Showing posts with label Aluk Todolo. Show all posts
Showing posts with label Aluk Todolo. Show all posts

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata [Bag. I]

Lama meredup di peta wisata, Toraja kini hendak memulihkan pamornya sebagai destinasi favorit. Ritual kematian tak lagi menjadi mantra utama.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata

Banyak orang Toraja masih menyalahkan Bom Bali sebagai pangkal jatuhnya industri pariwisata. Tapi, saat Bali kian pulih dari duka, Toraja masih berlinang air mata. Apa yang salah? Juni adalah bulan yang penuh darah. Banyak desa sibuk menggelar upacara kematian Rambu Solo. Ternak hilir mudik. Orang-orang berbusana hitam berkeliaran. Amis darah menjalar di udara.

Bulan ini, Toraja adalah tempat yang mengingatkan kita betapa singkatnya hidup. Di kampungnya, Pak Almen sedang menggelar Rambu Solo bagi ibunya yang meninggal enam bulan silam. Berapa harga yang harus dibayar untuk sebuah kematian? Berliter-liter air mata,  atau barangkali kerinduan yang tak berujung? Di Toraja, orang mesti membayar lebih. “Selusin kerbau dan ratusan babi,” jawab Pak Almen.

Di Toraja, kematian seseorang bisa membiayai kehidupan orang lain selama setahun. Atau mungkin bertahun-tahun. Di pasar ternak, babi dibanderol antara Rp1-3 juta. Kerbau jauh, jauh lebih mahal, mulai dari Rp30 juta hingga menembus Rp1 miliar, tergantung dari jumlah user-user bulunya, corak tubuhnya, juga tentu saja, bobotnya. Di kawasan dengan pendapatan per kapita di bawah Rp15 juta ini, kematian jelas peristiwa yang boros. Pak Almen terpaksa memakai tabungan dari hasil kerja kerasnya merantau ke Bekasi selama 10 tahun.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Warga lokal yang ramah menyambut turis. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Saya memberikan satu slof rokok kepada si pemilik hajat. Sesuai tradisi, pelayat sepatutnya menghibahkan sesuatu kepada keluarga almarhum. Pak Almen mempersilakan saya duduk dan menyuguhkan makanan. Untuk orang yang sedang berkabung, dia sangat murah senyum, bahkan usai mengetahui saya tengah melanggar banyak norma adat. Toraja mengenal sistem kasta dan orang seperti saya berada di dasar piramida. Saya masuk ke arena upacara dari jalur tengah, lalu duduk di sisi depan lumbung dan membiarkan kedua kaki bergelantungan di atas tanah. Tempat saya duduk sebenarnya dikhususkan bagi para bangsawan. Di sini, kita diwajibkan duduk bersila.

Rambu Solo adalah upacara yang memancing mual. Usai rapalan doa dari pastor, satu per satu babi dan kerbau “dieksekusi” di padang rumput memakai metode yang membuat kaum penyayang hewan pingsan di tempat. Babi ditusuk perutnya. Kerbau ditebas lehernya. Seperti film Slasher dalam versi riil.

Menjelang tengah hari, padang rumput berubah merah. Tapi saya masih menonton, tertegun di tempat. Sejak kecil saya suka menonton prosesi Idul Adha. Tak jelas mengapa peristiwa berdarah kerap menyedot mata. Orang-orang hobi mengerubungi korban kecelakaan. Adegan buaya menerkam zebra diulang-ulang di televisi. Mungkin benar, sadism memiliki pesonanya sendiri.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Kerbau memegang peranan penting dalam upacara tradisional di Toraja. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Benarkah Rambu Solo sadis? Melihat Lebih Luas

Rambu Solo bukan semata soal tebas-menebas. Ia bukan tontonan semacam Tauromachia di mana matador berdansa dengan banteng sembari menusukkan pedang berulang kali demi mendulang tepuk tangan. Bagaikan Idul Adha versi Toraja, pengorbanan ternak Rambu Solo menyimpan filosofi sosial yang luhur. Daging babi dan kerbau dibagikan kepada para keluarga dan tetangga. Orang-orang “kiri” mungkin akan menyebutnya sistem “redistribusi kekayaan.” 

Berkat sistem “barter sosial,” Rambu Solo juga bagaikan tali yang menyambung silaturahmi. Jika Anda mendonasikan seekor babi, kelak Anda menerima “hadiah” serupa saat berkabung. Di Toraja, di mana mayoritas orang merantau ke luar pulau, Rambu Solo adalah momen pengikat keluarga-keluarga yang terpisah jarak. “Hari upacara sengaja ditetapkan pada tengah tahun supaya keluarga bisa memanfaatkan liburan sekolah,” ujar Pak Almen yang mengenakan peci walau sebenarnya telah lama memeluk Kristen, agama mayoritas di Toraja.

Rambu Solo telah lama menjadi magnet Toraja. Upacara kematian ini adalah jendela ideal untuk melihat kultur Toraja, sebuah dataran tinggi di Sulawesi di mana tradisi megalitik Austronesia masih berdenyut. Di sini, mati bukanlah pemberhentian terakhir. Jenazah akan terlebih dulu diawetkan di rumah untuk disapa sanak famili. Setelah dimakamkan, keluarganya membuatkan versi patungnya (tau-tau), yang kemudian dipajang di tebing-tebing tinggi.

Jika ia berstatus bangsawan, setonggak menhir mungkin akan ditanam untuk mengenangnya. Suatu hari nanti, mayat akan dikeluarkan dari liang lahad, dibersihkan, dikenakan baju baru, dan keluarga kembali berkumpul. Di Toraja, almarhum seolah tak pernah benar-benar wafat. Siapa yang tak senang mengetahui bahwa kita tak begitu saja dilupakan, bahkan setelah mati?

Mengendarai motor, saya meniti jalan-jalan sempit penuh meander dan lubang. Acap kali lubang terlalu dalam hingga bodi motor terantuk. Hanya panorama menawan yang membuat saya berhenti mengeluh. Di kedua sisi jalan, sawah melapisi lembah seperti permadani. Di lereng-lereng, gereja putih bertengger, dihubungkan oleh jalan setapak berliku yang menyerupai ular cokelat di padang hijau. “Istilah hijau royo-royo paling sempurna, ya di Toraja,” ujar Trinity, seorang penulis buku travel.

Sampai di puncak Batutumonga, lanskap Toraja tampak seperti lukisan Mooi Indie dalam arti harfiah. Di kejauhan, perbukitan batu berbaris seperti punggung naga. Di kakinya, sungai sebening vodka meluncur menerjang bebatuan. Dari tempat saya berdiri, Toraja bagaikan gadis cantik berbalut tenun yang berjalan gemulai melewati pematang.

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Tanduk-tanduk kerbau yang menjadi hiasan di rumah Tongkonan. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Menengok sejarah, Rambu Solo jugalah yang memperkenalkan Toraja pada dunia. Syahdan, pada 1972, upacara kematian seorang raja digelar besar-besaran. Puang Sangalla disebut-sebut sebagai raja besar terakhir yang berdarah murni. Lebih dari 400 turis datang, termasuk tim dari National Geographic, serta duet Lawrence dan Lorne Blair yang sedang mendokumentasikan Indonesia dengan disponsori BBC dan Ringo Starr. “Upacara kematian Puang adalah ajang media internasional pertama. Rekamannya ditayangkan oleh televisi di sejumlah negara Eropa,” tulis Toby Volkman dalam Tana Toraja: A Decade of Tourism.

Sejak itu, industri pariwisata merekah. Pada 1976, sekitar 12.000 turis melawat, walau di masa itu perjalanan ke Toraja belum menjanjikan kenyamanan. Kakak beradik Blair misalnya, menghabiskan 14 jam berkendara dari Makassar dengan menaiki jip tentara. Perjalanannya menegangkan.

Di jalur rawan begal ini, wajar bagi sopir untuk menganut prinsip “lebih aman melihat daripada terlihat.” Saat mendapati kendaraan lain di kejauhan, lampu-lampu akan dipadamkan, hingga kedua mobil saling bersisian dalam gulita. Begitu tulis Lawrence Blair dalam Ring of Fire.

Memasuki 1980-an, Toraja kian jelas tertera di peta: hampir 200.000 turis datang. Pemerintah menetapkannya sebagai “primadona” Sulawesi. Gambar Tongkonan bahkan dicetak pada lembaran uang Rp5.000. Seiring itu, Toraja menikmati pertumbuhan hotel baru, ruas jalan baru, moda transportasi baru. Berbeda dari duet Blair, saya datang menumpang bus mewah yang sepertinya didesain untuk seorang rock star. Kursinya ditata dalam formasi 2-1 dan dilengkapi pemijat elektrik.

“Bus ini didatangkan dari Swedia,” kata pemiliknya. Pariwisata digadang-gadang sebagai masa depan Toraja. Lewat pariwisata, warga bisa mengail devisa guna menghidupi tradisi, termasuk menjaga rumah adat yang menuntut biaya perawatan tinggi. Lewat pariwisata pula, Toraja berharap mengikis demam merantau yang membuat banyak sawah terbengkalai. Tapi itu dulu. Usai bulan madu tourism boom yang gempita, pariwisata meratap masygul.

Menuju desa tenun Sa’dan, motor saya kembali meraung-raung. Baliho-baliho calon bupati bertaburan menebar janji. Di hadapan wajah-wajah rupawan mereka, jalan berkerawangan seperti papan yang digerogoti rayap. “Dulu, desa ini penuh turis. Saya sampai gak sempat makan,” Ibu Aminah bernostalgia pada masa lalunya yang gemilang. Kini, desanya sepi. Turis hanya datang di bulan-bulan liburan tengah tahun. Desa Sa’dan tidak lagi mencerminkan motif tenun Toraja yang bernyawa. Saya melewati ibu-ibu yang termenung muram, kemudian membayar tiket dan mengisi buku tamu. Turis terakhir datang dua minggu silam. Kemana mereka?

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Pembuat patung tau-tau di kawasan wisata Lemo. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo

Dunia Mengenal Toraja & 'Menghilangnya' Tau-Tau

Upacara kematian Puang Sangalla memang membuka pintu bagi dunia, tapi bukan cuma turis yang datang bertamu. Kolektor mulai merangsek untuk berburu artefak. Target mereka: tau-tau. Pada 1984, persis saat Toraja dideklarasikan sebagai destinasi “resmi” kedua setelah Bali, sebuah tau-tau dijual di sebuah galeri di Paris dengan harga $75.000. Empat tahun sebelumnya, Kompas memberitakan pencurian delapan tau-tau di makam tebing Lemo.

Bagaikan nisan tanpa aksara, tau-tau adalah totem suci yang dipandang sebagai representasi almarhum. “Menjual tau-tau seperti menjual nenek sendiri,” ujar seorang penjaga makam. Maraknya pencurian tak cuma menggemparkan, tapi juga mengherankan. Warga menempatkan makam di tebing-tebing tinggi sebagai respons atas penjarahan di masa lampau. Menjangkaunya butuh keahlian lokal. Siapa maling-maling lihai itu?

“Secara umum diasumsikan tau-tau dicuri dari tebing oleh anak kecil atau saudara dari para keluarga almarhum sendiri. Orang asing, kata warga, tidak bisa mengakses situs-situs pemakaman yang sulit dijangkau,” tulis Toby Volkman dalam jurnal American Ethnologist. Toby juga mengisahkan bagaimana makelar seni Eropa mengutus agen-agen lapangan yang dibekali lensa 300 milimeter untuk memotret tau-tau, kemudian menunjukkan hasilnya ke para kolektor. “Pada 1985, tau-tau, menurut banyak orang Toraja, hampir punah sepenuhnya.”

Raibnya banyak tau-tau mengguncang bisnis pariwisata. Turis datang dan mendapati bahwa tempat terbaik untuk melihat tau-tau bukanlah Toraja, melainkan galeri atau balai lelang di Eropa. Seorang turis Jerman yang kecewa bahkan sempat hendak menuntut Joop Ave, Dirjen Pariwisata kala itu, atas tuduhan promosi palsu.

Dan pencurian masih berlangsung. Di Kete’ Kesu’, kampung adat paling tersohor di Toraja, sebuah toko suvenir memajang beberapa tau-tau di ruangan belakang. Salah satunya terlihat kusam, tercampur tanah, berbaju compeng layaknya mayat yang baru bangkit dari kubur. Replika atau orisinal? Saya tak pandai menghitung umur kayu nangka.

“Usianya lebih dari 100 tahun,” kata si penjual. Saya menanyakan harganya dan si penjual menelepon rekannya, membuat transaksi ini terasa berlapis dan rahasia. “Jika lebih dari 100 tahun, berarti diambil dari makam?” tanya saya lagi berlagak bodoh. Si penjual tersentak, lalu menjawab gagap. Pencurian tau-tau bukan satu-satunya masalah. Industri pariwisata Toraja juga terpukul oleh fenomena global yang tak seorang pun mampu mencegahnya: modernisasi.

Hari baru dimulai saat saya mengunjungi kompleks makam Londa. Obyek andalan Toraja ini hanya didatangi lima turis, sudah termasuk saya dan fotografer. Saya melewati sejumlah keranda dan tabela berukir yang dipenuhi tulang-belulang, lalu memasuki gua alami di rahim tebing batu. Penjaga makam menyulut petromaks dan mengantarkan saya memasuki lorong yang penuh liku. Panoramanya mencekam. Sisa-sisa jasad bertaburan...

Transformasi Toraja; Memulihkan Pamornya Sebagai Destinasi Wisata
Rumah-rumah tradisional yang sempat menjadi primadona pariwisata Toraja. Foto: DestinAsian|Suryo Wibowo



Bagaimana Menuju Toraja; 
—Rute
Toraja bisa dijangkau dari Makassar dengan menaiki bus. Salah satu operatornya, Primadona (Jl. Perintis Kemerdekaan Km.13, Ruko Bukit Khatulistiwa Blok B/8, Makassar; 0811-4497-212), memiliki bus mewah dengan kursi yang menyerupai kelas bisnis pesawat. Ada dua jadwal keberangkatan: pukul 21:00 dan tiba pukul 06:00, atau pukul 09:00 dan tiba pukul 18:00. Pesawat sebenarnya tersedia, tapi jadwalnya kadang direvisi mendadak. Aviastar (aviastar.biz) melayani penerbangan dari Makassar menuju Bandara Pongtiku dua kali per minggu. 
—Penginapan
Selain menawarkan 134 kamar yang disebar dalam bangunan berbentuk tongkonan, Toraja Heritage Hotel (Jl. Kete Kesu, Rantepao; 0423/211-92; toraja-heritage.com) memiliki kolam renang yang fotogenik, serta menawarkan akses mudah ke desa-desa adat. Berdiri di atas lahan seluas delapan hektare, Misiliana Hotel (Jl. Pongtiku 27, Rantepao; 0423/212-12; torajamisiliana.com) menaungi dua kolam renang, ballroom, restoran, spa, serta 98 kamar. Hotel ini juga menawarkan pengalaman homestay: menginap di tongkonan tua yang telah disulap menjadi suite. 
—Makan & Minum
Restoran terbaik umumnya hanya terdapat di hotel. Salah satu yang berhasil menembus dominasi itu adalah Mambo (Jl. DR. Sam Ratulangi 34, Rantepao; 0423/211-34; mamborestaurant.co), restoran yang menyuguhkan beragam menu, termasuk masakan lokal pa’piong dan pamarrasan. Sarang hangout populer di kalangan turis, Café Aras (Jl. A. Mappanyukki 64, Rantepao; 0823-9627-5688), menawarkan bangunan yang sejuk di tengah kota Rantepao yang bising. Bagi penikmat kopi, dua tempat yang layak didatangi adalah Warung Kopi Toraja (Jl. Poros Makale, Rantepao; 0852-4824-7654) dan Hotel Pison (Jl. Pongtiku 2 No.8, Rantepao; 0423/213-44). 
—Aktivitas 
Situs-situs tua masih menjadi obyek andalan di peta wisata. Untuk menyaksikan menhir, pergilah ke Rante Kalimbuang di Bori’. Di Londa, kita bisa memasuki makam gua, sementara di Lemo kita bisa menyaksikan tau-tau dalam desain orisinal. Kampung adat yang paling tersohor, Kete’ Kesu’ lazim dijadikan tempat upacara-upacara besar. Dibandingkan desa adat lain, Buntu Pune’ relatif masih autentik. Kala di sini, carilah Marla, sarjana arkeologi yang lancar bercerita tentang kebudayaan Toraja, termasuk tentang benteng di samping desanya.
Desa-desa tenun terpusat di sisi timur laut, salah satunya Sa’dan To’ Barana. Bawa uang tunai jika ingin berbelanja. Jika ingin menyerap panorama Toraja yang paling karismatik, pergilah ke Batutumonga. Bawalah sepatu trekking, karena Anda pasti tergoda untuk mengarungi sawah dan lembah hijaunya. 
—Informasi 
Menyewa pemandu adalah metode terbaik. Tapi jika ingin berwisata secara mandiri, Anda bisa menyewa mobil, kemudian menggali informasi dari pihak DMO (visittoraja.com) atau Swisscontact (Jl. Makula’ Tampo, Sangalla, Makale Utara; 0423/264-43; swisscontact.or.id). Peta wisata baru belum dicetak, tapi versi lamanya masih tersedia di kantor Dinas Pariwisata Toraja Utara (Jl. Ahmad Yani 62A, Rantepao; 0423/212-77). Rambu Solo umumnya digelar di tengah tahun. Upacara kematian ini menampilkan prosesi pengorbanan kerbau dan babi. Tamu sepatutnya memberikan sesuatu kepada keluarga almarhum. Idealnya, berupa seekor babi, tapi kita bisa menggantinya dengan satu slof rokok atau beberapa kilogram gula pasir. Siapkan pakaian hitam jika ingin hadir.


Oleh: Cristian Rahadiansyah

Foto oleh: Suryo Wibowo



Sumber: DestinAsian

Pemakaman di Tebing dan Kearifan Lokal Suku Toraja Mengolah Alamnya

Pemakaman di Tebing dan Kearifan Lokal Suku Toraja Mengolah Alamnya
Kuburan di tebing batu khas suku Toraja, Kete Kesu, Toraja Utara. Foto: ist
Hingga saat ini masyarakat Toraja masih memiliki kebiasaan menguburkan jenazah di dalam tebing bukit kapur. Selain melestarikan adat istiadat, rupanya hal ini untuk menjaga wilayah agar tidak habis terjamah. Wilayah Toraja sebagian besar terdiri dari bebatuan karts (atau tepatnya dikelilingi bukit kapur).

Menyimak pesan arif dari Sang Kepala Adat Kete' Kesu' tentang tradisi permakaman, kebersamaan, dan pluralisme di Toraja.

“Kenapa kami dimakamkan di tebing batu, atau di dalam gua?” ujar Layuk Sarungallo yang sebagian giginya sudah ompong. “Kalau kami dimakamkan di tanah, kami tidak bisa hidup karena tidak bisa berladang, tidak bisa bersawah, tidak bisa ada peternakan.”  

Pemakaman di Tebing dan Kearifan Lokal Suku Toraja Mengolah Alamnya
Layuk Sarungallo, Kepala Adat dari Tongkonan Kete' Kesu, Toraja, Sulawesi Selatan. Layuk mengisahkan teladan dari leluhurnya di lumbung padi rumah tongkonan. Dalam tradisi Toraja, lumbung merupakan tempat bersosialisasi dan tempat pertemuan keluarga. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)

Sembari bersila di bawah lumbung padi tinggalan leluhur, Layuk mengungkapkan bahwa Toraja merupakan dataran tinggi yang terdiri atas bukit-bukit batu dan sebagian besar adalah tanah non-produktif.  Pemahaman tentang kondisi alam Toraja itulah yang membuat leluhur Layuk memberikan teladan bagi penerus mereka untuk memakamkan jenazah di tebing-tebing batu _tradisi yang berlanjut hingga sekarang.

Layuk merupakan Kepala Adat Tongkonan dari Kete’Kesu di Kabupaten Toraja Utara. Pagi itu dia dan keluarga besarnya tengah merayakan syukuran atas pembaptisan salah seorang anggota keluarga mereka, sekaligus merayakan kehangatan Natal.

Meskipun Aluk  Todolo _atau agama nenek moyang_ tidak populer lagi dalam masayarakat Toraja, teladan dan filosofi hidup mereka masih berlanjut hingga sekarang. Kini, mayoritas warga Toraja beragama Kristen Protestan.

Pemakaman di Tebing dan Kearifan Lokal Suku Toraja Mengolah Alamnya
Barisan rumah adat Tongkonan Kete Kesu. Foto: Andina Laksmi
Pemakaman di Tebing dan Kearifan Lokal Suku Toraja Mengolah Alamnya
Salah satu rumah adat di Tongkonan Kete' Kesu, Toraja, Sulawesi Selatan. Terdapat enam rumah adat, masing-masing memiliki fungsi dan kedudukan dalam sistem sosial masyarakat Toraja. Banyaknya tanduk kerbau melambangkan lencana atau status sosial dalam masyarakat. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)

Tongkonan tinggalan leluhur Layuk merupakan salah satu yang tertua di masyarakat Toraja dan kini menjadi tujuan wisata unggulan Kabupaten Toraja Utara.  Dalam tradisi Toraja, rumah tongkonan merupakan satu kompleks rumah adat, berikut lumbung padi _simbol masyarakat agraris. Tongkonan Kete’ Kesu’ memiliki enam rumah adat dan dua belas lumbung padi. Semuanya berjajar rapi menghadap utara-selatan.

Di sekitar kompleks rumah pusaka itu terdapat menhir-menhir yang digunakan untuk upacara kematian.  Sementara di belakangnya menjulang tebing karst yang digunakan sebagai permakaman keluarga sejak ratusan tahun silam. Semakin tinggi lokasi liang tebing, semakin tinggi pula status sosial keluarga. Sementara, di kaki tebing terdapat beberapa bangunan beratap genting yang ruang dalamnya digunakan untuk permakaman, disebut patane.

Tampaknya Layuk seorang yang arif. Dia menyadari bahwa sekitar lima persen warganya merupakan muslim. Kemudian dia membuat salah satu bangunan makam yang di dalamnya terdapat satu petak yang tidak dipelur dengan semen. “Biar keluarga saya yang Muslim bisa satu tempat  dengan yang Kristen, tanpa harus melanggar pemakaman adat.” 

“Itu yang kami pentingkan,” Layuk berkata. “Kami jaga hubungan kekeluargaan yang begitu kental. Kalau kami terpisah, hubungan emosional kami selama hidup akan sia-sia. Untuk apa kita bertikai? Kita adalah satu!”

Kemudian seorang saudaranya yang berpeci menghampiri kami. Seorang kawan seperjalanan bertanya kepada Layuk, apakah saudara tersebut adalah seorang muslim. Sembari bersandar pada salah satu tiang lumbung, Layuk berkata, “Kami tafsirkan, di sini peci adalah topi nasional.”

Pemakaman di Tebing dan Kearifan Lokal Suku Toraja Mengolah Alamnya
Sebuah celah gua di Kete' Kesu. Dalam tradisi Toraja, ruangan gua menjadi salah satu peristirahatan terakhir. Tradisi yang masih berlanjut hingga kini. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)

Pemakaman di Tebing dan Kearifan Lokal Suku Toraja Mengolah Alamnya
Tradisi pemakaman Toraja di tebing karst Kete' Kesu'. Semakin tinggi letak liang di tebing, semakin tinggi pula status sosial keluarga di masyarakat. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)

Pemakaman di Tebing dan Kearifan Lokal Suku Toraja Mengolah Alamnya
Patane, makam keluarga yang berbentuk bangunan, biasanya diisi oleh rumpun keluarga.  Foto: Andina Laksmi


Sumber: Artikel dan Foto dikutip dari halaman National Geographic Indonesia yang ditulis oleh Mahandis Yoanata Thamrin dengan judul "Pelajaran Berharga dari Toraja"

Guna menyebarluaskan infomasi ini kepada masyarakat khususnya keturunan Toraja yang jauh diperantauan yang rindu mengenal tanah leluhurnya maka artikel ini kami posting kembali di blog yang khusus membahas tentang kebudayaan Toraja ini. Salam

Mengapa Kerbau Toraja Begitu Istimewa

Mengapa Kerbau Toraja Begitu Istimewa
Tedong Bonga adalah simbol prestise masyarakat Toraja. Foto: PF-PPWI | Anton Vincent Acvara **
Keistimewaan Kerbau Toraja

Jika di sebagian wilayah di Indonesia kerbau hanya dipandang sebagai hewan ternak dan sering kali ditemukan berkubang lumpur di sawah, tidak demikian halnya dengan kerbau yang ditemukan di sekitar kehidupan sehari-hari masyarakat Toraja. Bagi mereka, kerbau memiliki posisi istimewa dan menjadi salah satu simbol prestise dan kemakmuran.

Dalam upacara adat Toraja seperti Rambu Solo, kerbau memegang peranan sebagai salah satu peranti utama. Kerbau digunakan sebagai alat pertukaran sosial dalam upacara tersebut. Bagi masyarakat Toraja, jumlah kerbau yang dikorbankan menjadi salah satu tolok ukur kekayaan atau kesuksesan anggota keluarga yang sedang menggelar upacara adat. Kebanggaan akan hal tersebut terlihat dari jumlah tanduk kerbau yang dipasang pada bagian depan Tongkonan (rumah adat tradisional Toraja) keluarga penyelenggara upacara Rambu Solo.

Bentuk fisik kerbau yang oleh masyarakat Toraja disebut tedong itu berbeda dengan yang banyak ditemukan di kawasan lainnya. Kerbau Toraja rata-rata berbadan kekar dan beberapa di antaranya memiliki kulit belang _oleh orang Toraja disebut Tedong Bonga (kerbau jenis ini merupakan spesies endemik) serta tanduk memanjang. Dengan berbagai keistimewaan tersebut, tidak heran jika harga seekor kerbau yang kondisi fisiknya dinilai sempurna oleh masyarakat setempat dapat mencapai harga ratusan juta per ekor.

Agar tubuh kerbau menjadi kekar dan kuat, selain rumput yang bagus beberapa suplemen seperti susu dan belasan butir telur ayam menjadi santapannya sehari-hari. Kekuatan dan postur tubuhnya akan sangat berpengaruh pada nilai jual serta daya tempur kerbau di arena adu kerbau.

Kerbau yang sering muncul sebagai pemenang memiliki nilai jual lebih tinggi dan tentunya penggemar tersendiri di arena adu kerbau _pasilaga tedong_ yang digunakan sebagai ajang hiburan rakyat bagi masyarakat sekitar. *1

Mengapa Kerbau Toraja Begitu Istimewa
Kerbau dalam Rambu Solo upacara adat masyarakat Toraja. Foto: Mongabay | Sharif Jimar ***
Kerbau dalam Rambu Solo'

Bagi masyarakat Tana Toraja di Sulawesi Selatan (Sulsel), meyakini kerbau adalah kendaraan bagi arwah menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Kerbau pun memiliki kedudukan unik bagi masyarakat Toraja. Ia diternakkan dan sebagai alat pembajak sawah, sekaligus dianggap hewan sakral dan simbol status sosial.

Kerbau bagi orang Toraja dinilai sesembahan tertinggi bagi masyarakat adat Toraja yang meninggal, melalui ritual rambu solo’. Rambu Solo’ ini bisa dilakukan berhari-hari, bahkan ada berminggu-minggu, dan dihadiri ribuan warga. Salah satu ritual penting adalah penyembelihan kerbau.

Dalam kepercayaan Aluk To Dolo _agama Toraja kuno_ rambu solo’ dilakukan keluarga bangsawan. Makin tinggi nilai kebangsawanan, makin besar dan mewah pula upacaranya. Belakangan ritual ini bisa juga oleh non bangsawan, tetapi memiliki keuangan cukup.

Dalam ritual kematian ini, kerbau yang dikorbankan sangat tergantung hasil rembuk keluarga besar. Dalam rembuk ini, biasa juga ditetapkan kapan ritual dilaksanakan.

Hal menarik dalam ritual ini adalah jenis kerbau yang dikorbankan ternyata memiliki kasta beragam, antara lain tedong bonga, tedong pudu’ dan tedong sambao’. Tedong bonga adalah kerbau dengan kasta tertinggi. Dinamai bonga karena memiliki belang di sekujur tubuh. Tedong bonga ini memiliki beberapa jenis, didasarkan jenis dan belang pada tubuhnya.

Ada bonga sanga’daran, yaitu kerbau belang bagian mulut didominasi warna hitam. Ada juga bonga randan dali’ jika warna alis mata hitam. Juga bonga lotong boko’ jika memiliki warna hitam di bagian punggung. Tedong bonga dengan nilai tertinggi adalah tedong saleko atau kerbau belang terbaik. Kulit didominasi warna putih pucat, dengan bercak atau belang hitam di sekujur tubuh. **2

Mengapa Kerbau Toraja Begitu Istimewa
Kerbau dalam upacara Rambu Solo yang diadakan di Tongkonan Karuaya. Foto: priskatandi.wordpress|Priska Tandi ****

Nahh ini yang paling menarik Ma'Pasilaga Tedong (adu kerbau) ;

Mengapa Kerbau Toraja Begitu Istimewa
Adu kerbau di Toraja menjadi tontonan menarik bagi warga sekitar. Foto: GarudaMagazine | Fadil Aziz
Mengapa Kerbau Toraja Begitu Istimewa
Tradisi unik Tedong Silaga (adu kerbau) di Toraja. Foto: Flicker.com|Munir Mukhsin
Mengapa Kerbau Toraja Begitu Istimewa
ADU KERBAU. Warga Toraja menyaksikan Mappasilaga Tedong atau adu kerbau di Deri, Toraja Utara, Sulsel, Rabu (29/10). Adu kerbau merupakan salah satu rangkaian adat dalam tradisi Rambu Solo atau upacara pemakaman.
FOTO ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang/ed/ama/10

biar lebih asik lagi lihat video tedong silaga disini:

Adu Kerbau Toraja : Ritual Adat Mappasilaga Tedong