tempat asalnya dipahat hingga ke lokasi pendirian menhir memakan waktu behari-hari bahkan berminggu-minggu. Tergantung medan dan jarak yang dilaluinya.

Untuk mendirikan menhir di lokasi, dilakukanlah oleh beratus-ratus lelaki. Kurang lebih sepertiga tinggi batu menhir ditanam di dalam tanah. Tinggal menyisakan dua pertiganya yang menjulang di atas tanah. Bisa dibayangkan, proses mendirikan menhir membutuhkan banyak tenaga. Namun, sifat masyarakat Toraja yang erat dalam persaudaraan dan kekeluargaan menjadikan prosesi pendirian menhir terasa mudah.

Baiklah. Lepas dari muasal menhir, saya mengamati lingkungan Rante Kalimbuang. Beberapa bangunan beratap khas (mirip Tongkonan) tampak menjadi hiasan Rante. Ah, ini kan sebenarnya tempat upacara adat Rambu Solo’. Berarti bangunan-bangunan ini memiliki fungsi dengan pelaksanaan upacara tersebut.

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik
Bangunan paling besar Lakkian tempat jenazah disemayamkan saat Rambu Solo'. Di sampingnya ada Langi' tempat usungan jenazah. 

Di tengah, di antara ‘rerimbunan’ menhir terdapat beberapa bangunan jangkung. Salah satunya ada yang masih baru. Itulah Balakkayan. Tempat ini berbentuk panggung untuk membagi-bagikan daging hewan yang disembelih saat Rambu Solo’. Di sinilah, para pembagi daging atau dikenal To Mantawa meneriakkan nama-nama penerima daging. To Mantawa akan memanggil sesuai kedudukan sosialnya atau ‘Saroan’ nya.                     

Ada juga Lakkian di pinggir kompleks menhir. Lakkian menjadi tempat jenazah disemayamkan selama upacara Rambu Solo’ berlangsung. Terdiri atas dua tingkat. Bagian atas menjadi tempat peti jenasah disemayamkan. Adapun, bagian bawah sebagai tempat duduk keluarga yang berduka. Lakkian ini dibangun paling tinggi di antara bangunan2 lain yang terdapat di tempat upacara Rambu Solo’ berlangsung. Lakkian ini tidak boleh dirobohkan. Dibiarkan begitu saja sampai roboh dengan sendirinya.

Bangunan lainnya adalah Langi’, yaitu tempat usungan jenazah. Usungan ini berbentuk atap Tongkonan. Langi’ biasanya dihiasi dengan uang logam kuno orang Toraja, diukir dengan berbagai macam ukiran – ukiran khas orang Toraja. Berbagai macam hiasan - hiasan lain semakin menambah kemeriahan Langi’. Selain itu masih ada beberapa bangunan panggung di sekitar area menhir. Tempat ini menjadi tempat duduk para tamu undangan saat Rambu Solo’. Terdapat hiasan kerangka gigi kerbau yang dikurbankan.

Basho kemudian mengajak saya menaiki setapak. Menembus rerimbunan pohon dan bambu. Suasana sejuk mengiringi perjalanan yang mengantarkan pada kesegaran. Hingga 100 meter kemudian saya tiba pada sebuah batu besar berbentuk oval yang dilubangi sebagai tempat peletakkan jenazah. Itulah Liang Pa’. Sebuah kompleks kuburan batu di Bori’ Kalimbuang...

Bori' Kalimbuang, Deretan Menhir Megalitik nan Eksotik
Liang Pa' di kawasan Bori Kalimbuang. Kubur batu pada batuan oval.


Bersambung...



Artikel dan Foto: Iqbal Kautsar | @iqbal_kautsar

Tentang Penulis:
Iqbal Kautsar, seorang; Pemakna khasanah INDONESIA | Pejalan dan pencerita perjalanan | Pecinta kopi, durian dan brotowali | Yogyakarta dan Kebumen |

Anda bisa menghubunginya melalui email: iqbalkautsar@gmail.com

Sumber: artikel ini sebelumnya diposting dalam blog pribadi penulis _DIASPORA IQBAL_ dan atas izin dari penulis, artikel ini kami posting kembali untuk menambah informasi tentang pariwisata di Indonesia khususnya di Toraja.

Budaya Pemakaman Orang Toraja

Budaya Pemakaman Orang Toraja
Tengkorak yang tergelatak dalam goa tempat pemakaman Suku Toraja
Salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi jika berkunjung ke Toraja, Sulawesi Selatan adalah perkampungan Kete’kesu. Kata kete’kesu berarti “pusat kegiatan”.

Daya tarik utama dari Kete’kesu adalah rumah khas penduduk Toraja yang masih terjaga keasliannya. Namun yang tak kalah menarik dari Kete’kesu adalah keberadaan kuburan keluarga penduduk setempat.

Budaya Pemakaman Orang Toraja
Pintu masuk perkampungan Ke'te Kesu'
Budaya Pemakaman Orang Toraja
Perkampungan Ke'te Kesu
Penduduk Toraja memiliki adat budaya yang cukup unik dalam hal makam keluarga. Mereka sengaja meletakkan jasad seluruh anggota keluarga mereka dalam satu Erong.

Erong adalah peti mati orang Toraja jaman dulu. Erong terbuat dari kayu dengan corak berbentuk hewan. Dikarenakan umur kuburan yang sudah sangat tua, banyak tumpukan erong 'peti mati' yang melapuk sehingga nampak tulang- belulang berserakan di alam terbuka. 

Salah satunya yang saya dokumentasikan dalam foto ini. Tulang-belulang dalam foto ini merupakan tulang- belulang yang berasal dari satu keluarga utuh. Mereka dikumpulkan dalam satu erong ‘peti mati’. 

Budaya Pemakaman Orang Toraja
Erong adalah peti mati orang Toraja jaman dulu
Budaya Pemakaman Orang Toraja
Tengkorak di pemakaman kuno Suku Toraja
Budaya Pemakaman Orang Toraja
Tengkorak di pemakaman kuno Suku Toraja
Budaya Pemakaman Orang Toraja
Tengkorak di pemakaman kuno Suku Toraja

Sungguh kebudayaan yang menarik untuk kita ketahui.


Sumber : FotoKita[.]net

Budaya Toraja Diusul Masuk Warisan Dunia


Budaya Toraja Diusul Masuk Warisan Dunia
Seorang penari dalam balutan busana adat Toraja, menarikan tarian tradisional Toraja.
MAKALE– Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berupaya memasukkan pemukiman tradisional Toraja dicatat sebagai salah satu warisan dunia.

Saat ini,Kemendikbud tengah melakukan pengumpulan data dan informasi,serta penelitian dan penyempurnaan dokumen tentang pemukiman tradisional sebagai salah satu bagian kebudayaan Toraja. Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar A Muh Said mewakili Kemendikbud menyatakan, sejak 2005 lalu, pemerintah pusat mengusulkan dua nominasi warisan budaya Indonesia ke UNESCO menjadi warisan dunia, yakni Bali dan Toraja.

Pada Oktober lalu, UNESCO sudah menyetujui dan menetapkan Bali sebagai warisan dunia,sedangkan Toraja direncanakan akan menyusul. Status pemukiman tradisional Toraja saat ini sudah masuk dalam daftar nominasi, tetapi belum ditetapkan sebagai warisan dunia.Itu disebabkan dokumen- dokumen pengusulan pemukiman Toraja sebagai warisan dunia tidak dilengkapi dengan nilai-nilai budaya yang ada di balik rumah adat Toraja.

“Dokumen pengusulan pemukiman tradisional Toraja lebih mengarah pada fisik bangunan dan tidak dilengkapi nilai budaya, sehingga sampai sekarang belum ditetapkan menjadi warisan dunia,” tuturnya dalam diskusi nominasi warisan dunia pemukiman tradisional Toraja yang berlangsung di Pantan Toraja Hotel, kemarin. Dia mengatakan, untuk menjadikan Toraja sebagai warisan dunia, pemerintah harus lebih bekerja keras guna melengkapi dokumen tentang nilai-nilai kebudayaan Toraja.

Salah satunya, menghimpun data dan informasi serta penelitian tentang kebudayaan Toraja dalam rangka penyempurnaan dan penyusunan dokumen untuk mendapat pengakuan dari UNESCO. “Dokumen tentang nilai-nilai kebudayaan secara keseluruhan sudah harus diterima UNESCO sebelum mereka melakukan kajian dan evaluasi untuk mendapat pengakuan sebagai warisan dunia,”tuturnya. Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Tana Toraja Enos Karoma menyatakan,Pemkab terus berupaya untuk menyiapkan data dan informasi tentang kebudayaan dalam melengkapi dokumen yang ada sebelumnya.

Pemkab juga menjamin data dan informasi kebudayaan Toraja tidak direkayasa dan tidak terkait dengan kepentingan oknum pribadi atau kelompok tertentu.“Kami siap memberikan data dan informasi tentang kebudayaan daerah yang benar dan akurat untuk ditetapkan menjadi warisan dunia,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Toraja Jidon Sitohang mengaku, salah satu keunikan budaya yang terkandung dalam rumah adat Toraja sebagai sistem sosial di masyarakat untuk mempererat persatuan dan kesatuan antarkeluarga dan masyarakat Toraja.

[joni lembang]
@[seputar_indonesia]

Sejarah dan Asal Usul Suku Toraja (Bag.III)

Sejarah dan Asal Usul Suku Toraja
Patung Lakipadada di pusat kota Makale. Lakipadada adalah salah satu legenda dalam cerita rakyat Suku Toraja.
Filosofi Tau - Secara sadar atau tidak sadar, masyarakat toraja hidup dan tumbuh dalam sebuah tatanan masyarakat yang menganut filosofi tau. Filosofi tau dibutuhkan sebagai pegangan dan arah menjadi manusia (manusia="tau" dalam bahasa toraja) sesungguhnya dalam konteks masyarakat toraja. 

Filosofi tau memiliki empat pilar utama yang mengharuskan setiap masyarakat toraja untuk menggapainya, antara lain: - Sugi' (Kaya) - Barani (Berani) - Manarang (Pintar) - Kinawa (memiliki nilai-nilai luhur, agamis, bijaksana) Keempat pilar di atas tidak dapat di tafsirkan secara bebas karena memiliki makna yang lebih dalam daripada pemahaman kata secara bebas. Seorang toraja menjadi manusia yang sesungguhnya ketika dia telah memiliki dan hidup sebagai Tau.

Kebudayaan

Tongkonan

Sejarah dan Asal Usul Suku Toraja
Tongkonan adalah rumah tradisional Toraja.
Tongkonan adalah rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan kayu dan dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata "tongkonan" berasal dari bahasa Toraja 'tongkon' (duduk).

Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut serta karena Tongkonan melambangan hubungan mereka dengan leluhur mereka.Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan menggelar upacara yang besar.

Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan. Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat "pemerintahan". Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal sedangkan anggota keluarga biasa tinggal di tongkonan batu. Eksklusifitas kaum bangsawan atas tongkonan semakin berkurang seiring banyaknya rakyat biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu membangun tongkonan yang besar.

Ukiran kayu Toraja

Sejarah dan Asal Usul Suku Toraja
Passura' ukiran kayu khas Toraja.
Bahasa Toraja hanya diucapkan dan tidak memiliki sistem tulisan. Untuk menunjukkan kosep keagamaan dan sosial, suku Toraja membuat ukiran kayu dan menyebutnya Passura' (atau "tulisan"). Oleh karena itu, ukiran kayu merupakan perwujudan budaya Toraja.

Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan dan tanaman yang melambangkan kebajikan, contohnya tanaman air seperti gulma air dan hewan seperti kepiting dan kecebong yang melambangkan kesuburan. Gambar kiri memperlihatkan contoh ukiran kayu Toraja, terdiri atas 15 panel persegi. Panel tengah bawah melambangkan kerbau atau kekayaan, sebagai harapan agar suatu keluarga memperoleh banyak kerbau. 

Panel tengah melambangkan simpul dan kotak, sebuah harapan agar semua keturunan keluarga akan bahagia dan hidup dalam kedamaian, seperti barang-barang yang tersimpan dalam sebuah kotak. Kotak bagian kiri atas dan kanan atas melambangkan hewan air, menunjukkan kebutuhan untuk bergerak cepat dan bekerja keras, seperti hewan yang bergerak di permukaan air. Hal Ini juga menunjukkan adanya kebutuhan akan keahlian tertentu untuk menghasilkan hasil yang baik.

Sejarah dan Asal Usul Suku Toraja
Seorang nenek dengan ornamen karya seni suku Toraja.
Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam ukiran kayu Toraja, selain itu ukiran kayu Toraja juga abstrak dan geometris. Alam sering digunakan sebagai dasar dari ornamen Toraja, karena alam penuh dengan abstraksi dan geometri yang teratur. Ornamen Toraja dipelajari dalam ethnomatematika dengan tujuan mengungkap struktur matematikanya meskipun suku Toraja membuat ukiran ini hanya berdasarkan taksiran mereka sendiri. Suku Toraja menggunakan bambu untuk membuat ornamen geometris.

Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. 

Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.

Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman. Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.

Sejarah dan Asal Usul Suku Toraja
Sebuah makam di tebing batu.
Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam "masa tertidur". 

Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puyajika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.

Ada tiga cara pemakaman: Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar. Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.

Musik dan Tarian

Sejarah dan Asal Usul Suku Toraja
Tarian adat suku Toraja.
Suku Toraja melakukan tarian dalam beberapa acara, kebanyakan dalam upacara penguburan. Mereka menari untuk menunjukkan rasa duka cita, dan untuk menghormati sekaligus menyemangati arwah almarhum karena sang arwah akan menjalani perjalanan panjang menuju akhirat. Pertama-tama, sekelompok pria membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu sepanjang malam untuk menghormati almarhum (ritual terseebut disebut Ma'badong). 

Ritual tersebut dianggap sebagai komponen terpenting dalam upacara pemakaman. Pada hari kedua pemakaman, tarian prajurit Ma'randing ditampilkan untuk memuji keberanian almarhum semasa hidupnya. Beberapa orang pria melakukan tarian dengan pedang, prisai besar dari kulit kerbau, helm tanduk kerbau, dan berbagai ornamen lainnya. Tarian Ma'randing mengawali prosesi ketika jenazah dibawa dari lumbung padi menuju rante, tempat upacara pemakaman. 

Sejarah dan Asal Usul Suku Toraja
Ma'badong, salah satu tarian khas suku Toraja.
Selama upacara, para perempuan dewasa melakukan tarian Ma'katia sambil bernyanyi dan mengenakan kostum baju berbulu. Tarian Ma'akatia bertujuan untuk mengingatkan hadirin pada kemurahan hati dan kesetiaan almarhum. Setelah penyembelihan kerbau dan babi, sekelompok anak lelaki dan perempuan bertepuk tangan sambil melakukan tarian ceria yang disebut Ma'dondan.

Seperti di masyarakat agraris lainnya, suku Toraja bernyanyi dan menari selama musimpanen. Tarian Ma'bugi dilakukan untuk merayakan Hari Pengucapan Syukur dan tarianMa'gandangi ditampilkan ketika suku Toraja sedang menumbuk beras Ada beberapa tarian perang, misalnya tarian Manimbong yang dilakukan oleh pria dan kemudian diikuti oleh tarian Ma'dandan oleh perempuan. 

Sejarah dan Asal Usul Suku Toraja
Ma'bas, salah satu alat musik bambu tradisional Toraja.
Agama Aluk mengatur kapan dan bagaimana suku Toraja menari. Sebuah tarian yang disebut Ma'bua hanya bisa dilakukan 12 tahun sekali. Ma'bua adalah upacara Toraja yang penting ketika pemuka agama mengenakan kepala kerbau dan menari di sekeliling pohon suci.

Alat musik tradisional Toraja adalah suling bambu yang disebut Pa'suling. Suling berlubang enam ini dimainkan pada banyak tarian, seperti pada tarian Ma'bondensan, ketika alat ini dimainkan bersama sekelompok pria yang menari dengan tidak berbaju dan berkuku jari panjang. Selain itu ada juga alat musik yang terbuat dari tabung-tabung bambu yang sering disebut Ma'bas. Suku Toraja juga mempunyai alat musik lainnya, misalnya Pa'pelle yang dibuat dari daun palem dan dimainkan pada waktu panen dan ketika upacara pembukaan rumah.

[***]

Sejarah dan Asal Usul Suku Toraja (Bag.II)

Sejarah dan Asal Usul Suku Toraja
Upacara pemakaman adat Suku Toraja
Masyarakat

Keluarga
Keluarga adalah kelompok sosial dan politik utama dalam suku Toraja. Setiap desa adalah suatu keluarga besar. Setiap tongkonan memiliki nama yang dijadikan sebagai nama desa. Keluarga ikut memelihara persatuan desa. 

Pernikahan dengan sepupu jauh (sepupu keempat dan seterusnya) adalah praktek umum yang memperkuat hubungan kekerabatan.Suku Toraja melarang pernikahan dengan sepupu dekat (sampai dengan sepupu ketiga) kecuali untuk bangsawan, untuk mencegah penyebaran harta. Hubungan kekerabatan berlangsung secara timbal balik, dalam artian bahwa keluarga besar saling menolong dalam pertanian, berbagi dalam ritual kerbau, dan saling membayarkan hutang.

Sejarah dan Asal Usul Suku Toraja
Busana adat Suku Toraja
Setiap orang menjadi anggota dari keluarga ibu dan ayahnya. Anak, dengan demikian, mewarisi berbagai hal dari ibu dan ayahnya, termasuk tanah dan bahkan utang keluarga. Nama anak diberikan atas dasar kekerabatan, dan biasanya dipilih berdasarkan nama kerabat yang telah meninggal. Nama bibi, paman dan sepupu yang biasanya disebut atas nama ibu, ayah dan saudara kandung.

Sebelum adanya pemerintahan resmi oleh pemerintah kabupaten Tana Toraja, masing-masing desa melakukan pemerintahannya sendiri. Dalam situasi tertentu, ketika satu keluarga Toraja tidak bisa menangani masalah mereka sendiri, beberapa desabiasanya membentuk kelompok; kadang-kadang, bebrapa desa akan bersatu melawan desa-desa lain Hubungan antara keluarga diungkapkan melalui darah, perkawinan, dan berbagi rumah leluhur (tongkonan), secara praktis ditandai oleh pertukaran kerbau dan babi dalam ritual. 

Pertukaran tersebut tidak hanya membangun hubungan politik dan budaya antar keluarga tetapi juga menempatkan masing-masing orang dalam hierarki sosial: siapa yang menuangkan tuak, siapa yang membungkus mayat dan menyiapkan persembahan, tempat setiap orang boleh atau tidak boleh duduk, piring apa yang harus digunakan atau dihindari, dan bahkan potongan daging yang diperbolehkan untuk masing-masing orang.

Kelas sosial

Sejarah dan Asal Usul Suku Toraja
Tongkonan, rumah adat Suku Toraja
Dalam masyarakat Toraja awal, hubungan keluarga bertalian dekat dengan kelas sosial. Ada tiga tingkatan kelas sosial: bangsawan, orang biasa, dan budak (perbudakan dihapuskan pada tahun 1909 oleh pemerintah Hindia Belanda). Kelas sosial diturunkan melalui ibu. Tidak diperbolehkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih rendah tetapi diizinkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih tingi, ini bertujuan untuk meningkatkan status pada keturunan berikutnya. Sikap merendahkan dari Bangsawan terhadap rakyat jelata masih dipertahankan hingga saat ini karena alasan martabat keluarga.

Kaum bangsawan, yang dipercaya sebagai keturunan dari surga, tinggal di tongkonan, sementara rakyat jelata tinggal di rumah yang lebih sederhana (pondok bambu yang disebut banua). Budak tinggal di gubuk kecil yang dibangun di dekat tongkonan milik tuan mereka. Rakyat jelata boleh menikahi siapa saja tetapi para bangsawan biasanya melakukan pernikahan dalam keluarga untuk menjaga kemurnian status mereka. Rakyat biasa dan budak dilarang mengadakan perayaan kematian. Meskipun didasarkan pada kekerabatan dan status keturunan, ada juga beberapa gerak sosial yang dapat memengaruhi status seseorang, seperti pernikahan atau perubahan jumlah kekayaan. Kekayaan dihitung berdasarkan jumlah kerbau yang dimiliki.

Budak dalam masyarakat Toraja merupakan properti milik keluarga. Kadang-kadang orang Toraja menjadi budak karena terjerat utang dan membayarnya dengan cara menjadi budak. Budak bisa dibawa saat perang, dan perdagangan budak umum dilakukan. Budak bisa membeli kebebasan mereka, tetapi anak-anak mereka tetap mewarisi status budak. Budak tidak diperbolehkan memakai perunggu atau emas, makan dari piring yang sama dengan tuan mereka, atau berhubungan seksual dengan perempuan merdeka. Hukuman bagi pelanggaran tersebut yaitu hukuman mati.

Agama

Sejarah dan Asal Usul Suku Toraja
Gereja Sion, dibangun di atas bukit di Makale
Sistem kepercayaan tradisional suku Toraja adalah kepercayaan animisme politeistik yang disebut aluk, atau "jalan" (kadang diterjemahkan sebagai "hukum"). Dalam mitos Toraja, leluhur orang Toraja datang dari surga dengan menggunakan tangga yang kemudian digunakan oleh suku Toraja sebagai cara berhubungan dengan Puang Matua, dewa pencipta. Alam semesta, menurut aluk, dibagi menjadi dunia atas (Surga) dunia manusia (bumi), dan dunia bawah. 

Pada awalnya, surga dan bumi menikah dan menghasilkan kegelapan, pemisah, dan kemudian muncul cahaya. Hewan tinggal di dunia bawah yang dilambangkan dengan tempat berbentuk persegi panjang yang dibatasi oleh empat pilar, bumi adalah tempat bagi umat manusia, dan surga terletak di atas, ditutupi dengan atap berbetuk pelana. Dewa-dewa Toraja lainnya adalah Pong Banggai di Rante (dewa bumi), Indo' Ongon-Ongon (dewi gempa bumi), Pong Lalondong (dewa kematian), Indo' Belo Tumbang (dewi pengobatan), dan lainnya.

Kekuasaan di bumi yang kata-kata dan tindakannya harus dipegang baik dalam kehidupan pertanian maupun dalam upacara pemakaman, disebut to minaa (seorang pendeta aluk). Aluk bukan hanya sistem kepercayaan, tetapi juga merupakan gabungan dari hukum, agama, dan kebiasaaan. Aluk mengatur kehidupan bermasyarakat, praktik pertanian, dan ritual keagamaan. 

Tata cara Aluk bisa berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. Satu hukum yang umum adalah peraturan bahwa ritual kematian dan kehidupan harus dipisahkan. Suku Toraja percaya bahwa ritual kematian akan menghancurkan jenazah jika pelaksanaannya digabung dengan ritual kehidupan. Kedua ritual tersebut sama pentingnya. Ketika ada para misionaris dari Belanda, orang Kristen Toraja tidak diperbolehkan menghadiri atau menjalankan ritual kehidupan, tetapi diizinkan melakukan ritual kematian. 

Akibatnya, ritual kematian masih sering dilakukan hingga saat ini, tetapi ritual kehidupan sudah mulai jarang dilaksanakan.

Bahasa
Bahasa Toraja adalah bahasa yang dominan di Tana Toraja, dengan Sa'dan Toraja sebagai dialek bahasa yang utama. Bahasa Indonesiasebagai bahasa nasional adalah bahasa resmi dan digunakan oleh masyarakat, akan tetapi bahasa Toraja pun diajarkan di semua sekolah dasar di Tana Toraja.

Ragam bahasa di Toraja antara lain Kalumpang, Mamasa, Tae' , Talondo' , Toala' , dan Toraja-Sa'dan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia dari bahasa Austronesia. Pada mulanya, sifat geografis Tana Toraja yang terisolasi membentuk banyak dialek dalam bahasa Toraja itu sendiri. Setelah adanya pemerintahan resmi di Tana Toraja, beberapa dialek Toraja menjadi terpengaruh oleh bahasa lain melalui proses transmigrasi, yang diperkenalkan sejak masa penjajahan. Hal itu adalah penyebab utama dari keragaman dalam bahasa Toraja.


Ciri yang menonjol dalam bahasa Toraja adalah gagasan tentang duka cita kematian. Pentingnya upacara kematian di Toraja telah membuat bahasa mereka dapat mengekspresikan perasaan duka cita dan proses berkabung dalam beberapa tingkatan yang rumit. Bahasa Toraja mempunyai banyak istilah untuk menunjukkan kesedihan, kerinduan, depresi, dan tekanan mental. Merupakan suatu katarsis bagi orang Toraja apabila dapat secara jelas menunjukkan pengaruh dari peristiwa kehilangan seseorang; hal tersebut kadang-kadang juga ditujukan untuk mengurangi penderitaan karena duka cita itu sendiri.
Ekonomi

Sebelum masa Orde Baru, ekonomi Toraja bergantung pada pertanian dengan adanya terasering di lereng-lereng gunung dan bahan makanan pendukungnya adalah singkong dan jagung. Banyak waktu dan tenaga dihabiskan suku Toraja untuk berternak kerbau, babi, dan ayam yang dibutuhkan terutama untuk upacara pengorbanan dan sebagai makanan. Satu-satunya industri pertanian di Toraja adalah pabrik kopi Jepang, Kopi Toraja.

Dengan dimulainya Orde Baru pada tahun 1965, ekonomi Indonesia mulai berkembang dan membuka diri pada investasi asing. Banyak perusahaan minyak dan pertambangan Multinasional membuka usaha baru di Indonesia. Masyarakat Toraja, khususnya generasi muda, banyak yang berpindah untuk bekerja di perusahaan asing. Mereka pergi ke Kalimantan untuk kayu dan minyak, ke Papua untuk menambang, dan ke kota-kota di Sulawesi dan Jawa. Perpindahan ini terjadi sampai tahun 1985.

Ekonomi Toraja secara bertahap beralih menjadi pariwisata berawal pada tahun 1984. Antara tahun 1984 dan 1997, masyarakat Toraja memperoleh pendapatan dengan bekerja di hotel, menjadi pemandu wisata, atau menjual cinderamata. Timbulnya ketidakstabilan politik dan ekonomi Indonesia pada akhir 1990-an (termasuk berbagai konflik agama di Sulawesi) telah menyebabkan pariwisata Toraja menurun secara drastis. Toraja lalu dkenal sebagai tempat asal dari kopi Indonesia. Kopi Arabika ini terutama dijalankan oleh pengusaha kecil.

Komersialisasi

Sejarah dan Asal Usul Suku Toraja
Makam suku Toraja di tebing tinggi berbatu.
Makam suku Toraja di tebing tinggi berbatu adalah salah satu tempat wisata di Tana Toraja.
Sebelum tahun 1970-an, Toraja hampir tidak dikenal oleh wisatawan barat. Pada tahun 1971, sekitar 50 orang Eropa mengunjungi Tana Toraja. Pada 1972, sedikitnya 400 orang turis menghadiri upacara pemakaman Puang dari Sangalla, bangsawan tertinggi di Tana Toraja dan bangsawan Toraja terakhir yang berdarah murni. 

Peristiwa tersebut didokumentasikan olehNational Geographic dan disiarkan di beberapa negara Eropa. Pada 1976, sekitar 12,000 wisatawan mengunjungi Toraja dan pada 1981, seni patung Toraja dipamerkan di banyak museum di Amerika Utara. "Tanah raja-raja surgawi di Toraja", seperti yang tertulis di brosur pameran, telah menarik minat dunia luar.

Pada tahun 1984, Kementerian Pariwisata Indonesia menyatakan Kabupaten Toraja sebagaiprimadona Sulawesi Selatan. Tana Toraja dipromosikan sebagai "perhentian kedua setelahBali". Pariwisata menjadi sangat meningkat: menjelang tahun 1985, terdapat 150.000 wisatawan asing yang mengunjungi Tana Toraja (selain 80.000 turis domestik), dan jumlah pengunjung asing tahunan tercatat sebanyak 40.000 orang pada tahun 1989. Suvenir dijual di Rantepao, pusat kebudayaan Toraja, banyak hotel dan restoran wisata yang dibuka, selain itu dibuat sebuah lapangan udara baru pada tahun 1981.

Para pengembang pariwisata menjadikan Toraja sebagai daerah petualangan yang eksotis, memiliki kekayaan budaya dan terpencil. Wisatawan Barat dianjurkan untuk mengunjungi desazaman batu dan pemakaman purbakala. Toraja adalah tempat bagi wisatawan yang telah mengunjungi Bali dan ingin melihat pulau-pulau lain yang liar dan "belum tersentuh". Tetapi suku Toraja merasa bahwa tongkonan dan berbagai ritual Toraja lainnya telah dijadikan sarana mengeruk keuntungan, dan mengeluh bahwa hal tersebut terlalu dikomersilkan. Hal ini berakibat pada beberapa bentrokan antara masyarakat Toraja dan pengembang pariwisata, yang dianggap sebagai orang luar oleh suku Toraja.

Bentrokan antara para pemimpin lokal Toraja dan pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (sebagai pengembang wisata) terjadi pada tahun 1985. Pemerintah menjadikan 18 desa Toraja dan tempat pemakaman tradisional sebagai "objek wisata". Akibatnya, beberapa pembatasan diterapkan pada daerah-daerah tersebut, misalnya orang Toraja dilarang mengubah tongkonan dan tempat pemakaman mereka. 

Hal tersebut ditentang oleh beberapa pemuka masyarakat Toraja, karena mereka merasa bahwa ritual dan tradisi mereka telah ditentukan oleh pihak luar. Akibatnya, pada tahun 1987 desa Kete Kesu dan beberapa desa lainnya yang ditunjuk sebagai "objek wisata" menutup pintu mereka dari wisatawan. Namun penutupan ini hanya berlangsung beberapa hari saja karena penduduk desa merasa sulit bertahan hidup tanpa pendapatan dari penjualan suvenir.

Pariwisata juga turut mengubah masyarakat Toraja. Dahulu terdapat sebuah ritual yang memungkinkan rakyat biasa untuk menikahi bangsawan (Puang), dan dengan demikian anak mereka akan mendapatkan gelar bangsawan. Namun, citra masyarakat Toraja yang diciptakan untuk para wisatawan telah mengikis hirarki tradisionalnya yang ketat, sehingga status kehormatan tidak lagi dipandang seperti sebelumnya. Banyak laki-laki biasa dapat saja menyatakan diri dan anak-anak mereka sebagai bangsawan, dengan cara memperoleh kekayaan yang cukup lalu menikahi perempuan bangsawan.